All human being are born free and equal in dignity and right”  _Declaration Universal Human Right 1948

Orientasi seksual yang berbeda dalam masyarakat masih sering kali menjadi bahan cemooh, lebih dari itu manusia di negeri Majemuk ini masih menganggap orang yang memiliki orientasi seksual yang berbeda sebagai sampah masyarakat. Maka tak ayal, timbul istilah-istilah yang sejatinya pengkultusan “Benar” atau “Suci” pada diri mereka sendiri dengan solusi;  Mereka harus dapat sanksi, atau bahkan yang lebih keji dari itu disahkannya pelanggaran HAM berat pada LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual & Transgender) dengan dalih meluruskan prilaku menyimpang.

Satu contoh kasus pada D*** (inisial) yang dengan tegas dan berani jujur pada sang Ayah akan orientasi sex nya sebagai seorang lesbi, tanpa menimbang kejujuran dan “berbeda” sebagai niscahya. Sang Ayah menyuruh seorang yang notabenenya masih paman untuk memperkosa sang anak dengan tujuan agar sang anak berubah.

Kasus diatas hanya secuil kisah, masih banyak sekelompok orang yang memiliki perbedaan orientasi sex yang mendapat kecaman, pelecehan, cemooh dan cacian dan terputus dari relasi sosialnya hanya karena berani jujur akan dirinya, selebihnya, karena kondisi yang jauh humanisme itu banyak yang tak berani menampakkan diri.

Orientasi Seks

Heteronormatif yang berlaku di masyarakat mengamini heteroseksis (hubungan romantis-seksual laki-laki dengan perempuan) sebagai hubungan yang sah dan benar. Akibatnya kemudian, hal-hal yang out of the track dianggap sebagai dosa, terlebih perilaku diluar tersebut dikukuhkan dengan menggandeng dalil-dalil agama tanpa memandang hak asasi manusia.

Sampai saat ini, LGBT

*Lesbi : Perempuan menyukai perempuan

*Gay: Lelaki mencintai sesamanya

*Biseksual: Perempuan menyukai laki-laki juga kaumnya, begitupun laki-laki sesama jenis dan juga menyukai perempuan.

Masih terasing dari dunia yang sejatinya juga miliknya, hak-hak sebagai warga negara yang juga harus dilindungi UUD 1945 masih sulit didapat. Perjumpaan sex dan HAM tak lain ingin mengembalikan hak siapapun sebagai manusia, tanpa mengenal ras, suku, agama, gender bahkan orientasi sex.

Sore itu, (Senin, 7/8) polemik berkenaan dengan pro dan kontra seksulitas di indonesia mengawali diskusi “Seksualitas & HAM”; disampaikan dengan jeli oleh Dinda, mahasiswa Bahasa Inggris UIN Maliki Malang.

Selaku pegiat Pusat Study Gender, Ulfa Muhayani mengamini jika sex & kesetaraan gender masih sukar diterima oleh masyarakat, dalam hal ini orientasi seksual yang deviance lebih sulit lagi karena berhadapan dengan nilai masyarakat & hampir disemua agama yang secara tegas melarang penyimpangan “Sex”.

Namun demikian, LGBT patut tetap mendapatkan haknya sebagai warga negara Indonesia “Mereka harus mendapatkan hak kesehatan, pendidikan, hak pilih dan fasilitas pelayanan publik lainnya, karena kita harus memiliki pandangan humanity terhadap mereka sebagai manusia, yang artinya; biarlah seks menjadi privasi mereka, namun kita tetap bisa menjadi relasi yang baik will it’s partner in work or other” tutur Dosen Bahasa Inggris itu.

Kesulitan itu, sama dengan ketaksetaraan yang diusung Feminist pada fase awal, masyarakat  (atau lebih banyak lelaki) mengalami sebuah ketakutan akan kebenaran baru. Kemudian sinisme muncul pada para perempuan yang berani berkelekar menyuarakan ketidak adilan, event though “Feminisme adalah alat untuk mencapai etika yang tidak timpang, Gender it means we share the power, dan istri adalah partner suami” ucap lugas ibu dua anak itu. Hanya saja kemudian, wacana yang dikembangkan atas sinisme mendegradasi itu semua, perempuan tak mau kalah, berebut kuasa atau hal negatif lainnya yang terus dinegasikan pada feminist.

Senada dengan Ulfa, Hayyik Ali Muntaha pembicara kedua yang merupakan pegiat sosial yang bergerak pada pendampingan buruh pada sore menjelang Gerhana itu memaparkan “para pekerja perempuan selain melawan kapitalisme yang membelenggu dirinya, ia harus melawan arogansi patriarki yang menyeret tubuhnya sebagai makhluk –reproduksi sosial-“ tukasnya.

Diakui atau tidak, secara lahiriah Perempuan & Laki-laki memang selamanya tidak akan sama, namun hak mendapatkan royalty akan keringat pembagian kerja harus seimbang dan tidak timpang. Selama ini yang banyak terjadi dalam sebuah perusahaan baik korporasi besar seperti pabrik atau kecil, buruh perempuan selalu dikesampingkan hak-hak normatifnya; cuti haid, melahirkan, dan gaji setimpal. Alih-alih mendapatkan itu semua saat bersuara, tanpa melihat pengabdian, sang pemilik pabrik akan memecat atau lebih parah meng-kriminalisasi perempuan yang berani menuntuk hak, “Saya pernah mendampingi buruh pabrik Tobacco, seorang buruh perempuan yang sudah 25 tahun bekerja dengan mudah dipenjara karena menuntut hak, tak ada ganti rugi, malah dia harus dibui, sebagian malah harus rela menjadi pekerja dengan harga murah, mau bagaimana lagi segala tumpu kehidupan dapur ditimpakan pada “Ibu” oleh kebanyakan rumah tangga” ucapnya.

“Peneguhan sistem Patriarki sengaja dilakukan oleh kapitalis untuk mempertahankan tenaga kerja murah dan gratis dengan membagi kelas pekerja berdasarkan jenis kelamin” timbalnya lagi.

Saat ini sebagian aktivis feminist sudah mendapatkan space untuk bergerak, namun mampukah sebagian kecil ini juga menyuarakan hati perempuan lainnya yang tertindas dipelosok sana? dan mampukan feminist menyalurkan virus kebaikan sebagai kemerdekaan atas perempuan. Satu statement penutup oleh lelaki yang akarab di sapa Hayyik itu.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here