Tepat jam nol-nol dini hari.
Aku menerjang sunyi dalam kegelapan malam.
Ku hempas malas yang beitu beringas.
Ku bangun asa dalam doa.
Dalam khusyu’ku, kurayu Tuhan untuk membantuku membayar hutang secangkir kopi di warung Cak Malik.
Lalu kurayu Tuhan untuk sudi merevisi mukaku yang terkesan antik.
Tak lupa, kupanjatkan doaku untuk Si Narsih agar selalu sehat, cantik, cerdik, dan menarik
“Tak ada waktu lagi”.
Suara yang tiba-tiba menggelegar dari atas langit.
Aku terdiam di sudut sajadah menatap kaget ke arah cendela kamarku.
Tidak banyak yang ku lihat.
Hanya mereka yang tidur dalam lelapnya.
Hanya para satwa yang terpejam dalam suaranya.
Hanya pepohonan yang tercabut dari akarnya.
Hanya gunung-gunung yang mulai menahan nafasnya.
Hanya bumi yang tersentak bangun dari kantuknya.
Hanya langit yang bersiap membelah tubuhnya.
Hanya semesta yang berkemas untuk segera menggulung hamparannya.
Dan hanya Isrofil yang bersiap meniup sangkakalanya.
“Tuhan kami sudah siap”.
Kata salah satu diantara mereka.
“Tunggu sampai waktu menyelesaikan tugasnya”.
Kata Tuhan sambil bergumam lirih.
“Ayolah, segeralah,…segeralah kembali kepadaku, sudah tidak ada waktu lagi”.
Lalu aku terbangun dan tertegun, dalam sesak dan sesal.
Tak sanggup berkata, hanya air mata yang bicara.
(18/ 05/ 2020)









