Sabtu ini 05 Oktober, momen sakral bagi mahasiswa dua kampus besar di wilayah Malang Kota. Tidak pernah direncanakan tapi kampus Universitas Negeri Malang dan Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan wisuda secara bersamaan. Tentulah bisa kita bayangkan bagaimana Malang Kota sangat padat kendaraan (macet). Jalan alternatif pun penulis rasa jua harus berbayar karena macetnya tak kalah dengan jalan utama.

Niatan untuk menyambut wisuda bangkit ketika notif whatsapp berdering. Kebingungan melanda karena di dua kampus tersebut ada teman yang harus sama-sama untuk disambut. Setelah berbincang-bincang dengan diri sendiri, dan menimbang penulis adalah penjaga gawang di OASE CAFE dan Literasi(silahkan mampir ngopi) daripada mutar dua kali UIN-UM-Merjosari keputusanpun penulis ambil untuk lebih dulu menyambut saudara dan teman-teman di wisuda ke-99 Universitas Negeri Malang atau sering disebut Kampus pendidikan.

Sesampai di UM penulis memantau pergerakan wisudawan dan wisudawati. Setelah ngobrol online akhirnya penulis diberi petunjuk untuk diarahkan ke pohon beringin. Konon pohon beringin yang terletak di Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam  ini adalah satu-satunya di UM, jadi amat mudah untuk mencarinya. Cukup lama penulis mencari teman-teman yang wisuda dan akhirnya ketemu tepat dibawah pohon beringin. Upacara sakral berupa foto bersama wisudawati dan teman-teman dari pondok Gasek dilaksanakan sembari memberi ucapan selamat.

Awalnya ada dua wisudawati yang penulis kenal, kemudian datang satu lagi wisudawati yang penulis sebenarnya kenal tapi karena konspirasi make-up membuatku tak mengenalinya. Kutanyakan pada mantan lurah pondok putra yang sekarang berdomisili di Tegalweru, jawabannya pun sama dengan apa yang kurasakan. Mengenalnya tapi lupa siapa namanya. Kemudian penulis cek instanstory pondok Gasek, namanyapun tak masuk daftar list wisuda.

Atas keresahan itu kemudian penulis memberanikan diri untuk  menghubungi K, teman yang kebetulan menjadi sahabat dengan sang wisudawati misterius itu. Tak lama kemudian jawaban di whatsapp muncul, benar saja ternyata wisudawati itu berinisial T sesuai apa yang penulis sangka sebelumnya. Penulis begitu ngebet untuk bertemu dengan T sekali lagi, pasalnya bagi penulis T adalah orang yang istimewa. Ya, pada satu sisi penulis pernah berbeda pandangan dalam hal tertentu dan satu kata bijak dari T yang paling penulis ingat adalah Anda Tidak Perlu Membakar Rumah Untuk Memanggil Orang Satu Kampung.

Penulis mendapat kabar bahwa T akan segera pulang, dan ketika penulis tanya posisi T, K memberikan foto yang menunjukan T berada di jalan depan Gedung O4 FMIPA. Sesegara mungkin penulis menuju tempat tersebut. Sesampainya disana, penulis mencari sambil berputar-putar gedung per gedung. Ketika penulis menghubungi K, ternyata T sudah berada di Graha Rektorat, dengan sekuat tenaga penulis lari dari gedung FMIPA menuju rektorat yang jaraknya hampir 100 meter.

Graha Rektorat memang baru disahkan setelah beberapa tahun katanya menjadi gedung tua tak bernada. Sesampainya di Graha Rektorat, penulis mencari T. Tak lama kemudian, dengan nafas masih sedikit ngos-ngosan akhirnya penulis bertemu kembali dengan T. Penulispun memberikan selamat, kata yang belum sempat terucap di pohon beringin. Berhubung wisuda ini sangat spesial bagi penulis karena bisa bertemu dengan T, setelah beberapa windu bahkan tahun tak pernah ketemu. Penulis memberanikan diri untuk memberikan sesuatu sebagai kenang-kenangan.

Perlu membaca ketahui sebenarnya penulis tak ada persiapan dan kenang-kenangan apapun untuk diberikan. Tapi disinilah keberuntungan memihak penulis, ya kemana-mana penulis selalu membawa buku yang kadang dibaca ataupun dianggurin. Kebetulan penulis membawa dua buku. Pada awalnya penulis bingung mau memberikan Kiri Islam karya Kazuo Shimogaki atuakah Mari Menjadi Waras buku tentang ilmu Mantiq terjemahan Kitab as-Sullam al-Munawroq, akhirnya pilihanpun jatuh pada buku Kazuo Shimogaki yang berjudul ‘’Kiri Islam: Antara Modernisme dan Posmodernisme’’. Karena penulis sadar bahwa T adalah mahasiswi pendidikan Matematika, apalagi ditambah belajar di pesantren tentulah sudah pernah mengkaji kitab as-Sullam al-Munawroq

           Mengutip tulisan Rio Apinio di Indoprogres(2013) tentang ‘’Kiri Islam dan Prroyeksi Utopis Hassan Hanafi ‘’ Buku ini sendiri terdiri dari dua bagian. Bagian pertama berjudul ‘Kajian Kritis Kiri Islam’ yang merupakan telaah kritis Shimogaki terhadap pemikiran Hanafi. Di bagian ini, Shimogaki mencoba melihat posisi pemikiran, kerangka metodologis, hingga keterbatasan-keterbatasan yang ada di Kiri Islam. Adapun bagian kedua yang berjudul ‘Apa Arti Kiri Islam’ merupakan pemikiran Hassan Hanafi itu sendiri. Di bagian ini kita akan diantarkan untuk melihat apa sebenarnya yang dimaksud dengan Kiri Islam, baik dari latar belakang penamaan ‘kiri,’ latar belakang sosio-historis, tujuan, hingga proyeksi Hanafi yang menjadikan Kiri Islam sebagai teologi pembebasan. Kedua bagian ini memiliki bab-bab-nya masing-masing yang akan dibahas lebih lanjut. Untuk keperluan review agar lebih tersturktur, penulis akan me-review terlebih dahulu bagian II yang merupakan pemikiran Hassan Hanafi sendiri, kemudian dilanjutkan dengan Telaah Kritis dari Shimogaki yang terangkum dalam bagian I, serta di bagian akhir tulisa ini, penulis akan mencoba untuk menanggapi diskursus yang ada di buku ini serta relevansinya untuk perjuangan kelas di Indonesia.

Jadi penulis rasa buku tersebut sangat cocok untuk diberikan kepada T, mengingat T juga seorang santri dan aktif di organisasi islam dan buku tersebut bagi penulis sangat istimewa karena kata pengantarnya langsung dari K.H Abdurahman Wahid mantan ketua umum PBNU dan Presiden ke-4 Republik Indonesia. Penulis tak bermaksud mengajarkan paham Kiri terhadap T. Sebagai sarjana pendidikan, penulis berharap T mampu ‘’mencerdaskan kehidupan bangsa’’ sesuai dengan tujuan UUD 1945 dan mengakar rumputkan ideologi bangsa Pancasila dikancah pendidikan. Dengan hadiah Kiri Islam, semoga T berkenan untuk membaca sampai selesai dan tentunya bisa berrmanfaat untuk menambah khasanah keilmuan tentang Islam sebagai Teologi Pembebasan.

Penulis adalah Al Mustaqim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here