Dua Garis Biru: Sebuah Film Berjuta Pesan

0
44

Seperti halnya kehidupan yang selalu menwarkan berbagai kejadian dengan beraneka ragam kisah yang pahit, pilu, manis juga mengesankan. Hal itu pulalah yang dihadirkan oleh berbagai penulis film untuk mampu mengangkat cerita dari masyarakat agar dapat menjadi hiburan juga membuat kita lebih sadar arti kehidupan.

Setiap detik dan peristiwa yang terjadi entah kita dengar atau alami selalu memiliki pelajaran jika kita mau menguliknya. Sebuah film yang cukup meledak setelah penayangannya pada Juli 2019 ini menarik banyak perhatian masyarakat khususnya remaja, karena memang ceritanya yang begitu relevan dengan kehidupan saat ini.

Sebagian besar saya yakin remaja Indonesia sudah menyaksikan film Dua Garis Biru. Film yang menceritakan tentang sepasang remaja SMA yang berpacaran hingga melakukan hubungan yang tak seharusnya yang menjadikan Dara sebagai pemeran wanitanya hamil. Namun hal berbeda disajikan oleh sang sutradara sekaligus penulisnya Ginatri S. Noer dengan menyajikan tindakan berbeda sepasang remaja yang bertanggung jawab untuk menghadapi kehidupan sebagai orang tua.

Di balik itu semua banyak sekali pesan dari kejadian tersebut bagi remaja juga orang tua bahkan guru, yang jika sekarang kita lihat jam sekolah lebih panjang dan memungkinkan anak lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah.

Bagi remaja sendiri sindiran keras dari film ini adalah melarang kita untuk berpacaran. Karena bagaimanapun bentuknya pacaran akan mampu membawa kita menuju perzinaan. Tak peduli seberapa besar mimpi juga prestasimu jika cinta sudah menguasai bukan tidak mungkin akan bernasib sama dengan Dara. Dara yang pintar juga dengan mimpi besarnya belajar di koreapun bisa ada dititik paling disesalkan dalam hidupnya.

Jangan pernah mencoba untuk berpacaran dan berpacaran untuk mencoba. Bertindaklah tegas untuk tidak pernah memberi kesempatan lelaki untuk kau terima, karena jika kau melakukannya ia akan merasa memilikimu. Cukup berteman sewajarnya dan menjaga keistimewaanmu karena sesuatu yang sudah terjadi layaknya pada Dara tak akan ada yang mampu mengembalikan.

Jangan pernah mengajak teman laki-laki main ke rumah apalagi sampai ke kamar. Sosok seperti Bima hanya ada di film, jika kita mungkin bisa kagum dengan Bima yang mau bertanggung jawab merawat anaknya dan tidak meninggalkan Dara karena benar-benar mencintainya, bahkan bersedia bekerja dan menikahi Dara. Namun dalam dunia nyata hal itu hampir tidak ada karena cinta di usia SMA masih sangat labil. Fakta yang adapun laki-laki yang sudah menghamili pacarnya akan meninggalkan sang pacar atau meminta untuk menggugurkan kandungannya, meski tidak dilakukan di film ini tapi dalam dunia nyata fakta inilah yang terjadi.

Untuk remaja yang sudah melakukan kesalahan ini jadilah seperti Dara dan Bima yang memutuskan untuk membiarkan bayinya tetap hidup, bahkan bersedia menapaki hidup sebagai orang tua dalam mendidik anak yang dalam hal ini adalah pekerjaan tidak mudah dengan kurun waktu seumur hidup. Tak lupa jadikan itu penyesalan terbesar yang menjadi cambuk lebih dekat dengan Sang Kuasa juga menjadi pribadi yang lebih baik dengan tetap memperjuangkan mimpi seperti yang dilakukan Dara untuk mampu menjadi orang tua yang dibanggakan sang anak nantinya.

Tak kalah penting adalah bagian dari peran orang tua yang tak pernah lepas dari permasalahan yang dilakukan anak. karena pola pengasuhan anak, pendampingan dan kasih sayang adalah hal terpenting dalam pembentukan kepribadian anak, jika mereka tak mendapatkan salah satunya saja maka mereka akan mencari itu diluar dan jangan salahkan jika anak melakukan hal yang tak seharusnya.

Dalam film ini Dara sering ditinggal ke luar kota oleh orang tuanya, itulah yang membuatnya mudah mengajak Bima untuk main kerumahnya hingga hal yang tidak diinginkan terjadi. Dar sinilah mengapa memiliki waktu bersama anak, berbagi cerita, menjadi temannya adalah hal yang penting untuk memahami anak dan mengarahkannya untuk menjadi pribadi yang terbaik.

Untuk guru sebagai orang tua kedua, pemberian materi tentang cara bergaul dengan lawan jenis adalah hal yang utama, khusunya diberikan pula contoh riil dan pelaksanaanya di sekolah agar anak mampu memahami dan menerapkannya. Guru harus siap memantau murid dengan tidak memarahi namun menjelaskan dan memberi fakta bahaya pacaran. Hal sederhana seperti larangan duduk sebangku laki-laki dan perempuan, berboncengan, juga membatasi aktivitas antara lawan jenis.

Krisis moral dan perilaku yang semakin menjadi patutlah menjadi renungan kita bersama, terlebih remaja lah penentu kehidupan yang akan datang. Dengan menyelami dan mempraktekkan pesan dari tuntunan yang kita lihat agar generasi kita mampu menjadi generasi di akhir zaman yang memiliki karya dan kontribusi besar untuk bangsa bahkan dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here