Mubaadalah merupakan sebuah konsep pemikiran yang berperspektif kesalingan, konsep ini menerapkan pola kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, di antara keduanya tidakada pihak yang lebih unggul maupun lebih rendah, keduanya setara sebagai makhluk di hadapan Allah SWT.
Baru-baru ini, lahir sebuah Novel bertajuk Sastra Mubaadalah dari seorang penulis bernama Muyassarotul Hafidzoh, pada mulanya novel ini merupakan cerita bersambung yang diposting di web Fatayat DIY. Novel ini mengisahkan kehidupan seorang penyintas kekerasan seksual dan berangkat dari true story.
Proses kepenulisan?
Proses penulisan novel ini diawali saat penulis menghadiri forum KUPI, dalam forum kupi setiap peserta diwajibkan untuk mengkampanyekan nilai-nilai yang dibahas saat KUPI yakni mengenai kekerasan seksual, pernikahan anak dan lingkungan.
Penulis kemudian melihat kondisi sekitar yang sulit menerima teks-teks berat mengenai nilai yg akan dikampanyekan, sehingga penulis bertekad menyampaikan nilai-nilai tersebut dengan cara yang lebih ringan yakni melalui sastra.
Nilai-nilai yang disampaikan tidak hanya mengenai nilai-nilai yang dibahas dalam forum KUPI saja, namun juga nilai-nilai yang terkandung dalam konsep mubaadalah, seperti pembahasan mengenai poligami, perbedaan antara perkosaan dan perzinahan dan juga kesalingan dalam relasi laki-laki dan perempuan.
Berapa lama proses penulisan Hilda?
Hilda mulai ditulis akhir 2018, saat di episode awal masih belum langsung diminati banyak pembaca, sehingga postingan cerbung Hilda belum konsisten, Sampai di episode 20 ke atas, pembaca Hilda mulai banyak dan pembaca memaksa penulis untuk memposting cerbung Hilda tepat waktu.
Bagaimana proses kepenulisan sehingga dapat menghasilkan tulisan yang mudah diterima pembaca dan terasa ringan?
Dalam setiap bab mengandung Misi tertentu, kemudian penulis mengumpulkan data yang menunjang tercapainya Misi tersebut, data-data dapat berupa referensi maupun kejadian-kejadian yang pernah ada.
Selain itu, Misi dari setiap bab juga dijelaskan secara tuntas. Contohnya seperti misi penyampaian mengenai poligami, problematika yang dirasakan korban kekerasan seksual saat berhadapan dengan hukum
Semasa proses kepenulisan, penulis mengalami duka yang mendalam yakni ditinggal wafat oleh Ayahanda. Berita duka tersebut datang di masa kepenulisan Hilda berada di titik bahagia, yakni saat Gus Wafa mencintai Hilda.
Meskipun begitu, penulis tetap bisa konsisten dan menyelesaikan tulisannya, sebab do’a terakhir dari ayahanda adalah novel Hilda dapat terbit dan dibaca oleh orang banyak.
Penulis mengutip pesan dari Pak Aguk Irawan, bahwa segala hal yang sedang dirasa sebaiknya dimaknai. Saat sedang sakit, maknai kesakitan itu. Saat sedang bahagia, maknai kebahagiaan itu. Saat sedang sedih, maknai kesedihan itu. Suatu saat ketika sedang menulis, akan dengan mudah dapat menarasikan hal-hal yang sedang dirasakan.
Inspirasi penulisan Novel Hilda?
Inspirasi penulisan Novel Hilda berangkat dari Guru-guru penulis seperti Kyai Faqih, penulis meniatkan penulisan Hilda dengan tujuan dakwah, sebab penulis merasa jika lingkungan sekitar sulit menerima pembahasan gender melalui buku-buku tebal, sehingga penulis berinisiatif menuangkan nilai-nilai gender dalam tulisan yang lebih ringan dan lebih mudah diterima.
Kesulitan dalam menuliskan kisah true story?
Banyak yang beranggapan bahwa kisah Hilda merupakan pengalaman pribadi penulis, padahal sama sekali bukan. Sehingga kesulitan yang dirasakan penulis dalam menuliskan Hilda adalah saat mengungkapkan perasaan Hilda sebagai penyintas kekerasan seksual. Hal tersebut mendorong penulis untuk banyak melakukan riset, penulis menghubungi teman-teman yang aktif dalam proses advokasi kekerasan seksual.
Apakah ada lanjutan Hilda yang bernuansa sastra Mubadalah?
Hilda tidak ada lanjutannya, namun penulis sedang proses menulis cerbung baru yang juga diposting di web Fatayat DIY, cerbung tersebut lebih ringan (tidak membahas tentang kekerasan seksual) namun tetap bernuansa nilai-nilai mubaadalah.
Cara menulis fiksi supaya tidak bersifat menggurui?
Menuangkan apa yang ingin disampaikan ke dalam dialog-dialog, sehingga pembaca tidak merasa bosan. Jika dituangkan dalam narasi, pembaca akan merasa sedang membaca artikel.
Jelaskan sisi feminisme dari Novel Hilda?
Banyak sekali sisi feminis yang terkandung dalam Novel Hilda, seperti pesan-pesan untuk tidak melanggengkan sterotip, beban kerja ganda, kekerasan seksual, deskriminasi dan lain sebagainya.
Pernahkah nangis selama proses penulisan Hilda?
Sejak awal sudah nangis, terutama saat mendalami apa yg dirasakan Hilda.
Penulis benar-benar masuk dan mendalami kisah yang sedang ditulis. Tidak hanya kesedihan saja yang dirasakan, tapi juga amarah dan jengkel saat orang-orang tidak bisa memahami Hilda dan juga kebahagiaan saat orang-orang baik mengelilingi Hilda, seperti Andien.
Adakah pengalaman pribadi yang ditulis dalam Novel Hilda?
Ada, terutama mengenai pengalaman kepenulisan. Selain itu banyak juga sosok-sosok yang ada di kehidupan penulis, dijadikan tokoh dalam Novel Hilda.
Mengapa kesetaraan gender harus tetap disuarakan, meskipun harus dihadapkan dengan stigma-stigma?
Kesetaraan Gender atau pemberdayaan perempuan bagi penulis merupakan misi kenabian, Feminist muslim pertama kali bagi penulis adalah Nabi Muhammad SAW, sebab Nabi Muhammad benar-benar mengangkat derajat perempuan. Perempuan yang pada awalnya dikubur hidup-hidup dan tidak dimanusiakan, diangkat derajatnya dan dimanusiakan setelah datangnya islam dan Nabi Muhammad SAW.
Bagaimana cara penulis mengkomunikasikan kesetaraan gender kepada suami?
Kebetulan Suami penulis sejak sebelum menikah dengan penulis sudah memiliki perspektif gender yang baik. Bagi teman-teman yang belum menikah disarankan untuk menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan kebebasan menentukan keinginan setelah menikah seperti ‘bolehkah lanjut sekolah atau bekerja setelah menikah’, menjadi ibu rumah tangga tetap baik jika itu kehendak perempuan sendiri, artinya menjadi ibu rumah tangga bukan karena dikekang oleh suami. Sebab dalam hubungan suami-istri, selain sakinah mawadah warahmah, juga harus maslahah, bermanfaat bagi masyarakat.
Closing statement:
Jangan lupa dibeli atau dibaca Novel Hilda supaya perspektif korban kekerasan seksual dan juga perspektif mubaadalah terbangun dalam pemikiran kita. Dan jangan takut menyuarakan pemberdayaan perempuan atau keadilan gender, karena hal tersebut adalah misi kenabian
Tulisan ini disarikan dari Jagongan Online#1 Bersama Muyassarotul Hafidzoh Penulis Novel Hilda pada Sabtu, 18 April 2020









