Hari ini, 28 April 2020 Gubuk Tulis mengadakan acara rutinan saat Ramadhan sembari menunggu waktu berbuka puasa untuk yang menjalankannya, sekaligus memperingati Hari Puisi Nasional.

Acara tersebut bisa disebut dengan Ngabuburead, ngabuburead kali ini dengan tema “Memikirkan Kata dalam setiap Sajak Sastrawan Indonesia” ditemani oleh Mas Sabiq Carebesth, seorang sastrawan yang puisi-puisinya bisa dijumpai di galeribukujakarta.com dan juga merupakan founder di galeri buku Jakarta.

Beberapa buku kumpulan sajaknya adalah “Memoar Kehilangan” (2011) dan “Tentang Waktu Penyair” (2016). Tak tanggung-tanggung dalam diskusi sore tadi Mas Sabiq juga menamai seorang putrinya dengan nama Sabrina Puisi. Dan berikut adalah beberapa hasil hasil ngabubureaad sharing ilmu mas Sabiq di dunia sastra.

Pandangan Mas Sabiq terkait dunia perpuisian di Indonesia.

Menurut Mas Sabiq dalam dunia perpuisian, ada yang benar-benar bisa menulis puisi dan mengetahui bagaimana struktur, memahami detil, teknis menulis puisi, dan berbagai hal mendalam mengenai puisi. Namun, ada juga yang hanya menulis puisi tanpa ingin mengetahui seluk beluk mengenai puisi.

Cara Mas Sabiq melahirkan berbagai karya yang mempesona seperti beberapanya yang termuat di galeri Jakarta.
Mas Sabiq sendiri secara teknis hanya bisa menulis puisi di atas kertas, tidak bisa di computer, hp atau media apapun, harus diatas kertas kosong dan kertasnya pun harus polos, alat tulisnya pun juga harus yang cocok dan nyaman, pulpen gell salah satunya, jangan sampai ada gangguan sedikitpun misal pulpen macet sudah selesailah buyar semua.

Pengalaman menulis puisi subjektif Mas Sabiq sendiri dianalogikan seperti seseorang yang sedang melukis, keinginan sudah siap, gambaran sudah matang, susunan seperti apa, kata dan diksi harus sudah selesai semua di pikiran, dan adanya feeling, lalu hanya butuh menuliskannya di atas kertas. Sekali membuatnya pun langsung selesai, merevisi atau membaca ulang hasil puisinya hampir tidak pernah di lakukan Mas Sabiq.

Bisanya, latar waktu yang digunakan Mas Sabiq untuk menulis puisi tidak pasti, tapi biasanya pada sore hari, dan malam sesekali, benar-benar butuh memastikan hal-hal yang perlu diselesaikan terlebih dahulu karena menulis sangatlah membutuhkan waktu privasi.

Asal mula inspirasi Mas Sabiq dalam menulis puisi.
Berawal dari menulis surat cinta yang dilakukan Mas Sabiq sejak kelas 5 SD karena ada gadis cantik Jakarta datang ke kampungnya, dan Mas Sabiq belum mengetahui bagaimana caranya berbicara dengan gadis tersebut akhirnya ditulislah sepucuk surat cinta untuk gadis Jakarta tersebut. Lalu saat ditingkat SMP dan SMA Mas Sabiq memiliki postur tubuh yang dibilang kecil, inginnya berolahraga, tapi guru olahraga tidak membolehkan karena alasan tersebut.

Kegiatan di sekolahpun benar-benar semua tidak diperbolehkan untuk Mas Sabiq. Akhirnya, waktu itu pilihannya hanya dua, main catur atau membaca buku. Karena menyukai kegiatan menulis rangkuman, jadilah Mas Sabiq menyukai dunia tulis menulis. Semua surat cinta temanya dituliskan oleh Mas Sabiq dengan imbalan traktiran mi ayam yang pada akhirnya memberikan penggambaran ekspresi pada tiap individu dapat Mas Sabiq rasakan.

Sastrawan yang paling berpengaruh di setiap era peradaban Indonesia versi Mas Sabiq.
Menurut Mas Sabiq, sastrawan yang paling berpengaruuh di setiap era peradaban Indonesia adalah Chairil Anwar. Tapi tiap era pastilah memiliki alasan-alasan terendiri menempatkan setiap sastrawan di era tersebut. Puisi Chairil Anwar tidak banyak, tapi style nya memberi ledakan. Ada kalanya seseorang akan mengalami ledakan, dan momen tersebut akan datang di waktu yang berbeda. Chairil Anwar layak sekali sebagai panutan, unsur musikal dalam puisinya sangat berbeda dengan sastrawan-sastrawan sebelumnya. Musikalnya membawa cita rasa yang bisa dibilang cukup modern.

Kedua adalah Iwan Swatupang, yang mana merupakan sastrawan favorit Mas Sabiq. Dia memang tidak terkenal sebagai penulis puisi/penyair, melainkan mashur sebagai prosaic dan novelis. Tapi menurut Mas Sabiq, ia menulis beberapa puisi yang gaya ledaknya melebihi Chairil Anwar.

Menurut Mas Sabiq puisi juga merupakan sesuatu yang final. Dimana orang tidak menemukan jalan lain untuk dirinya sendiri. Tiap orang memiliki banyak hal pada suatu titik yang harus dilepaskan. Jika puisi tidak bisa menjadi pelepasan, maka bisa dengan hal lain seperti bir, kopi, naik motor, dan yang pasti sesuatu yang membuat ia bergelut dalam dunia batin diri sendiri. Adakalanya menjadi penyair itu bukanlah sebuah pilihan, tapi nasib, karena penyair atau bukan, Mas Sabiq akan tetap menulis puisi, karena dengan puisi ada banyak hal yang tertolong menurut Mas Sabiq.

Opini Mas Sabiq menjadi penulis puisi merupakan suatu hal yang bisa disebut tidak enak. Karena puisi kadang hanya satu bait, dua bait, sedangkan cosmos besar, banyak sekali cakupannya, seperti kenangan, pemikiran, limpahan semua hal, dan segalanya itu merupakan sesuatu yang melelahkan. Lain hal dengan cerpen dan prosa yang cakupannya lebih longgar.

Perbeda puisi dan prosa menurut Mas Sabiq.
Secara teknis perbedaannya adalah unsur metaphor dan penggunaan Bahasa dalam puisi dan prosa. Puisi menciptakan ruang pemaknaan yang lebih besar sedang prosa lebih kongrit. Misal sebuah cerpen bercerita tentang tabrak lari maka kontennya pun hanya tentang tabrak lari, tetapi puisi lebih besar bahasannya dan tafsirnya juga monolog dari penulisnya.

Model pemikiran sastrawan kita, sehingga karyanya bisa selalu hidup sampai sekarang.
Tujuan orang menulis kadang “Mungkinkah yang kita tulis memiliki usia yang panjang?” atau “Mungkinkah karya kita menjadi klasik?”, untuk sekarang banyak yang membuat hal tersebut menjadi sulit. Misal, Joko Pinurbo memiliki banyak puisi, tapi hanya beberapa puisi karya Jokpin yang menjadi klasik seperti puisi yang berjudul “paskah”, investasi dunia batin penulis terhadap puisinya juga akan menentukan puisi tersebut menjadi klasik atau tidak. Di era sekarang, jika kita hanya menuliskannya di story media sosail pasti hanya diingat 3 hari, setelahnya lupa.

Puisi favorit Mas Sabiq dari penyair yang masih berkesan sampai sekarang.
Sebenarnya Mas sabiq sangat jarang membaca puisi di koran atau puisi orang, karena memang cendrung menghindari hal tersebut selama 15 tahun terakhir, bukan karena tidak ingin mengapresiasi para penyair, melainkan karena memang ingin tidak ada residu dari penyair lain yang masuk ke pikiran Mas Sabiq secara tidak sengaja, ingin mengosongkan dari narasi dan diksi penyair-penyair lain.

Tapi yang benar-benar menjadi favorit Mas Sabiq sejauh ini adalah puisi milik Iwan Swatupang, karena adanya ornament burung, anjing, waktu dan lain-lain, juga dengan Chairil Anwar yang berpuisi di detik terakhirnya, seolah baitnya akan berakhir tapi ternyata tidak.

Tanggapan Mas Sabiq terkait sastra digital hari ini, dengan adanya panggung sastra atau pembacaan puisi secara daring.
Membaca puisi menurut Mas Sabiq justru lebih baik dilakukan melalui daring diera sekarang ini. Tapi kalo menurut Mas Sabiq pribadi terkait penulisannya sebagaimana seorang pemuja suatu hal klasik, jadi jikalau memang dalam bentuk tulisan dan ingin membagikannya secara digital harus benar-benar dipilah, karena memantaskan diri sangatlah perlu di era digital seperti sekarang ini agar tidak nyampah. Kita benar-benar harus berfikir pantaskah tulisan kita dibagikan atau hanya konsumsi sendiri saja. Dan untuk pembacaan puisi harus dikuatkan. Seperti audio, kadang pembacaan puisi yang bagus itu tidak membutuhkan instrument musik, karena puisi sendiri sudah mengandung musik. Dan kita harus percaya diri bahwa semua puisi sudah punya iringan musik lalu bisa dinikmati secara tanpa batas.

Pesan dan Harapan Mas Sabiq kepada generasi pemuda pecinta sastra hari ini.
Kita tidak pernah tau bagaimana nasib kita, jika merasa nyaman pada suatu hal dan hal tersebut menolong diri kita sendiri dari keinginan untuk mati atau bunuh diri misal, maka lakukanlah hal terebut, semisal hal tersebut adalah puisi, maka berpuisilah. Karena sesunggunya predikat tidaklah terlalu penting.

Penyair hanyalah predikat, kita subjek dan puisi adalah objek. Yang terpenting adalah kita sebagai subjek dan puisi sebagai objek dimana keduanya bisa selamat. Predikat bukanlah sesuatu yang menentukan atau menyelamatkan diri kita. Jadi, menulis saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here