Hari itu suasana kota Yogyakarta tak seperti biasanya. Udara terasa sangat panas. Situasi sangat mencekam. Bunyi baling-baling helikopter terdengar dimana-mana melayang di atas langit Yogyakarta.Terdengar suara derap langkah para tentara yang akan berganti juga. Sayup-sayup terdengar suara perdebatan “Besok kita akan merebut kota Yogyakarta!”
Seorang pria bertubuh kurus namun tegak itu berdiri menatap Benteng Vredeburg. Ikat kepala berwarna hitam polos dengan ujung yang menjulur itu berkibar tertiup angin. Badannya yang tegak itu ditutupi oleh sebuah mantol yang panjangnya melebihi lutut. Tangannya memegang tongkat dan diletakkan di depan kakinya. Matanya tajam menatap Benteng Vredeburg. Pikirannya jauh mengawang seolah mengharapkan sesuatu terjadi. “Apakah aku mampu membalikkan keadaan?” Begitulah pikiran orang tersebut. “Yogyakarta akan segera kuambil alih.” Tangannya mengepal kuat mengenggam tongkat kayu yang senantiasa menyangga tubuhnya kemanapun ia pergi. Setelah itu ia berbalik kemudian melangkah meninggalkan Benteng Vredeburg.

***

Panglima Besar Jendral Sudirman sedang duduk disebuah kursi tua di rumahnya. Ia menatap ke arah Letjen Urip sumohardjo. “Apakah rencanamu sekarang Urip?” Jendral Sudirman bertanya sambil membetulkan posisi duduknya.“Kang mas Dirmantid aku sah terlalu khawatir. Semua pasukan dari seluruh komando resimen kota Yogyakarta sudah kuperintahkan untuk bersiap diri menghadapi pertempuran in.” Jendral Sudirman hanya menganggukkan kepala. Setelah itu ia menghela nafas dan menengadahkan kepalanya ke atas. Jari jemarinya yang memegang tongkat terus menerus ia gerakkan pertanda ia sedang gelisah memikirkansesuatu. “Mas Dirman gelisah? Apa yang kau gelisahkan?” tanya Letjen Urip sambil membungkukkan badan dengan mata yang menatap ke arah sang Jendral. “Bagaimana aku tidak gelisah?Beban yang harus kutanggung semakin berat rasanya.”Jendral Sudirman melanjutkan “Aku tidak tahu apakah aku mampu membalikkan keadaan?” Sang Jendral menelan air liur yang tertahan di tenggorokannya lalu kembali menengadahkan kepalanya. Tak lupa secangkir kopi yang adadi sampingnya ia seruputjuga.

“Mmhmp… Kangmas Dirman, aku tahu perasaanmu dan aku tahu apa yang sedang kau pikirkan. Namun, disana, diluar sana banyak rakyat kota Yogyakarta yang menderita. Presiden Soekarno menyerahkan tugas ini kepada Kangmas Dirman karena beliau percaya kalau kau adalah orang terbaik yang beliau punya. Kangmas, masa depan Yogyakarta, masa depan Indonesia ada di tanganmu, ditanganku, juga ditangan kita semua yang berjuang untuk itu. Kangmas pasti bisa! Aku selalu ada di sampingmu kapanpun kau membutuhkan.” Letjen Urip mencoba menyemangati. “Urip, apakah ini akan berjalan lancar sesuai rencana?” Tatapan tajam mata Jendral Sudirman mengarah kepada Letjen Urip berharap jawaban yang pasti. “Insyaallah kangmas. Jika Allah merestui dan menghendakinya, semua akan berjalan lancar.” Kata Letjen Urip sambil memegang bahu sang Jendral lalu pergi meninggalkannya. Sang Jendral masih terduduk di kursinya. Sebentar ia menyeruput kopi yang sudah dingin itu, menghela nafas, lalu menengadahkan kepalanya.
***

Wajah Jendral Sudirman terlihat cemas malam itu. Tatapannya ke arah langit seakan mengharapkan sesuatu terjadi. Bunyi jangkrik dan katak bersahut-sahutan bergantian. Bulan dan bintang tak terlihat seolah memberikan suatu tanda. Jendral Sudirman terus mondar-mandir di teras rumahnya. Tak lama kemudian ia duduk di kursi kayu tua. Ia membetulkan posisi duduknya, membetulkan ikat kepalanya yang mulai longgar, lalu membetulkan mantolnya. Tongkat kayu yang selalu setia menemani ia letakkan di antara kedua kakinya lalu tangannya ia letakkan di atas tongkat itu. Jari-jarinya terus bergerak lalu menghela nafas sambil berkata “YaAllah, restuilah perjuanganku dan perjuangan seluruh rakyat Yogyakarta.” Ia lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi masuk ke dalam rumahnya.
***

“Saudara-saudara satu bangsa dan tanah air!” Jendral Sudirman membuka pidatonya. “ Kita akan berjuang sampai mati demi kota Yogyakarta dan demi Indonesia. Masa depannya ada di tangan kita semua. Demi Yogyakarta dan demi Indonesia adalah alasan kita bertempur dan juga merupakan alasan kita gugur. Kita akan berjuang sampai titik darah penghabisan, kalau perlu sampai mati. Kalian siap!?” Jendral Sudirman menggelorakan semangat disusul teriakan- teriakan para prajurit disertai kepalan tangan yang memegang senjata. “KAMI SIAP BERTEMPUR DEMI YOGYAKARTA DAN DEMI INDONESIA! KAMISIAP MATI!”

Jendral Sudirman melanjutkan “Kita akan menyerang sekutu dan pasukannya untuk merebut kota Yogyakarta. Semoga Allah merestui dan menghendaki perjuangan kita. Amin.” Sang Jendral menutup pidatonya lalu menganggukan kepala memerintahkan Letjen Urip untuk memberikan instruksi kepada seluruh pasukan. Setelah itu pasukan pun bubar untuk mempersiapkan segala yang diperlukan untuk pertempuran yang akan segera tiba itu.
***

Tanggal 1 Maret 1949 menjadi pertempuran yang akan selalu di ingat oleh sang Panglima Besar Jendral Sudirman dan juga pasukan-pasukannya. Pagi-pagi benar saat hari masih gelap Letjen Urip datang ke rumah Jendral Sudirman.
“Mas Dirman sudah siap? Seluruh pasukan dari berbagai resimen menunggu perintah darimu.” Letjen Urip memberikan keterangan saat Jendral Sudirman membukakan pintu. Sang Jendral menghela nafas, menatap ke langit lalu berkata “Hari ini langit cerah. Insyaalah Tuhan Yang Maha Kuasa merestui perjuangan kita semua.” Sang Jendral menurunkan kepala lalu berkata pada Letjen Urip “Perintahkan seluruh pasukan untuk bersiap. Tunggu komandodariku!” Sang Jendral mengenakan ikat kepalanya lalu berjalan keluar dengan gagah menuju mobil yang sudah menunggunya. Letjen Urip mengikutinya dari belakang sambil memberi instruksi untuk berangkat.
Di sebuah ruangan yang berukuran 6X5 meter itu sang Jendral memperhatikan Kolonel Soeharto memberikan strategi penyerangan. “Pasukan Ranggalawe yang dipimpin oleh Letjen Urip akan bergerak dari selatan Pasar Beringhardjo. Pasukan Garuda yang aku pimpin akan bergerak dari utara Kaliurang. Pasukan resimen Brajamusti yang dipimpin oleh Mayor Pitung akan bergerak dari barat Jogja kota. Pasukan resimen Pasopati yang dipimpin oleh Letkol Bambang akan bergerak dari timur Bantul. Dan pasukan detasemen Patih Gadjah Mada yang dipimpi oleh Mayor Soegeng akan bergerak di tenggara kota Sleman. Semua pasukan akan mengepung dan mendesak sekutu ke arah kota dekat Benteng Vredeburg. Di situlah kita akan menyerang sekutu. Akan ada tambahan pasukan dari Jakarta sebanyak 500 orang. Demikian strategi serangan dariku Jendral. ” Kolonel Soeharto memberi hormat lalu mundur ke arah samping Letjen Urip. “Jam berapa kita akan mulai berkumpul dan jam berapa kita akan menyerang?” Jendral Sudirman bertanya. “Jam 02.00 kita akan mulai bergerak menuju tempat yang aku tentukan tadi. Lalu jam 06.00 kita akan mulai menyerang. Akan ada sirine berbunyi tanda penyerangan.” Kolonel Soeharto selesai memberi penjelasan.
***

Jam 05.45 semua pasukan sudah siap di posisi masing-masing. Mereka menunggu sirine sebagai aba-aba untuk mulai menyerang. Suasana sangat mencekam dan situasi sangat menegangkan. Jam 06.00 sirine berbunyi tanda penyerangan dimulai. Seluruh pasukan sekutu terlihat mulai keluar dari mess mereka yang ada disetiap penjuru kota yang sesuai dengan yang ditunjukkan Kolonel Soeharto. Seluruh pasukan Indonesia dari segenap rakyat Yogyakarta mulai memberikan perlawanan dengan sangat ganas. Dengan semangat yang berkobar-kobar mereka menyerukan “MERDEKA!!!” JOGJA MILIK KITA JOGJA MILIK INDONESIA!!!” Bunyi handy talkie terdengar dimana-mana sekan memberikan instruksi atau semacamnya. Helikopter mulai terlihat melayang-layang di atas langit kota Jogja. Desing peluru tak bertuan mulai hinggap di tubuh-tubuh yang ditengarai musuh. Pasukan Indonesia berhasil mendesak pasukan sekutu dan menggiring mereka ke pusat kota.
Tepat jam 12.00 siang pertempuran yang sengit itu berakhir. Mayat-mayat banyak pergelimpangan dari pihak sekutu. Wajah-wajah kelelahan dengan tangan yang gemetar namun masih memegang senjata mulai tersenyum lega. Lega karena pertempuran yang sengit itu akhirnya selesai. Mereka tak percaya dengan serangan habis-habisan yang hanya dalam waktu dua belas jam dapat mereka selesaikan. Terlihat dari jauh sosok berbadan tinggi tegap berjalan ke arah mereka. Ia membawa seember air dan menyiramkannya ke arah tangki yang apinya masih menyala. Mereka mengira kalau orang itu adalah salah satu pasukan sekutu. Namun saat sosok itu mendekat mereka berteriak “Itu Panglima Besar Jendral Sudirman!!!” Sang Jendral menghampiri mereka dan setelah sampai ia berdiri di depan tangki api dengan ember yang maish ada di tangannya dan sebuah tongkat kayu tua. Letjen Urip kemudian memerintahkan pasukan untuk berbaris. Sang Jendral kemudian berkata “Terima kasih anak-anak. Perjuangan kalian hari ini sangat membuatku terpukau. Aku terkesan dengan kegigihan kalian, semangat pantang menyerah kalian. Kalian tidak takut dengan sekutu. Kalian terus menggempur dan menyerang meskipun peluru terus menghujani kalian. Tak ada rasa gentar sedikitpun terlukis di wajah kalian. Yang terlihat di mata kalian hanyalah harapan akan masa depan bangsa Indonesia dan seluruh rakyat Yogyakarta. Nah, perjuangan kalian hari ini akan selalu dikenang oleh seluruh generasi. Jika kalian tua nanti, ingatlah hari ini. Ingatlah alasan kita bertempur dan ingatlah alasan kita gugur.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here