Bukan Mahbub Junaidi kalau tulisannya tidak mengkritik dan menggelitik. Ia adalah sosok yang tidak diragukan lagi di dunia kepenulisan. Segala kritik ia tuangkan dengan sindirian dan guyonan untuk melawan rezim oligarki.

Status komunis; eh, kolumnis maksudnya,  sangat tepat disematkan dalam diri Mahbub. Berbagai opininya bertengger di koran atau majalah terkemuka, seperti kompas dan tempo. Hingga pada akhirnya opini pilihannya dikumpulkan dan dibukukan menjadi sebuah buku yang berjudul Asal Usul dan Kolom Demi Kolom.

Selain itu, penulis menemukan kumpulan opini Mahbub dalam buku Fatwa Tukang Becak, kumpulan cerita pencerah seputar masalah – masalah sosial,  terbitan Sega Arsy.  Berbagai opini penulis tersohor Indonesia ada di dalamnya.  Ada Emha Ainun Najib, Goenawan Mohamad, Mahbub Junaidi, Mohammad Sobary, Kuntowijoyo, Ahmad Tohari, Putu Wijaya dan Arswendo Atmowiloto.

Cerita pencerah mahbub terdiri dari empat judul; dinamisasi via binatang, sekitar peranan mulut, kolumnis dan mengunyah strategi. Empat kolom itu tidak luput dari anekdot dan kesatirannya. Semuanya adalah kritik Mahbub di era orde baru.

Kolom pertama, Dinamisasi Via Binatang. Mahbub mengawali kritiknya kepada Mukti Ali selaku Menteri Agama kala itu, terlihat dari judul yang dibuat.  Ia menilai ada upaya pendinamisasian pesantren dengan binatang.  Bagaimana bisa binatang melakukan dinamisasi dilingkup pesantren?

Pesantren menurut Gus Dur tahun 1972 adalah subkultur.  Beberapa langkah modernisasi dilakukan oleh Mukti Ali selaku Menteri Agama. Urusan pesantren menjadi lingkup kerjanya.

Mukti Ali yang menjabat menteri sejak 1971 itu, di tahun kedua ia mengeluarkan kebijakan yang modernis menurutnya. Melalui SKB menteri agama dan menteri pertanian/ perikanan, pesantren akan dibuat peternakan yang termanajerial. Pesantren akan dijadikan ladang produksi ikan dan unggas. Menurut Mukti, santri harus mandiri, biar tidak malas, lamban dan kikuk.

Ada beberapa kritik menggelitik mahbub dalam kolom ini.  Pertama,  jika Mukti Ali mau melakukan pembaharuan islam dengan modernisasinya, tentu alumni McGill Kanada satu ini, tidak modern sendiri dong, karena toh tidak ada faedahnya. Kenapa juga pesantren yang dijadikan sasaran ekonomi-produksi, dengan dalih kaum santri adalah konsumen terbesar. Jika logika demikian digunakan, bagaimana dengan mahasiswa? Mereka belum tersindir kalau kerjanya hanya tidur-bangun-makan-berak.  Kalau asal konsumen-konsumenan,  apalah bedanya. Menteri Mashuri saja tidak pernah berkesimpulan sebaiknya dikirim anak ayam atau kambing ke kampus-kampus. Kedua, jika Mukti seorang ekonom dengan keahlian banding-membanding agama, tentu ia telah melihat kehidupan secara terbalik. Ketiga, kesulitan yang akan dihadapi Mukti adalah menderasnya permintaan bibit binatang ternak, mesin penetas atau pemberantas penyakit. Mukti lupa tidak memperhitungkan semua, cara mengatasinya tentu dengan memperbanyak dana, sebab modernisasi pun perlu ongkos.

Modernisasi yang dilakukan Mukti Ali di pesantren dianggap Mahbub terlalu berlebihan.  Ia melakukannya tanpa perhitungan, bahwa modernisasi juga membutuhkan ongkos. Kurang tepat jika beban produksi pertanian atau perikanan diberikan kepada santri, kenapa tidak kepada mereka yang duduk di bangku kuliah, yang memiliki ilmu pasti tentang itu semua.

Kolom kedua, Sekitar Peranan Mulut. Kolom ini menjelaskan seberapa besar peran mulut dalam pembangunan.  Apakah pembangunan bisa terlaksana dengan sedikit bicara atau banyak bicara?

Jika kabinet PM Djuanda memiliki semboyan “sedikit bicara, banyak kerja”, berbeda dengan K. H. Idham Chalid. Kyai Idham Chalid menyatakan “banyak bicara banyak kerja”, sebab bicara saja tanpa kerja itu namanya beo, bekerja saja tanpa bicara itu maling.

Akhirnya Mahbub memiliki gagasan menyoal peranan mulut itu. Di zaman pembangunan tentu yang dibutuhkan adalah kerja, bukan berarti orang tidak diperbolehkan bicara. Cuma namanya yang ganti, bukan bicara melainkan dialog, diskusi, sarasehan, lokakarya atau simposium. Selanjutnya kalau mau bicara ya dengan data, seperti nona Spanyol dengan kipas dan sinyo Prancis dengan bunga. Asal, jangan bicara angka-angka saja. Soalnya, orang zaman sekarang suka angka-angka, makin banyak angka makin bagus, katanya.

Kolom ketiga, tentang Kolumnis. Menyoal kolom dalam KTP baris pekerjaan. Seorang dirjen akan mantap mengisinya, karena sangat jelas pekerjaannya. Bagaimana dengan seorang pengangguran, pengemis atau kolumnis? Pasti akan diisi swasta atau wiraswasta.

Mahbub menilai begitu beratnya kehidupan mereka yang baris pekerjaannya diisi swasta atau wiraswasta. Begitu malu dan takutnya si pengangguran dan si pengemis kalau berkata jujur kepada petugas pembuat KTP. Pasti mereka akan dituduh nyindir pemerintah atau melawan. Padahal sudah sangat jelas dalam pasal 27 UUD, “Tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusian”, pasal 34 UUD, “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Lah kok, fakir miskin dan anak terlantar di jalan digrebeki dan ditangkapi, serta tidak diberikan kesejahteraan apapun.

Yah, begitulah nasib pengangguran, pengemis dan kolumnis di mata negara. Negara sudah abai akan nasib mereka. Mereka yang di KTP tertulis swasta atau wiraswasta.

Kolom keempat, Mengunyah Strategi. Kolom ini menyoal strategi bangun membangun. Serupa resep dan petuah yang diperjualbelikan, yang satu merasa lebih manjur dari yang lain, sebagaimana obat batuk.

Model pembangunan apa yang pas untuk Indonesia? Kata Bung Karno, sosialisme Indonesia, ke situ kita menuju, awas, bukan sosialisme ala Rusia, RRC, Mesir atau Yugo. Nyoto menyindir, kalau bukan sosialisme ini itu, jangan-jangan memang bukan sosialisme sama sekali.

Selanjutnya, strategi apa yang pas untuk ekonomi Indonesia. Apakah etatisme (red: suatu paham yang menyatakan bahwa politik/ekonomi sepenuhnya dalam kekuasaan negara)  atau liberalisme. Untuk kesekian kalinya, ekonomi bukan ini dan itu. Akhirnya,  Mahbub memberikan gagasan strategis, untuk tanggulangi kemiskinan secara langsung, tidak berguna sistem ekonomi campuran “bukan ini dan itu”, tidak berguna GNP-isme. Berhentilah jadi budak ekonomi permintaan pasar.

Terakhir, Mahbub berpesan berbijaklah dengan kaum muda. Tidak usah berbelit-belit. Kata penyair Rusia, Yevgeny Alexandrovich Yevtushenko, “Mendustai anak muda itu salah, soalnya anak mudah itu sudah mafhum, soalnya anak muda itu rakyat.

Empat kolom mahbub dalam buku ini sungguh menceritakan sebuah pencerahan tukang becak. Fatwa-fatwa yang terus memberikan pengaruh atas perubahan sosial yang lebih baik, dari kebijakan pesantren, peran mulut, nasib kolumnis serta strategi pembangunan. Jalur kritik satirnya telah menyentil tirani dengan sadis, tapi tetap menghibur.

Al Muiz Liddinillah, penulis biasa saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here