“Apakah sudah jadi kodrat perempuan ya, tidak boleh keluar malam?”. Di sela-sela diskusi Ulfa salah seorang kawan perempuan menyela dengan pertanyaan yang terbilang sederhana, namun sekaligus rumit. Kami dari pihak laki-laki terpancing untuk mendengar lebih jauh  perihal kegelisahan yang Ulfa rasakan.

Beberapa jam sebelum berangkat menuju lokasi forum, Ulfa mengaku dicecar beberapa pertanyaan interogatif oleh ibu kosnya terkait kebiasaannya keluar sampe kisaran pukul sebelas malam. Ulfa memang terhitung aktif mengikuti forum diskusi yang rutin kami gelar dua kali dalam sebulan. Dan normalnya, diskusi yang kami lakukan berdurasi dalam rentang waktu anatara pukul 20:00-23:00 WIB. Atau kadangkala kami bisa saja larut dalam gelombang pembicaraan hingga menjelang subuh.

Problem yang dialami Ulfa atau mungkin juga hampir semua perempuan di lingkungan kita; keluar sampai larut malam adalah hal yang tabu dan berkonotasi negatif. Ulfa mengaku sering ditampar ibu kosnya dengan pernyataan provokatif semisal, “perempuan yang sering keluar malem, itu berarti perempuan gak bener”, “bukan perempuan baik-baik”, dan ungkapan-ungkapan sejenis. Maka malam itu, Rabu (13/11), pada edisi kajian kami yang ke sekian Ulfa memberanikan diri untuk bertanya; betapa perempuan  mengalami suatu hal yang kami bahasakan sebagai “penyempitan ruang dan waktu”. Sehingga yang terjadi adalah kesenjangan pola gerak antara laki-laki dengan perempuan, sekalipun dalam muatan yang sama persis.

Sederhananya; Ulfa memandang bahwa ternyata laki-laki memiliki kesempatan lebih luas dalam proses memaksimalkan potensi diri. Dimana laki-laki selalu mendapat pemakluman hampir tak terbatas ketika sudah masuk dalam proses di dalamnya. Pertanyaan besar Ulfa berikutnya adalah, “jika perempuan yang beraktivitas di luar rumah sampai larut malam cenderung diidentikkan dengan anasir-anasir negatif, kenapa hal serupa justru tidak berlaku bagi laki-laki?”. Atau “kenapa muatan positif di balik keluar malam tadi selalu tidak pernah disentuh?”. Sebab menurut Ulfa, sampai jam berapapun, selama aktivitas dalam poros tersebut tidak merugikannya sebagai seorang perempuan, menurutnya hal tersebut tidak patut dipermasalahkan.

“Enak ya jadi laki-laki, bisa bebas”, celetuknya dengan nada pasrah. Lebih jauh lagi Ulfa memberi penekanan; sebenarnya 24 jam ini milik siapa?. Bukankah perempuan dan laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sama atas waktu?. Pertanyaan berikutnya yang keluar dari Ulfa adalah, perihal sampai pada batas manakah kodrat perempuan?. Apakah tidak boleh keluar sampai larut malam adalah kodrat alamiah perempuan?. Alasan teoretis yang menyebut bahwa hal tersebut merupakan upaya melindungi atau meminimalisir potensi terjadinya kejahatan terhadap perempuan (semisal pelecahan seksual) bagi ulfa hanyalah pretensi apologis belaka. Sebab tidak bisa dipungkiri, barangtentu kasus kejahatan terhadap laki-laki (berupa pembegalan misalnya) toh nyatanya mungkin-mungkin saja terjadi.

Begini, tanpa sedikitpun mengurangi hormat saya kepada perempuan lebih khusus kepada Ulfa, saya kira ada sudut pandang yang harus diperluas untuk tidak mengatakan diubah. Bicara peran, secara kodrati laki-laki dan perempuan sama-sama memikul peranan yang sama besarnya dan sama beresikonya. Ada enaknya sekaligus ada juga tidak enaknya, tentu. Jika menurut pandangan Ulfa menjadi laki-laki (dengan kebebasan waktu) itu enak, semestinya laki-laki juga memiliki sudut pandang bahwa menjadi perempuan juga sama enaknya. Sebab di lain sisi laki-laki kadangpula merasa  berat atas beban tanggung jawab (sebagai yang berkwajiban mencari nafkah).

Masalah tersebut teramat kompleks, dan saya tidak berada dalam kapsitas memberi suatu problem solving. Maka pada akhirnya semua saya kembalikan kepada Ulfa secara pribadi. Setiap keputusan yang kita ambil tidak pernah lepas dari resiko yang berbuntut di belakangnya. Takar dan ambillah resiko sesuai porsi yang kita mampu. Sering keluar sampai larut memiliki resiko berhadapan dengan stigma negatif, pulang lebih awal pun juga beresiko pada ketidakmaksimalan dalam mengikuti suatu kegiatan. Keduanya sama-sama memiliki resiko bukan?, besar-kecilnya hanya kita secara personal yang tahu dan bisa menakar. Jika pulang lebih awal kita anggap beresiko lebih kecil, maka silahkan lakukan. Atau jika pulang larut malam (asal untuk kegiatan yang positif) masih menjadi pilihan yang kita anggap wajar, silahkan ambil. Analogi terdekat misalnya dalam urusan makan; pada akhirnya yang tahu persis dengan kadar tampung perut kita adalah kita sendiri, bukan orang lain.

Namun ada yang perlu digarisbawahi, bahwa secara kultural, norma-norma yang berlaku di masyarakat terbentuk sudah sedemikan rupa. Bahwa pembatasan terhadap ruang gerak perempuan dalam konteks ini adalah bagian dari konsep: mengorbankan satu kepentingan personal demi terciptanya kemaslahatan secara koletif. Konsep ini populer sebagai konsep hidup epicurianisme. Kemaslahatan kolektif di sini tentunya berkaitan dengan kondisi sosio-kultural, adat, undang-undang, dan kehidupan keagamaan suatu komunitas masyarakat. Sebagai bagian dari suatu sistem tersebut, agaknya kita perlu mempertimbangkan seberapa jauh dampak yang timbul jika kita menaati atau seandainya kita melawan arus terhadap norma sosial, norma adat, dan norma agama, serta perundang-undangan yang berlaku.

 

Malang, 2019

 

Bioadata pengirim:

Nama lengkap Muchamad Aly Reza, mahasiswa aktif di Prodi Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Ampel Surabaya. Berasala dari Rembang, Jawa Tengah, dan aktif di Komunitas Literasi Media Rasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here