Akhir-akhir ini, isu soal patung Kongco Kwan Sing Tee Koen atau Kwan Kong di Tuban menjadi perbincangan yang hangat. Pasalnya patung dengan ukuran sekitar 30 meter di area Klenteng Kwan Sing Bio tersebut dinilai sebagai budaya asing yang dapat melunturkan rasa nasionalis dan cinta tanah air. Beberapa ormas dari luar daerah Tuban menggelar aksi dengan mengatasnamakan rasa nasionalis menuntut pembongkaran patung tersebut. Sedangkan masyarakat sekitaran tetap guyub rukun, menikmati kopi yang warnanya masih hitam di depan klenteng sambil menikmati semiliran angin pantai utara.

Aksi beberapa ormas yang katanya paling nasionalis di depan Kantor DPRD Jatim itu menuntut agar patung segera dibongkar dengan alasan tidak terkait dengan sejarah bangsa Indonesia, pula dianggap bukan merupakan ritual sebuah agama yang diakui di Indonesia. Sempat muncul broadcast-broadcast yang tersebar, dengan isi seruan aksi yang mengatasnamakan 50 ormas lebih beberapa hari sebelum aksi dimulai, nyatanya ketika aksi di lapangan hanya puluhan orang saja yang aksi. Artinya yang setuju patung itu tetap ada jumlahnya lebih besar dari itu.

Ormas-ormas paling nasionalis ini mungkin kurang piknik atau kurang berdiskusi lebih jauh, sehingga tidak mengerti bahwa Kwan Sing Tee Koen atau Kwan kong dipuja juga oleh agama Buddha bermazhab Mahayana. Kwan Kong dianggap sebagai Boddhisatva Satyakalam yakni dewa pelindung. Jadi jika dikatakan bukan ritual keagamaan merupakan persepsi yang kurang tepat. Agama Buddha merupakan salah satu agama yang ada di Indonesia. Lantas siapa yang sebenarnya mencederai konsensus 4 pilar (Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, ) ?

Jika dikatakan tidak mencerminkan kebudayaan bangsa Indonesia, semua agama yang diakui di Indonesia merupakan agama yang berasal dari luar kebudayaan nusantara, sedangkan kepercayaan nenek moyang adalah animisme dan dinamisme. Bukan berarti harus membubarkan semua agama yang dianggap asing kan? Lantas balik lagi semua anak bangsa harus memeluk animisme dan dinamisme agar sesuai dengan kebudayaan asli nusantara.

Pendirian patung ini tidak lain dan tidak bukan, hanyalah sebagai lambang saja, selain itu sebagai objek wisata untuk menarik para pengunjung. Karena sejatinya Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban terbuka untuk umum dan semua kalangan. Baik para umat yang ingin bersembahyang ataupun para pengunjung yang hanya ingin lihat kemudian sekedar foto-foto. Warga sekitaran pun tak ada masalah dengan patung ini, tak mengganggu kehidupan warga sekitar. Yang menjadi masalah adalah ketika orang luar dari warga sekitar yang merasa terusik.

Polemik ini membuat patung yang diresmikan oleh Ketua MPR RI Zulkifli Hasan akhirnya ditutup menggunakan kain putih oleh pihak Kelenteng untuk membendung kemungkinan terburuk. Sehingga membuat patung terlihat seperti pocong dalam bentuk raksasa. Mungkin jika terlihat seperti pocong, para ormas-ormas yang mengaku nasionalis ini akan lebih segan untuk membongkarnya.

Ketahuilah patung itu hanya sebuah lambang, tak mungkin mampu mengganti ideologi negara yang absolut. Tak bisa melakukan agitasi yang dapat mempengaruhi masyarakat agar mengganti ideologi negara. Jadi tak usah khawatir soal ideologi negara. Patung itu berdiri atau dibongkar ideologi negera akan tetap sama. Bangsa akan menjadi besar dengan konsensus 4 pilar. Jadi jangan bawa-bawa kata nasionalis untuk mencederai konsensus 4 pilar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here