Ibu Pluralis bangsa hari ini (Rabu, 18 Desember 2019) menjadi sorotan di berbagai media. Ibu Nyai Hj. Dra. Sinta Nuriyah, M.Hum, resmi memperoleh gelar Doctor Honoris Causa di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Istri mendiang Presiden RI keempat KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini menjadi sosok inspiratif bagi semua kalangan tanpa terkecuali.

Perjuangan Ibu Sinta dalam memperjuangkan demokrasi dan nilai-nilai kemanusiaan di Indonesia bersama Gus Dur tidak perlu diragukan lagi. Keistiqomahan beliau dalam menyuarakan hak-hak kemanusiaaan terus berlanjut bahkan setelah Gus Dur wafat. Semangat sebagai seorang aktivis perempuan yang bergerak untuk kemashlahatan bangsa sudah seharusnya menjadi inspirasi tersendiri bagi kita kaum perempuan. Mengingat masih rendahnya motivasi seorang perempua untuk bergerak dalam hal kebaikan.

Gelar Doctor Honoris Causa yang hari ini disematkan kepada beliau sejatinya memiliki pesan penting bagi kita semua. Tentang urgensi pendidikan bagi seorang perempuan. Pidato ilmiah yang Ibu Sinta sampaikan berangkat dari pengalaman spiritualitas perempuan. Hal ini kemudian yang menjadi sorotan, bahwa pengalaman dari seorang perempuan adalah ilmu yang sangat berharga.

Pada dasarnya, gelar sebatas imbuhan yang disematkan pada nama kita. Apresiasi yang tinggi juga penting agar menjadi semangat tersendiri untuk belajar lebih banyak lagi. Namun, sisi lain yang harus kita lihat adalah bagaimana perjuangan beliau dalam memperoleh gelar tersebut. Militansi dan kecintaan beliau yang sangat tinggi terhadap ilmu pengetahuan mendorong beliau untuk terus belajar dan memberikan kebermanfaatan bagi orang banyak.

Dari Ibu Sinta kita sebagai seorang perempuan sudah seharusnya banyak belajar dan mengubah pola pikir menjadi lebih open minded, bahwa sejatinya perempuan tidak lagi dibatasi untuk memnuntut ilmu layaknya laki-laki. Dizaman modern ini, perlu adanya pelurusan presepsi, bahwa perempuan berpendidikan bukan untuk menyaingi laki-laki, namun ada hal penting diluar itu yang perlu diperhatikan. Karena perempuan nantinya akan menjadi madrasatul ulla bagi anak-anaknya. Disinilah mengapa kemudian perempuan berpendidikan dan memiliki wawasan luas juga sangat penting.

Menjadi seorang Ibu pluralis seperti sosok Ibu Sinta yang memiliki ilmu dan wawasan tidak hanya dirasakan oleh anak-anak beliau saja, namun secara luas dirasakan oleh anak-anak bangsa saat ini. Pemikiran-pemikiran beliau tentang kemanusianan menjadi pembelajaran berharga untuk kemudian dijadikan sebagai pemantik kita generasi muda untuk berjuang menyaurakan keadilan dan kemanusiaan di bangsa ini.

Sebuah inspirasi yang dapat kita jadikan teladan adalah beliau tidak berhenti untuk berkarya dan belajar tanpa kemudian dirumitkan dengan usia. Hal ini yang harus menjadi pegangan bagi generasi sekarang. Bahwa berjuang dan berproses tidak akan ada habisnya. Selama Tuhan masih memberikan kita nikmat untuk bernafas, syukuri hal itu dengan terus berbuat kebaikan. Teruslah belajar dan memberikan kebahagiaan bagi siapa saja. Abadikan dirimu dalam karya dan kebaikan. Agar nantinya ketika kau tiada tidak hanya meninggalkan nama di batu nisan, namun juga karya yang akan selalu dikenang.

 

Selamat atas gelarnya Ibu Sinta, semoga menjadi inspirasi untuk kita semua terus belajar dan berkarya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here