Berangkat dari pertanyaan dan kegelisahan dari beberapa kepala yang mempertanyakan hal-hal yang sudah tidak asing lagi dalam keseharian kita,

Kenapa perempuan sering menjadi bagian dari objek-objek kekerasan?

Kenapa perempuan mudah untuk direkrut masuk aliran radikal?

Bagaimana mencegah berkembangnya isu-isu negatif dalam keluarga?

Mengapa tingkat radikalisme di kampus sangat tinggi? Dan masih saja perempuan yang menjadi objek?

 

Isu radikalisme dan ekstremisme menjadi hal yang sering diperbincangkan, akan tetapi selalu tidak mendalam. Mengapa demikian? Hal ini karena dalam mengkaji kita tidak menggunakan kacamata khusus. Kita hanya berfokus pada satu cara pandang saja. Padahal untuk mengetahui bagaimana cara pandang golongan tersebut, kita seharusnya berdialog dengan golongan ekstremis itu sendiri. Sehingga, narasi yng dibangun akan berbeda.

Proses teradikalisasi secara sistematis dikategorikan dalam beberapa fase, yakni: 1) Rasa termarginalisasi; 2) Mencari spiritualitas; 3)Proses radikalisasi pikiran; 4) Mencari kelompok yang satu pemikiran; 5) Membentuk sel-sel kecil; 6) penerimaan kekerasan, karena perang dianggap jalan keluar; 7) Mendekat dengan pemimpin; 8) Melakukan aksi kekerasan.

Namun saat ini, gerakan-gerakan radikalisme, ekstremisme, dan terorisme dalam melakukan penyerangan dan mengincar target melakukan teror trauma, sesuatu yang tidak besar namun banyak (amatiran) dan menimbulkan trauma yang sangat besar. Gerakan ini juga yang menjadikan proses radikalisasi tidak lagi sistematis dan sesuai fase di atas. Ditambah lagi peran media yang dengan sangat cepat menyebarkan info, menjadikan proses radikalisasi melaju sangat cepat. Proses radikalisasi yang instan ini memiliki dampak kurang militannya penggerak gerakan ini. Sehingga, mudah untuk diinterogasi.

Karakter-karakter dari kelompok-kelompok ekstremis ini antara lain: ekslusif, berpikir ekstrim, provokatif, militan, keras, berani, tertutup, egois, dan mudah menarik orang lain untuk bergabung. Setiap orang yang tergabung dalam kelompk ini memiliki motivasi tersendiri. Tidak sebatas perempuan saja, akan tetapi juga laki-laki.

Memperbincangkan kelompok radikal dan ekstrim tidak sedikitpun ada tujuan untuk menjelek-jelekkan agama tertentu. Akan tetapi dialog-dialog yang da bertujuan untuk menyuarakan bahwa gerakan-gerakan tersebut berbahaya dan berdampak buruk terhadap kesatuan negara.

Sehingga, narasi-narasi untuk melawan gerakan ekstremisme ini diperlukan agar menekan berkembangnya dikalangan masyarakat. utamanya melalui media.  Kita perlu merangkul kembali teman-teman dan saudara-saudara kita yang terlajur masuk dalam gerakan-gerakan ini. Salah satunya adalah dengan melalui kekuatan cinta, dan menegaskan bahwasanya Tuhan menciptakan kita semua dalam keberagaman. Sehingga, tidak timbul rasa untuk menyamakan perbedaan yang justru dapat memicu gerakan-gerakan radikal dan ektrem tadi.

Tulisan ini disarikan dari hasil Ngopeace yang diadakan atas kolaborasi antara Gubuk Tulis dan Ngalam Peace Leader. Dengn pemateri Ruby Kholifah (Direktur AMAN Indonesia)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here