Terlepas dari doktrin Agama, sebagai manusia yang berakal pernahkah kita berfikir dari mana asal kita? Apakan segala yang ada di alam semesta ini terjadi secara ilmiah sesuai dengan teori ilmu pengetahuan yang berkembang saat ini atau ada campur tangan Tuhan? Tentu masih banyak pertanyaan yang membuat kita penasaran akan asal muasal kehidupan. Ketika duduk di Sekolah Menengah Pertama kita tidak asing dengan teori Darwin yang menyatakan bahwa makhluk hidup terutama manusia mengalami proses evolusi. Ya cukup evolusi saja tidak perlu dari kera ataupun yang lain karena ini akan menjadi perdebatan panjang ketika dibenturkan dengan agama.

Pernahkah anda membaca novel Origin karya Dan Brown? Novelis terkenal dengan banyak karya yang salah satunya di jadikan film yaitu The Da Vinci Code. Bagi anda yang sudah membaca tentu tercegang akan apa yang disampaikan Edmond Kirsch tokoh dalam novel Origin, bagi yang belum semoga anda membeli dan membaca bukunya. Kalian yang dahulu anak IPA atau sekarang kuliah di jurusan kimia tentu tidak asing dengan Miller-Urey, ya ahli kimia Stanley Miller dan Harold Urey telah melakukan percobaan legendaris pada tahun 1950-an dalam upaya menjawab pertanyaan dari mana asal kita? Percobaan itu hanya memunculkan beberapa asam amino, tapi tak ada yang bahkan mendekati kehidupan. Meskipun mereka gagal tetapi upaya mereka disanjung di seluruh dunia dan dikenal dengan nama percobaan Miller-Urey. Hingga pada 2007 terjadi perkembangan tak terduga. Para siswa Miller yang menganalisis ulang sampel-sampelnya menggunakan teknik terkini yang jauh lebih sensitif­­­­­—termasuk kromatografi cairan dan spektrometri massa—dan rupanya eksperimen orisinal Miller-Urey telah menghasilkan banyak asam amino dan senyawa-senyawa kompleks daripada yang dapat Miller ukur pada masanya. Analisis baru terhadap tabung-tabung tersebut bahkan mengidentifikasi beberapa nukleotida dasar yang penting-rangkaian RNA, dan pada akhirnya DNA. Kisah sains yang melegitimasi ulang bahwa mungkin kehidupan memang terjadi begitu saja tanpa intervensi illahiah. Eskperimen Miller-Urey hanya memerlukan lebih banyak waktu untuk bisa berhasil.

Ketika pertanyaan dasar kita sudah sedikit terjawab secara ilmiah menurut hukum kimia dan fisika, apakah kita berhenti disini dan santai menikmati kopi? Jika demikian tentu anda tipe orang yang akan gagal memeluk masa depan. Ketika sudah mengetahui asal muasal kita, tidakkah anda berfikir kemana kita akan pergi ? Anda tentu resah ketika dihadapkan pertanyaan ini. Dunia sudah kali ke empat mengalami revolusi industri. Dimulai dari Revolusi Industri 1.0 Mekanisasi pada tahun 1790-an,  2.0 Listrik pada tahun 1890-an, 3.0 Komputer pada tahun -1960-an, dan Revolusi Indurstri 4.0 Internet hari ini. Setiap revolusi industri memiliki dampak positif dan negatif di dunia, tak terkecuali 4IR (fourth industrial revolution). Ketika sekolah dasar kita diajarkan hierarki taksonomi makhluk hidup yang dibagi ke dalam enam Kingdom of Life atau Enam Kerajaan Kehidupan—Animalia, Plantae, Protista, Eubacteria, Archaebacteria, dan Fungi. Namun demikian, pernahkan kita menyadari akan hadirnya kerjaan ketuju dalam kerajaan kehidupan alam semesta ini? Benar, kita tidak menyadari akan hal itu tapi setiap hari kita sudah berdampingan dengan kerjaan tersebut. Ini adalah kingdom spesies anorganik, namanya adalah Technium. Spesies-spesies baru teknologi yang dilahirkan setiap hari, ber-evolusi dengan sangat cepat, dan setiap teknologi baru menjadi perangkat untuk menciptakan teknologi-teknologi baru

Penemuan komputer pada revolusi industri 3.0 telah membantu manusia membangun perangkat baru yang mengagumkan, mulai dari smartphone, pesawat luar angkasa, hingga robot ahli bedah. Dan secara sadar manusialah pencipta kingdom baru ini—Technium. Akankah spesies ini akan menyerap umat manusia? Manusia sedang ber-evolusi menjadi sesuatu yang berbeda, kita menjadi spesies hibrid—campuran biologi dan teknologi. Teknologi-teknologi baru seperti cybernetics, kecerdasan sintetis, cryonics, teknik molekular dan virtual reality akan mengubah apa arti menjadi manusia. Perangkat-perangkat yang ada di luar tubuh kita akan melebur menjadi satu ke dalam tubuh 50 tahun kedepan hingga kita tidak bisa menganggap diri sebagi Homo sapiens.

Artificial Intellegence (AI), Internet of Things (IoT), Komputasi Kuantum, Fifth Generation Wireless (5G), Teknologi Printer 3D, dan Self-Driving Vehicles merupakan teknologi yang saat ini berkembang di 4IR. Tidak sedikit pekerjaan yang akan digantikan oleh AI misalnya Resepsionis, pekerja pabrik, kurir, sopir, prajurit, dokter, petugas keamanan, manager penjualan, akuntan, dan petani. Sudahkah kita mempersiapkan diri menghadapi era Disruption ini? Ketika manusia dihadapkan dengan kemajuan sains tidak sedikit dari mereka kemudian berfikir secara positivistik dan empiris, kemudian meninggalkan hal-hal yang bersifat ghaib dan intuitif. Banyak orang yang memilih menjadi agnostik. Bagaimana jika itu nanti terjadi pada anak, cucu, dan keturunan kita. Mereka tidak lagi percaya akan adanya hantu, doa, surga, dan neraka bahkan tidak percaya akan adanya Tuhan karena tidak melihat dan mengalami langsung. Adakah cara yang lebih baik dalm mendidik akhlak pada anak jika menghilangkan nilai-nilai rohani? Mampukah manusia memeluk masa depan? Atau robot yang akan menggantikan peran manusia ? Pertanyaan untuk kita renungkan bersama, Dunia tanpa Sains atau Dunia tanpa Agama?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here