Sudah mengenal istilah androgini belum ? jangan sampai kalian belum faham sudah negative thingking dulu ya sama karakter baru dunia gender, yuk coba kita ulas mengenai androgini yang ibarat dalam penyajian tokoh memiliki karakter protagonis.

Androgini adalah istilah yang berasal dari kata Yunani ανήρ (anér) atau andro yang berarti manusia/ laki-laki dan γυνή (guné) atau gyne yang berarti perempuan.

Perkembangan peran gender adalah konsep androgini, yaitu suatu konsep yang merupakan integrasi dari diri maskulin dan ciri feminine.

Androgini adalah perkembangan peran gender dimana diri maskulin terintegrasi ke dalam ciri feminin. Hal ini membuat individu androgini dapat memunculkan karakter maskulin dan feminin dengan nilai yang kuat bahkan memungkinkan untuk muncul secara bersamaan.

Konsep androgini di Indonesia masih awam atau belum dikenal oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Dapat dikatakan bahwa hanya sebagian kelompok dalam lingkup eksklusif yang mengerti dan mengetahui tentang androgini, seperti dalam dunia fashion dan seni.

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia dengan segala keyakinannya terhadap peran gender yang harus sesuai dengan jenis kelamin (ideologi heteronormativitas), menyatakan bahwa androgini adalah sebuah penyimpangan. Hal ini menimbulkan pro dan kontra di masyarakat Indonesia dan memberikan stereotipkan bahwa androgini adalah kelompok homoseksual dan transgender.

Sebelumnya dua karakter dalam dunia gender yaitu feminim dan maskulin, sejak lahir anak laki-laki dan perempuan terisolasi untuk bertingkah laku melalui cara-cara yang sesuai dengan jenis kelaminnya dengan standar masyarakat dan cenderung menolak penerimaan dua kutub yaitu tingkah-laku yang dapat diterima sebagai maskulin dan dapat diterima sebagai feminine adalah konstruksi yang salah, karena standart tinggi peran gender yang ditetapkan dalam kehidupan sosial tidak pernah terpisah dari akulturasi budaya bahkan agama, hal inilah yang memicu rentannya stigma buruk mengenai peran individu dalam struktur sosial, bahkan penyifataan setiap individu terkesan memiliki takaran, ini berarti kebebasan yang terintegritas dalam jati diri setiap individu tidak mutlak menjadi hak setiap individu.

Bahkan, kini konstruksi sosial membentuk peran gender dimasyarakat harus sesuai karakteristik biologis, dan lebih ekstrem karena konstruksi yang dibentuk berdasarkan jenis kelamin justru sangat tidak rasional. Identifikasi penampilan dari laki-laki dan perempuan cenderung sangat berbeda, laki-laki cenderung ditonjolkan dalam aspek kekuatan fisik, yaitu memiliki tubuh atletis berotot, tubuh yang kuat, terampil, tidak memakai make up, gesit, berambut pendek, dan tidak mengenakan perhiasan.Sedangkan perempuan digambarkan cantik, berambut panjang, memakai make up, langsing, dan kulit halus.

Menurut Fakih, konsep gender merupakan suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Terbentuknya perbedaan-perbedaan peran gender dikarenakan dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikonstruksi secara sosial atau kultural, melalui ajaran keagamaan maupun negara.

Gender menjadi persoalan karena secara sosial telah melahirkan adanya perbedaan peran, tanggung jawab dan hak di dalam masyarakat. Kedua konstruk sosial peran gender di masyarakat dibentuk tradisi yang memperkenalkan keberadaan gender atau jenis kelamin selain laki-laki dan perempuan. Suku Bugis, Sulawesi Selatan mengenal lima jenis kelamin yaitu lelaki, perempuan, calalai atau perempuan lemah gemulai, calabai atau perempuan tomboi, dan bissu atau bukan laki-laki dan bukan perempuan.

Bissu adalah androgini, seseorang yang terlihat laki-laki maupun perempuan. Selain itu melalui kesenian tarian Indonesia juga mengenal adanya peran-peran cross gender seperti tari lengger lanang dari Banyumas dan ludruk dari Jawa Timur.

Konsep androgini merupakan perkembangan peran gender, yaitu konsep dimana diri maskulin terintegrasi ke dalam ciri feminine, tidak ada polarisasi feminin dan maskulin karena keduanya independen dan merupakan dua dimensi yang terpisah.

Namun oleh beberapa kelompok yang memiliki stereotip negatif dan cenderung didiskriminasi dimaknai berbeda. padahal hal ini memungkinkan seorang individu dapat memiliki skor yang sama-sama tinggi dalam dua karakteristik, individu tersebut adalah androgini. sehingga Integrase peran gender melalui konsepsi adrogini membentuk bagian secara lahiriah dan batiniah yang mana seseorang maskulin namun tidak sepenuhnya seorang laki-laki, dan bahkan condong ke arah tipe feminin namun tidak sepenuhnya seorang perempuan, konsepsi inilah yang seharusnya dikostruk dalam peran sosial baik laki-laki maupun perempuan sehingga integrasi perilaku keduanya meninggalkan unsur diskriminatif, pelabelan, subordinasi bahkan marginalisasi.

Gaya androgini dalam budaya dan lingkungan di Indonesia masih sangat tabu oleh sebagian masyarakat, dan hal ini sering dikaitkan oleh waria dan orientasi seskual gay atau homoseksual karena penampilannya yang memadukan antara maskulin dan feminin baik dalam cara bersikap dan penampilannya. Pro dan kontra ini juga membuat adanya stereotype dan bullying karena tidak ada pemahaman yang benar mengenai seorang androgin.

Misalnya youtuber Jovi Adhiguna Hunter atau yang lebih sering disapa Jovi. Ia merupakan seorang vlogger yang unik dalam penampilannya. Ia sering menggunakan pakaian perempuan dan terkadang menggunakan make up, memiliki selera berbeda dari kebanyakan orang yang mengenakan pakaian yang sesuai dengan dengan jenis kelamin dan gendernya, selayaknya kebebasan berekspresi sewajarnya tidak ada masalah dari hoby atau bahkan kecenderungan seseorang dalam berkreatifitas, pemaknaan seperti inilah yang harusnya diterapkan dalam polarisasi peran gender.

Oleh karena itu, peran gender yang ada dan dipercayai masyarakat pun tidak bias saklek dengan konstruksi sosial yang lampau dan terintegrasi dalam budaya patriarki.

Identitas gender dibagai atas dua dimensi yaitu, subjective dimension adalah rasa pribadi tentang diri sendiri dan ascribed dimension adalah apa yang dikatakan orang, pembelajaran peran gender dan identitas gender melalui konsep androgini sebagai kebebasan dalam berekspresi.

Jika masih beranatomi laki-laki harus maskulin dan bila beranatomi perempuan harus feminine tanpa memahami bahwa peran gender tidak memiliki tatanan paten dan gender bukan dogma yang sakral, karena gender merupakan relatifitas individu yang harusnya menanamkan sikap saling melengkapi, saling berkolaborasi, dan dimanifestasikan dalam self-assertion (Penilaian diri), self protecation (proteksi diri), self-expansion (perluasan diri) inilah peran gender yang harusnya diterapkan dan difahami oleh masing-masing individu.

Dengan demikian, androgini mampu melawan mitos-mitos mengenai peran gender heteronormativitas laki-laki sebagai maskulin dan perempuan sebagai feminine, tanpa klasifikasi peran gender karena hanya membentuk superioritas individu yang menindas hak subjek lain dalam peran sosial. Orientasi peran androgini dapat meningkatkan penyesuaian diri yang lebih baik dan kesehatan mental yang positif, karena identifikasi peran androgyny lebih terbuka untuk menampilkan tugas-tugas feminine dan maskulin.

Sewajarnya androgini dapat diterapkan sebagai model baru yang menganggap manusia sempurna ialah tanpa ketentuan yang dilegitimasi oleh budaya ditentukan sebagai maskulin dan feminine harus berintegrasi pada setiap orang. Sehingga pemahaman peran gender tanpa sekat konsepsi yang membatasi ruang hak setiap individu dapat memainkan vital transpormatifnya dalam rangka merekonstruksi idiologi sosial gender yang meminjam istilah Dahrendorf memiliki relasi kuasa yang seimbang antara laki-laki dan perempuan.

Secara utopia representase konstruk sosial masyarakat yang punya relasi kuasa seimbang dalam perspektif gender dapat dideskripsikan sebagai masyarakat tanpa ketimpangan gender

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here