Setelah di tetapkan karantina wilayah pada awal Maret 2020 pandemi telah mengubah banyak hal. Bukan hanya berdampak pada kesehatan tetapi juga mempengaruhi ekonomi dan sosial. Segala upaya dan usaha telah dilakukan pemerintah. Yaitu dengan karantina wilayah (lockdown) dan social distancing.

Dalam kerangka feminisme ternyata virus COVID-19 membawa dampak pada perempuan dan anak. Dalam lensa feminis kita bisa melihat dengan kritis adanya ketidakadilan, diskriminasi, kekerasan pada perempuan dan kelompok marginal. Pandemi ini membawa krisis di segala aspek kehidupan di dunia.

Di dalam krisis pandemi COVID-19 perempuan dan anak adalah kelompok yang paling rentan. Hal ini disebabkan karena dalam masa krisis adanya ketimpangan, kesenjangan, dan kekerasan yang mengalami peningkatan. Kasus kekerasan rumah tangga dan kekerasan seksual terus meningkat dari awal pandemi hingga saat ini.

Hal ini tidak hanya terjadi di negara Indonesia saja. Di India misalnya, terjadi peningkatan kekerasan rumah tangga pada lockdown minggu pertama. Hal ini bukan kali pertama terjadi. Pada saat kasus epidemi E-bola di Afrika Barat tercatat peningkatan tajam pada kekerasan perempuan hingga 4,5%. Akses kesehatan reproduksi menjadi sebab-sebab klinik pada tutup karena takut dengan penyebaran virus dan ini merugikan perempuan.

Pada saat pandemi terjadi tercatat adanya masalah yang memiliki efek bergender salah satunya adalah akses kesehatan reproduksi sulit. Kemiskinan akses kesehatan yang tidak terjangkau bagi masyarakat minoritas. Data yang tidak terpilah gender mengakibatkan bantuan pemerintah yang tidak tepat sasaran. Hal ini perlu ditangani oleh pemerintah dalam masa pandemi ini.

Konsep gender sebagai isu perempuan harus diperhatikan sebagi upaya untuk meminimalisir persoalan. Contohnya adalah bantuan sembako di masa pandemi seperti ini. Bantuan hanya bersifat reaktif sesaat. Tanpa didasari pemikiran kerangka feminis. Respons pemerintah yang tidak didasari data yang terpilah gender hasilnya sesaat dan tidak tepat sasaran. Sebabnya Indonesia sering melakukan kegiatan bagi-bagi sembako tanpa mengaitkan adanya sistem penindasan yang perlu dibongkar.

Beberapa yang perlu di soroti dalam masa pandemic adalah kesenjangan pendapatan, segregasi gender, dan eksploitasi. Harus adanya tindakan di bidang ekonomi dalam mengurai ketertinggalan perempuan di pasar kerja. Karena partisipasi perempuan di pasar kerja rendah, penididikan yang rendah, adanya pergantian sector ekonomi dari sector pertanian.

Di masa pandemi COVID-19 dunia bergantung pada careworkers yang mayoritas adalah perempuan dan anak perempuan. Contohnya adalah di bidang kesehatan mayoritas perempuan yang berprofesi sebagai perawat berada di garda terdepan dalam melawan pandemi COVID-19. Tetapi pada kenyataanya dokter yang mayoritas laki-laki lebih mendapatkan perlakuan istimewa berbeda dengan perawat yang dianggap biasa saja. Bahkan dalam pembagian intensif perawat mendapatkan intensif yang lebih kecil dari dokter.

Perempuan paling banyak menjadi pekerja esensial, bekerja di pasar, pengasuh anak dan usaha kecil sepeti makanan. Perempuan sering di stigmakan pada pekerjaan yang “layaknya perempuan” yaitu memasak, mengasuh anak, dan melayani suami. Hal semacam ini yang terkadang menimbulkan kekerasan dan terjadi ketidaksembangan.

Pandemi COVID-19 memberikan pelajaran bahwa system ekonomi dan sosial kita sangat rapuh. Terbukti ketika adanya krisis negara tidak mampu menjamin keamanan masyarakat. Kesejahteraan ekonomi dan sosial. Dalam Pandemi COVID-19 perempuan dan anak perempuan masuk di dalam kelompok rentan bersama dengan kelompok-kelompok marginal lainnya. Maka perlu adanya tindakan perubahan sistem dan kebijakan secara total dan memaksa kita semua untuk mengevaluasi sistem ekonomi, sosial dan kultur yang ada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here