Jam sepuluh malam, dan seharusnya waktu tidur. Tapi jempol masih saja menggulir layar, berhenti sejenak di sebuah unggahan pantai di Bali, kopi seharga puluhan ribu di kafe konsep industrial, sepasang sepatu edisi terbatas yang baru saja dibeli teman lama. Dalam hitungan detik, rasa nyaman berubah jadi gelisah yang sulit dijelaskan. Pertanyaan yang muncul bukan lagi “apa kabar dia?”, melainkan “kenapa hidupku tidak seperti itu?” Ini bukan kejadian sesekali. Ini adalah ritual harian jutaan anak muda Indonesia, dan diam-diam, ritual ini sedang menguras rekening mereka.
Fenomena ini punya nama Fear of Missing Out (FOMO) ketakutan tertinggal dari pengalaman atau tren yang sedang dinikmati orang lain. Dulu, FOMO mungkin hanya membuat seseorang merasa kurang gaul. Kini, bagi Generasi Z, FOMO telah bermetamorfosis menjadi persoalan yang jauh lebih serius, krisis keuangan yang sunyi namun meluas. Algoritma media sosial tidak dirancang untuk membuat penggunanya bahagia ia dirancang untuk membuat penggunanya terus kembali.
Setiap notifikasi, like, dan komentar memicu pelepasan dopamin, mekanisme yang sama yang bekerja pada kebiasaan adiktif lainnya. Yang membedakan generasi ini dengan generasi sebelumnya adalah intensitas paparan terhadap “kehidupan orang lain versi terbaik” sebuah sorotan yang telah disunting, difilter, dan dikurasi habis-habisan. Masalahnya, otak manusia tidak pandai membedakan antara highlight reel dan realitas. Ketika hidup yang biasa-biasa saja terus-menerus dibandingkan dengan momen puncak kehidupan orang lain, yang lahir bukan inspirasi, melainkan rasa tidak cukup. Dan rasa tidak cukup itu, pada generasi yang tumbuh dengan satu klik jarak menuju konsumsi, paling sering dilampiaskan lewat belanja impulsif.
Sialnya, dorongan emosional ini bertemu momentum yang sempurna, ledakan fitur pembiayaan digital. Paylater, pinjaman daring, dan berbagai skema “beli sekarang, bayar nanti” menawarkan ilusi kemampuan finansial yang sebenarnya tidak ada. Data berbicara jelas soal ini. Riset kolaborasi Kredivo dan Katadata Insight Center mencatat bahwa pengguna Paylater di Indonesia didominasi kelompok muda Milenial (43,9%) dan Gen Z (26,5%). Di level global, riset Credit Karma menemukan 39% Gen Z rela berutang demi bisa mengikuti tren di lingkaran sosialnya.
Sementara itu, laporan IDN Research Institute mengungkap dampak budaya YOLO dan FOMO terhadap tabungan Gen Z, yang rata-rata hanya menyisihkan sekitar 10% dari pendapatan bulanan mereka. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun telah memberikan sinyal waspada, kemudahan akses produk keuangan digital berpotensi menjadi bumerang jika tidak dibarengi literasi mengelola risiko. Proses pengajuan yang serbainstan membuka pintu bagi kebiasaan gali lubang tutup lubang pola yang, jika dibiarkan, sulit dihentikan.
Di balik unggahan yang penuh senyum, tersimpan realitas yang jauh lebih muram. Ketika cicilan menumpuk dan sebagian besar gaji bulanan habis untuk melunasi konsumsi masa lalu, ruang untuk menabung dan membangun dana darurat pun tertutup rapat. Yang tersisa adalah stres finansial berkepanjangan kecemasan yang terus membayangi, potensi depresi yang meningkat, hingga produktivitas kerja yang tergerus karena pikiran terus-menerus disita oleh utang. Ironi besarnya, usaha keras untuk tampak bahagia di dunia maya justru menjadi sumber kerapuhan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Jalan keluar dari lingkaran ini dimulai dari satu keputusan sadar, berhenti berlari mengejar validasi yang tidak pernah benar-benar cukup. Konsep Joy of Missing Out (JOMO) menawarkan perspektif sebaliknya dari FOMO menemukan ketenangan justru dalam keputusan untuk tidak selalu ikut arus.
Langkah konkretnya sederhana namun butuh konsistensi, melakukan digital detox secara berkala, mengkurasi ulang feed media sosial agar tidak jadi sumber perbandingan yang toksik, menerapkan aturan jeda 48 jam sebelum membeli sesuatu untuk memastikan itu kebutuhan bukan sekadar dorongan sesaat, serta mendisiplinkan alokasi keuangan lewat metode 50/30/20-50% kebutuhan, 30% keinginan, 20% tabungan dan dana darurat. Pujian di media sosial bersifat sekilas dan mudah menguap. Tapi jejak dari keputusan finansial yang gegabah bisa membekas bertahun-tahun lamanya. Sudah saatnya generasi muda berhenti membiayai gaya hidup yang sejatinya hanya dirancang untuk membuat orang lain di media sosial terkesan.

Penulis: Muhammad Khafid Muktadir (Mahasiswa Magister Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta)






