Perempuan adalah makhluk ciptaan Tuhan yang secara esensi memiliki hak sama dengan laki-laki. Hanya saja seringkali perempuan dinggap sebagai makhluk nomor dua. Tak terkecuali dalam hal pendidikan, banyak perempuan yang tidak bisa mengenyam pendidikan tinggi karena adat ataupun lingkungan. Disisi lain tugas perempuan dirasa selesai dalam ranah dapur, kasur, dan sumur.

Menarik untuk dibahas, Perempuan Bergerak salah satu komunitas yang konsen pada isu-isu perempuan di Kota Malang mengadakan diskusi online ngabuburead di tengah pandemi covid-19 bersama Anifatul Jannah selaku pemantik dengan mengambil tema ‘’Haruskan Perempuan Berpendidikan Tinggi ?’’

Pemantik yang merupakan lulusan Magister Islam dan Kajian Gender memaparkan dengan detail betapa pentingnya perempuan menempuh pendidikan tinggi. Pendidikan menurut Anifa adalah proses belajar setiap hari, setiap saat, dan setiap waktu. Tidak hanya sebatas pendidikan formal saja. Seminar, kongkow, dan diskusi juga merupakan pendidikan meskipun sebatas informal.

Penting semuanya untuk diikuti karena kita belajar dari buaian sang ibu sampai liang lahat. Perlunya pendidikan bagi perempuan adalah upaya untuk penyetaraan dengan laki-laki, bukan berarti perempuan nantinya akan menjadi ancaman bagi laki-laki.

Hanya saja tidak sedikit dalam suatu keluarga lebih mengutamakan pendidikan laki-laki ketimbang perempuan. Sedangkan, pendidikan tidak diperuntukkan hanya untuk laki-laki tetapi perempuan memiliki hak yang sama.
Acap kali faktor lingkungan menjadi penghambat bagi perempuan untuk menempuh pendidikan formal. Bagaimana tidak, adat ataupun tradisi yang sudah melekat di masyarakat sulit untuk diubah. Mereka berfikir bahwasannya orientasi pendidikan hanya untuk mencari pekerjaan, sedangkan dalam keluarga laki-laki lah yang memiliki tanggung jawab dan tulang punggung keluarga. Pandangan itu perlu sedikit diluruskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dalam keluarga.

Perempuan yang kelak akan menjadi ibu merupakan ‘’al ummu madrasatul ula’’ yang pada hakikatnya pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan akhlak pada anak tergantung bagaimana cara perempuan mendidik anak. Keluarga yang tidak mendukung anak perempuanya untuk perpendidikan tinggi menjadi masalah baru di masyarakat. Lagi-lagi anak perempuan disarankan untuk menikah ketika sudah cukup umur.

Memang pada dasarnya menikah adalah sunah agama akan tetapi menuntut ilmu adalah wajib hukumnya. Dan menikah tidak menjadi jaminan menyelesaikan persoalan.
Orientasi yang salah dalam menempuh pendidikan tidak jarang membuat perempuan menjadi pesimis di masyarakat. Misalkan perempuan menempuh pendidikan tinggi demi mencari gelar kemudian ekspektasi harus bekerja sesuai fakultatif dan pada kenyataanya tidak demikian akan memunculkan stigma baru bahwa pendidikan tidaklah penting. Perlu digaris bawahi adalah inti dari belajar atau menempuh pendidikan adalah tanggung jawab untuk mengamalkan ilmu yang telah didaptkan. Tidak harus melalui jalur fakultatif, tapi bisa melalui jalur alternatif sesuai dengan bakat dengan pashion masaing-masing individu.

Anifatul Jannah selaku Koordinator Arus Informasi Santri (AIS) Nusantara dan juga penulis buku ‘’Jomblo Nikah Santri Punah’’ berpesan agar perempuan semangat membaca dan belajar di pendidikan formal ataupun informal. Pondok pesantren yang dahulu dipandang sebelah sekarang sudah banyak yang memiliki pendidikan formal bahkan hingga tingkat universitas.

Boleh jadi masalah utama dalam menempuh pendidikan adalah biaya, akan tetapi hal tersebut tidak perlu dirisaukan karena banyak beasiswa yang diberikan oleh pemerintah ataupun swasta bagi siapapun yang ingin belajar. Perempuan ketika menjadi mahasiswa harus berani keluar dari zona nyaman.

Organisasi adalah kunci untuk menggali bakat dan mengasah keahlian di bidang yang sekiranya itu adalah kelemahan kita. Pulang malam dalam berorganisasi adalah hal yang biasa, asalkan kita memiliki karya dan bisa membuat orang tua bangga itu semua tidak akan menjadi masalah. Laki-laki ataupun perempuan ketika menempuh pendidikan sambil bekerja dan ingin belajar agama tetapi tidak ada waktu ke pesantren, tidak perlu khawatir karena banyak media-media Santri ataupun pondok yang menyiarkan langsung ngaji kitab di pesantren. Asalkan tidak salah memilih akun media, agar tidak terjebak pada ajaran radikal ataupun liberal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here