Dalam hemat saya (yang tidak terlalu hemat), memutuskan untuk menikah jauh lebih berat daripada pernikahan itu sendiri. Memutuskan untuk menulis tentu lebih sulit daripada kegiatan menulis itu sendiri. Memutuskan diri untuk bekerja pasti lebih pelik daripada pekerjaan itu sendiri. Mengapa? Karena keputusan erat kaitannya dengan komitmen, tanggung jawab dan integritas.

Saat seseorang mengambil keputusan, ia sejatinya sedang berenang dan menyelam ke dalam arus sangat deras yang akan membawanya ke tempat-tempat yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Mau bukti?

Carilah seekor semut pekerja-petarung (bukan semut pemalas!) yang siap-siap akan berangkat kerja lalu silahkan Anda letakkan batu bata tepat di hadapannya! Apa yang akan dilakukan semut itu?

Tanpa menunggu lama, segera semut pekerja tadi mencoba berjalan di atas, dari bawah dan bahkan ia juga mencoba menembus batu bata itu manakala Anda terus menghadang langkah-langkahnya. Sampai kapan semut itu mencoba dan berusaha? Sampai mati.

Oleh karenanya kerap kali kita jumpai kawanan semut mati ketika sedang bekerja dan mencari makan. Inilah tekad petarung!

Sebagian besar manusia, khususnya di Negeri +62 menyerah lantaran dihadang satu-dua kendala, dihalang tiga-empat rintangan, diserimpung beberapa barikade, dan dikepung sekian fetakompli. Begitu cengeng dan keropos mentalitas kita, teramat rapuh dan ringkih karakteristik kebanyakan kita. Hal ini nampak sekali dalam cara kita bemedos dan berselancar di dunia maya. Cengeng, baperan, gampang kepo, nyinyir, lalu sebar hoaks atas nama agama, kampungan!

Padahal, kabar baiknya, untuk mencapai posisi puncak, Anda tidak perlu terlalu pintar. Nah, jika Anda mau berusaha belajar sabar, sembari menunggu agak lama, semua orang (termasuk yang pintar dan tuna pustaka) akan pergi.

Para pendaki gunung Everest yang dengan lantang mengatakan, “Saya akan kerahkan kemampuan terbaik” atau “Saya akan berusaha semaksimal mungkin” justru akan pulang dan turun lebih cepat jauh sebelum mencapai puncak atau bahkan separuh jalan. Tetapi, ketahuilah bahwa puncak tertinggi di dunia itu akan menyerah kepada seseorang yang bertakad, “saya akan menaklukannya!”

Prinsip ini juga berlaku dalam ranah dan skala yang lain, dalam bisnis, kompetisi dan bahkan ihwal percintaan dan asmara. Jangan lupa, kehidupan hanya memberi penghargaan pada usaha, bukan alasan. Dunia tidak pernah berhutang budi pada Anda! Maka, jangan pernah mengunggu dunia memberi keajaiban dan imbalan, sebab keajaiban itu ada di “kepala” dan “dada” masing-masing orang!

Tidak ada bambu yang bisa melubangi dirinya sendiri untuk menjadi seruling, tidak ada bambu yang mampu menyusun merekat diri mereka sendiri untuk menjadi rakit. Begitu pula manusia.

Jika ingin maju, ia harus membentuk A-TEAM (attitude team) yang mendukung dirinya untuk maju, baik lingkungan, teman, keluarga, dan buku-buku yang membentuk kepribadian dan pandangan positif.

Dan, yang paling penting adalah apa saja yang berkecamuk di kepala dan bergejolak di dada selama 2019 ini harus bagaimana di 2020 nanti?

Lantas, bagaimana dengan caci-maki, ujaran kebencian, sebaran dan serbuan berita bohong, hujatan, cemooh, serta segala jenis rintangan yang kadang justru datang dari orang-orang terdekat? Saat kayu habis, api pun padam. Toh, nanti mereka lelah sendiri, tunggu saja. Anda tidak hidup untuk mereka, tapi untuk diri Anda sendiri. Well, inilah komitmen pergantian tahun.

Sumber tulisan: buku KONDOM GERGAJI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here