Judul Buku : Al-Fatihah Bangkitlah Gerakan Islam
Penulis : Eko Prestyo
Penerbit : Intrans Publshing
Ketebalan : xv+350
Harga P. Jawa : Rp130.000
“Al-Quran itu bagaikan berlian, pendar cahanya tak pernah pupus, menampilkan kilauan warna-warna menakjubkan. Jika menemukan makna yang sebelumnya tak terlihat, selalu ada kilaunya cahaya baru muncul dalam setiap pembacaannya”
Musdah Mulia
Sebuah kalimat yang begitu apik, sebagai nasehat bagi umat islam bahwa untuk lebih intens dalam menggali makna baru sesuai dengan sosial, kultur, politik yang hadir di tengah kehidupan manusia. Tentu Al-Quran dapat dikatakan literatur yang tak pernah usang oleh zaman, bahkan selalu sesuai dengan konteks hari ini. Itulah bagian dari keajaiban dari Al-Quran itu sendiri.
Maka, sebelum melangkah terlampau jauh dari satu surah ke surah lainnya, kiranya paling penting kita mengenal terlebih dahulu surah pembuka—yakni—Al-Fatihah. Surah yang terkenal sebagai Ummul Kitab, Ummul Al-Quran atau Induknya Kitab. Terletak di surah ke-satu dan juz ke-satu. Dikatakan Ummul Kitab karena semua pesan perihal hidup dan kehidupan terekam dalam satu surah Al-Fatihah, oleh karena itu dapat dikatakan sebagi induk dari semua pokok Al-Quran. Tidak hanya itu surah tersebut, paling banyak dibaca saat beribadah bahkan menjadi syarat sah dalam melaksanakan rukun islam.
Sebagaimana yang telah ditulis oleh Eko Presetyo dalam bukunya yang berjudul “Al-Fatihah Bangkitlah Gerakan Islam”, yang mencoba menafsirkan Al-Fatihah agak berbeda dengan tafsir lainnya. Eko menyeguhkan narasi yang menggugah keyakinan akan ibadah sosial yang selama ini, terkungkung dalam ingatan dogma bahwa spirit islam jauh dari aktivitas sosial.
Salam Pembuka Buku
Buku ini dimulai dengan sebuah pembuka dari penulis, yang kiranya menyeritakan historis perjalanan lahirnya buku tersebut. Di awali dengan situasi negeri di kala pendemi, dimana negeri ini, tak mampu melakukan apa-apa, sekalipun mandat konstitusi mengatakan bahwa negera memiliki kewajiban untuk menjaga “memprotik” warga negara dalam keadaan apapun, khusnya bencana global yang menyebar seantereo dunia.
Walaupun sudah melakukan upaya pencegahan dengan berbagai cara tapi kebijakan pemerintah berjalan secaa sporadis. Kritikan berdatangan dan seolah-olah, kritikan adalah kebencian kepada pemerintah bukan perbaikan hingga mempengaruhi respon yang tak terduga. Kebijakan yang diketuk saat situasi tak membutuhkan misalnya UU Cipta Kerja, UU Minerba hingga perlemahan KPK. Itulah kondisi politik kala itu, bukanya berkabung dan empati malah memberikan pembatas yang begitu besar bagi masyarakat. Politik seakan kehilangan marwahnya sebagai alat memperjuangan kepentingan rakyat malah membagi banyak kepentingan demi mempertahankan status qua.
Buku ini, ditulis saat situsi ekonomi dan politik ambruk, kerusakan lingkungan membawa negeri ini jadi langganan bencana dan kesenjangan sosial makin melembar saat krisis ekonomi tidak bisa diatasi dengan segera. Rakyat mengalami sebuah persoalan dasar yang menyangkut kehidupan sehari-harinya, misalnya lapangan kerja, kesehatan, dan keadilan. Setidaknya, hak ekonomi, hak politik, dan hak untuk hidupanya harus dipenuhi segera mungkin.
Dalam pembukaan buku ini juga menjelaskan bagaimana spirit islam juga harus menjadi spirit sosial untuk mengetaskan keragaman ketidakadilan yang ada. Eko pun mengertik sebuah nilai yang hilang dari masa ke masa persoalan agama dan sosial yakni “Pendidikan agama pun tidak hidup melalui penalaran kritis tapi hafalan, tidak muncul melalui polemik ilmiah tapi kepercayaan yang membabi buta dan itu sebabnya Al-Quran lalu jadi kitab yang tidak dipahami dengan jernih tapi hafalan saja”. Setidaknya, penulis ingin mengatakan bahwa pembelajaran agama harus beriringan dengan sosial, utamanya cikal bakal adanya kemisikanan yang terstruktur, dan ketidakadilan yang tersebar. Penulis menambahkan “Islam diajarkan tidak dengan cara penghormatan pada sains tapi keyakinan buta pada doktrin”.
Tidak hanya itu, kritikannya pun juga tertuju kepada tokoh agama yang telah kehilangan marwahnya untuk meramut umatnya, malah bersekongkol dengan penguasa dan modal, dengan mudah menjadi iklan kekuasaan atau produk perusahaan “Gagal dalam proyek keadilan membuat agama diperankan oleh wirausaha yang membuat kitab suci seperti kalkulator: pahala dihitung dengan rincin, Tuhan seperti pemimpin perusahaan dan kepatuhan ritual, seperti orang menanam deposito. Umat sangat berhitung baik ketika berbuat baik atau saat membuat siasat. Tuhan dibajak untuk kepentingan diri sendiri. Bisa diperankan Tuhan sebagai penjaga stabilitas sosial, dapat diperankan sebagai pendukung neoliberalisme bahkan didorong sebagai sarana meraih laba. Saat agama digunakan sebagai alat mobilisasi maka hilang sudah kemampuan untuk menampilkan jalan keluar yang logis. Agama terbenam, dalam keinginan palsu pemukanya.”
Gerakan agama memberikan pembatas secara terang dengan gerakan lainnya. Memberikan dogma tanpa memberikan keyakinan bahwa ketidakadilan hadir di tengah hidup manusia. Membangun masjid dengan jumlah banyak dengan kemegahan yang luar biasa, yang di sampingnya terkadang terdapat permukiman kumuh. Niatanya, untuk meningkatan ketatan kepada Allah. Selanjutnya, bagaimana umat beragama, khususnya masyarakat menengah ke bawah mampu beribadah tepat waktu sedangkan kesenjangan dan ketidakadilan hadir di samping mereka? Bukankah Allah memberikan predikat kepada hambanya untuk menjadi khalifah? Bahkan, menganjurkan untuk berzakat. Mengapa hal ini sering terabaikan?
Bagaimana mereka (masyarakat menegah ke bawah) mampu mengubah hidup mereka? Sedangkan akses kerap kali tak diberikan mereka? Pendidikan pun sukar di dapati hanya anak ekonomi ke atas yang mampu mengubah hidupnya. Padahal Rasulullah SAW “Yang pertama sekali diciptakan Allah adalah intelek”. Hadis itulah yang seharusnya menggugah rasa empati atau setidak-tidaknya memberikan sebagian uang mereka membangun peradaban dunia dengan meningkatkan tarif pengatahuan agar generasi selanjutnya dapat berdaya.
Suasana sosial yang kusut memicu ketimpangan sosial yang kian menganga. Terlebih krisis sosial yang berlangsung membuat kehidupan kehilangan ikatan kepercayaan satu sama lain. Padahal islam hadir dengan cinta kasihnya, maka seharunya ia tumbuh dan berkembang dengan cinta kasih pula. Bukan, lewat api emosi yang memberikan ujaran kebencian kepada umat yang tak seyakin dengan islam. Oleh karena itu, dengan surah Al-fatihah kita dibimbing untuk memahami secara mendalam dan yakin akan petunjuk agama dalam mengentasi ketidakadilan ini.
Tafsir Al-Fatihah
Semua surah selalu diawali dengan lafadz “Bismillahhirrahmanirrahim”. Memiliki makna sebagai cahaya dalam memberikan arahan kepada umat manusia. Eko pun menjelaskan bahwa Basmallah merupakan upaya untuk melibatkan Allah dalam aktivitas manusia, perbuatan orang yang beriman tak bisa dilepaskan dari kuasa ilahi, dengan Basmallah kita menjadikan semua aktivitas itu bernilai suci.
Membaca Basmallah merupakan penyempurna dalam setiap aktivitas. Sebab Basmallah merupakan pengenal awal bahwa sesuatu itu cerminan dari nama dan tanda Allah. Oleh karena itu, Basmallah menjadi awal pembuka dari semua surah tidak hanya dalam surah Al-Fatihah akan tetapi semua surah. Tujuannya agar kebaikan selau terpancar dari manusia. Setidaknya, Basmallah membawa manusia pada perbuatan baik, mengirim manusia ke dunia untuk melakukan hal bermanfaat dan menjadi sanksi bagi manusia untuk menolong sesamanya.
Sering kali surah Al-Fatihah disematkan sebagai surah syukur, dimana di ayat pertama berbunyi “Al-hamdu Lillahi Rabbil-Alaamin”. Noum Ali Khan memahami kata ‘Hamd’ dalam bahasa arab yang pertama artinya pujian, sedangkan yang kedua adalah berterima kasih. Seyoginya, kata pujian dan berterima kasih merupakan dua kata yang berbeda, akan tetapi memiliki visi yang sama, bahwa makna alhamdullilah akan memelihara jiwa orang beriman untuk selalu bersyukur atas segala sesuatu yang terjadi. Alhamdullilah juga mengatarsetiap manusia untuk selalu bersabar dan selalu memuji Allah di setiap keadaan. Sebagaimana Eko pun menjelaskan bahwa arti progresif sebenarnya yang butuh pujian itu bukan Allah tapi kita yang membutuhkan Allah. Inilah yang membuat kata ini bermakna kerendahan hati, kalau sesungguhnya setiap apapun, semua tergantung kepada Allah.
Ayat kedua yakni “Ar-Rahmani Ar-Rahim” yang memilih arti yang maha pengasih dan maha penyang. Suatu kalimat yang menegaskan suatu sifat Allah yang selalu menerangi setiap langkah manusia. Dalam buku tersebut Eko pun menjelaskan bahwa Rahman dan Rahim ini muncul sebagai sifat yang diperlukan oleh manusia dalam menjalani kehidupan dunia ini. Sifat itu pun menjelaskan walupun kejahatan pun gencar dalam melakoni, tetap saja ada kebaikan yang dapat melawan kejahata tersebut. Dalam ayat ini pun, dapat mengambil hikmah bahwa penguasa alam—Allah yang memiliki—alam semesta ini memiliki kasih sayang pada umatnya dari sifat yang Rahman dan Rahimnya. Allah pun juga bukan penguasa pada zaman saat ini, yang sering kita jumpai mahir dalam memberi instruksi dan saksi, namun lupa memberikan pengayoman bagi anggotanya. Allah adalah penguasa yang penuh cinta, sangat peduli, dan sangat pemurah. Selain itu, melalui Ar-Rahman Ar-Rahim bahwa Allah hendak memberi pelajaran bahwa rasa cinta dan kasih sayang merupakan inti dari ajaran agama.
Tidak hanya kasih sayang dan cinta, akan tetapi sifat yang adil juga tersemat dalam sifatnya. Hal tersebut pun termaktub dalam lafadz “Maliki Yaumiddin” yang artinya yang menguasai Hari Pembalasan. Dalam tulisan Eko juga memberikan pesan bahwa suatu saat manusia akan bertanggung jawab dengan segala sesuatu yang telah dilakukan olehnya. Setidaknya, di hari pembalasan kelak Allah akan memberlakukan manusia dalam dua kemungkinan mutlak: manusia akan memperoleh cinta dan kemurahan hati Allah atau malah sebaliknya akan diadili olehnya sesuai dengan perbuatannya. Bahwa sesungguhnya hari pembelasan memang ada. Ketika seorang penguasa tidak mengayomi rakyat sesuai amanah yang berlaku, maka suatu saat Allah akan meminta bertanggung jawaban atas kuasa yang telah dibebankan kepadanya.
Ayat selanjutnya, kita diajak mendalami secara intim bagaimana kuasa Allah itu benar-benar ada “Kepada-mu kami menyembah dan kepada-mu kami memohon pertolongan”. Pada Sub-Bab ini, Eko mengawali dengan sebuah prinsip Monotheisme bahwa Allah merupakan pusat gerak hidup manusia beriman adalah menuju kuasanya. Bahkan ayat ini mengandung suatu pemahaman perihala tidak ada kedudukan yang paling tinggi selain Allah. Semua setara sebagai hamba Allah, tidak ada yang paling berkuasa. Bahkan dalam ayat ini, bahwa tidak ada satupun yang mampu memberikan pertolongan, selain Allah. Allah berkehendak atas dirinya dan hambanya. Hingga kita menyadari tidak ada kesempatan sedikitpun untuk memiliki sifat sombong di dunia, karena sifat sombong hanya pantas dimiliki Allah. Tapi perlu dipahami bahwa tak semua manusia memiliki kesadaran akan hal tersebut, bukan karena minimnya pemahaman akan tetapi karena banyak persoalan, atau bisa jadi karena lingkungan yang mempengaruhi akan kesadaran manusia.
Siapa pun yang tetap melaksanakan kewajiban yang telah diberikan oleh Allah, maka Allah akan memberikan petunjuk. Sebagaimana ayat yang memberikan pesan bahwa peran Allah sangat besar dalam memberikan arahan agar manusia mendapat jalan yang benar. Allah akan selalu mengantarkan kepada kemewahan rohani. Dimana selalu memiliki niatan baik dalam melakukan aktivitas hidupnya. Berjuang untuk keadilan, memelihara nilai kemanusian, dan melawan penindasan. Kesemua itu tidak lain dan tidak bukan adalah hasil pendakian dan pendalaman dalam menerapkan ayat ini. Selain itu, ditambah sunah rasul yang mengajarkan bahwa manusia harus selalu melakukan kebaikan dan membela kaum mustada’fiin.
Ayat terakhir dalam surah Al-Fatihah memiliki arti “Jalan orang-orang yang engkau anugerahi nikmat”. Pada Sub-bab ini, Eko pun menyebutkan langsung seorang nabi agung seperti Ibrahim dan Muhammad. Keputusan Allah atas siapapun yang diberikan nikmat untuk jalan kebaikan setidaknya akan ada sifat yang sama seperti Ibrahim dan Muhammad dalam melakukan kebaikan, karena segala kebaikan yang terjadi di dunia ini tidak akan punah walupun kejahatan semakin hari semkain menyebar dunia. Selalu ada kebaikan dan orang yang baik dalam setiap kehidupan manusia.
Itulah tafsir Al-Fatihah yang ditulis begitu apik oleh Eko. Eko mengajak pembaca untuk semakin andil dalam melakukan kebaikan dan keberpihakan kepada kaum mustada’fiin. Ini tafsir yang berbeda dengan tafsir lainnya. Eko pun mencoba menyuguhkan pesan agama yang sering terlupa bahwa tugas manusia adalah Khalifah, yang memiliki arti bahwa pemimpin yang adil. Sebagaimana kata Pramoedya Ananta Toer bahwa ”sudah adil sejak dalam pikiran. Bukan saja kata yang lalu hilang mengikuti jejak langkah ketika usai berpidato di podium yang megah itu”.
Al-fatihah mengajak manusia untuk kembali bahwa kuasa Allah adalah kuasa satu-satunya di alam semesta ini. Tidak kuasa yang paling besar selain kuasa Allah. Bahkan, surah Al-fatihah akan membawa pembaca kembali untuk merenung, gembira, dan selalu bersyukur. Bahwa dalam buku ini, juga memberi pesan bukan hanya untuk individu manusia, namun gerakan islam, yang kian lama kian hilang dan sulit untuk bersatu. Namun, perlu diketahui bahwa buku ini, merupakan buku yang sangat menarik dan menggugah kesadaran untuk orang-orang yang haus akan keadilan. Selamat membaca.









