Dentuman janji-janji politik memporak-porandakan dapur-dapur warga. Harga beras naik tak terkendali, belum lagi harga telur, daging, dan kebutuhan perut lainnya pun ikut meroket. Anehnya, banyak orang yang terlena dengan makan siang gratis, BBM gratis, atau apalah yang gratis-gratis itu.

Hidup itu tak semanis madu, pun tak sepahit jamu mengkudu, Kisanak. Kita perlu heran, sejak kapan politisi itu menjadi baik dengan rakyat. Nggak ada sejarahnya Kisanak. Apalagi mau ngasih penghidupan atau makan buat Anda-anda semua dengan cuma-cuma dan gratisan. Sudah nggak masuk nuril, eh nalar.

Yuk dipikir bareng-bareng. Kita sekarang hidup di era uang menjadi alat tukar untuk mendapat barang yang kita inginkan. Kita juga hidup di tengah bayang-bayang kekuasaan yang seolah paling berkuasa di atas Tuhan.

Kita juga sedang mencoba bertahan hidup dari sisa-sisa lahan yang sudah dikapling Prabowo, Luhut, Jokowi, atau Oligarkis lainnya kan. Itu pun kalau masih ada pengembang mikro yang berbaik hati jual rumah subsidinya. Kalau nggak gitu, pastikan kolong jembatan steril dari garangan-garangan aja deh.

Hadirin rakyat Indonesia yang berbahagia atau yang terpaksa bahagia. Tahukah Anda bahwa kita sedang dikerjain penguasa? Di mana lahan hijau produktif kita yang luas itu, bagaimana kabarnya food estate itu, dan apa kabar keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? Aduh duh, nasib memang nasib menjadi warganya Pak Lurah satu ini, dekilnya keterlaluan. Beras saja bisa langka dan mahal.

Kalau sudah langka dan mahal begini mau nyalahkan siapa? Mau nyalahkan perubahan iklim? Atau mau nyalahkan orang-orang yang kalau makan nasi, nasinya tidak dihabiskan?

Ya sih, kedua itu bisa jadi faktor. Tapi kan tapi kan. Kalau begitu logikanya, apa bedanya dengan banjir terus menyalahkan air, menyalahkan sampah di selokan. Atau ada polusi udara lalu menyalahkan angin? Mkmk, eh Wkwk.

Coba kalau soal makan nasi yang tidak habis itu, mungkin juga bisa jadi bahan introspeksi. Sebagaimana yang disampaikan Surono Danu akhir tahun lalu di Metro TV. Dia mengatakan bahwa sebutir nasi itu sama dengan sebutir beras, 50 butir sama dengan 1 gram, dan 50.000 butir sama dengan 1 Kg.

Bayangkan saja kalau 279 juta penduduk Indonesia ini perhari membuang nasi sisa satu butir saja setiap kali makan, kalau tiga kali makan berarti tiga butir. Jika 3 butir itu dikalikan jumlah penduduk Indonesia, maka akan ada 837 juta butir beras yang terbuang, atau sama dengan 16.740 Kg atau 16,7 Ton beras terbuang setiap harinya.

Hitung-hitungan Surono Danu dalam hal ini tidak saya ragukan lagi. Saya pernah mengundang dan berdiskusi panjang bersamanya di Malang, 2014 lalu, pada sebuah seminar yang diselenggarakan PMII Pencerahan Galileo. Surono Danu adalah petani yang sangat ulet dan teliti dalam mengamati padi. 40 tahun dia meneliti padi, dan salah satu yang masih saya ingat adalah Padi Unggul yang sering dia promosikan, yakni Padi Sertani.

Surono Danu adalah petani yang semangat meneliti dan mengabdikan dirinya untuk pangan Indonesia patut diteladani. Di tengah krisis pangan, khususnya beras ini, apa yang bisa kita lakukan. Banyak hal yang perlu kita kerjakan bersama. Kelangkaan dan mahalnya harga beras tidak serta merta dari perilaku kita yang keliru.

Memang, jika dihitung-hitung, bangsa ini harus mengingat pesan dari Surono Danu. Jika kita perhari membuang beras 16 Ton perhari, maka berapa Ton per bulan, dan pertahunnya. Tentu ber Ton-ton beras akan terbuang sia-sia. Ingatlah hai warga Indonesia yang katanya beragama ini, bahwa seseorang yang berlaku sia-sia/boros atau mubadzir adalah saudaranya Setan, dan Setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.

Terlepas dari etika kita sebagai manusia pemakan nasi, sayur, dan lauk pauk lainnya, jangan lah sampai lupa bahwa kebiasaan hidup kita juga sangat dipengaruhi lingkungan sosial politik yang ada. Keserakahan kita juga akumulasi dari keserakahan dari perebutan kekuasaan. Bahwa, sesuatu yang kita lakukan secara sadar atau tak sadar adalah produk sosial politik yang ada.

Beras langka dan harganya mahal siapa yang salah? Kalau kita hidup bersama singa, kijang, atau burung-burung di hutan, bisa jadi beras langka adalah salah angin, air, hewan-hewan itu, atau salah manusianya yang kurang maksimal mengelola produk pangannya. Tapi, kita kan hidup di sebuah negara, di bawah bendera kibaran merah putih yang merdeka, ada sistem negara dan pemerintahan – masak hal seperti itu mau menyalahkan angin atau burung pemakan bebijian – kan ngawur.

Mari kembali ke akal sehat, kelangkaan beras dan melambungnya harga beras adalah dosa para pemerintah. Mereka-mereka yang membuat kebijakan dan mengelola ketersediaan bahan pangan di negeri ini. Katanya mau menuju 1 Abad Indonesia Maju Indonesia Emas, masak menghitung ketersediaan beras dengan warga penduduknya yang kebanyakan telat makan aja nggak entos.

Apa benar tuh beras-beras digelontorkan buat Bansos kampanye kemarin? Kalau benar, wah tambah ngawur e, tambah setan e (kalau kata dalil tadi loh ya). Harga beras naik tinggi itu tidak wajar. Beras itu nyawanya Indonesia, kalau banyak warga yang tidak bisa beli beras berarti negara sudah membunuh warganya. Berjuta Bansos bukan lah satu-satunya solusi. Ingat, ketimpangan sosial di negeri ini sangat tajam gapnya.

Stabilitas harga bahan pokok seperti beras perlu segera diatasi. Saya tidak yakin beras dengan harga tinggi itu petani mendapat manfaatnya. Saya lebih yakin kalau para mafia, penimbun, broker, dan pejabat terkait lah yang lebih menerima manfaat dari mahalnya beras yang ada.

Sebagai Bapak, tentunya Bapak-bapak Se-Indonesia, apalagi Emak-emaknya, tingginya harga beras sangat menyengsarakan banyak orang. Ingat Pak Jokowi atau para penjahat eh pejabat lainnya, tolong harga beras jangan disamakan dengan emas. Beras kok rasa-rasanya sudah masuk barang investasi saja. Ini Indonesia loh Pak, bukan Amerika, wong Indonesia kuwi mangan sego Pak Bu, ora mangan roti, opo mane mangan abab-abab politikmu yang bau tak mewangi itu. Hihi.

Ampun, Pak Jokowi Cs. Salam harap, keadilan sosial dari saya, Bapak satu anak. Mkmk, eh Wkwk.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here