Efek rumah kaca membuat album berjudul kamar gelap pada 2008 dan kesemuanya masih menggunakan bahasa Indonesia. Salah satu lagu pada album kamar gelap berjudul “Jangan Bakar Buku”, mengkampanyekan gerakan berhenti melakukan kejahatan literasi. Efek rumah kaca berhasil membuat padu padan nada dan lirik yang sangat pas. Mengambarkan perasaan sedih saat berhadapan dengan buku-buku yang dibakar dengan sewenang-wenang. Nada sendu dan menyayat mengambarkan kejemuan menghadapi orang-orang yang sewenang-wenang membakar sumber pengetahuan untuk kepentingan politis, ideologis, etnis sampai religi.

Kegiatan membakar buku bukanlah sesuatu yang sederhana. Ini adalah bentuk kejahatan yang serius. Kegiatan membakar buku bukanlah kegiatan vandalisme yang dilakukan oleh orang-orang tak berpendidikan, tapi dilakukan oleh orang-orang yang pintar. Karena memang jelas, proses membakar buku adalah kegiatan membatasi manusia untuk mengetahui sesuatu.

Catatan menarik yang dimiliki negeri kita dalam persoalan membakar buku adalah pelarangan manusia membaca beberapa buku yang dianggap berbahaya. Selain melarang membaca, negeri kita juga sering mengubah huruf serta ejaan yang diprakarsai oleh rezim yang kira-kira alasannya untuk membatasi generasi baru mempelajari buku lama yang dianggap berbahaya, meskipun dengan dalih memperbaiki dan penggunaan kata-kata bernuansa positif seperti “disempurnakan”.

Kerumitan-kerumitan yang kita hadapi sepatutnya membuat kita memikirkan serius terkait hal ini. Bagaimana sampai saat ini tetap ada tiran yang menghalang-halangi kita dari sumber informasi. Dan dengan kerumitan ini, kita juga dihadapkan pada satu lagi persoalan yang sebetulnya tak bisa kita anggap enteng, yakni minat membaca. Karena bagaimanapun buku adalah sesuatu yang pasif. Tak akan buku berlarian mencari pembacanya. Sehingga fokus literasi kita saat ini juga sangat perlu memperhatikan sisi aktif, yakni pembaca.

Minat baca saat ini memang benar-benar menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan. Tapi sebelumnya, ini bukan terkait minat baca yang mendudukkan Indonesia di urutan kesekian ratus dengan persentase manusia membaca di Indonesia yang hanya 0,001, bukan soal itu!.

Bukankah sudah terjadi di sekitar kita, bahwa kehidupan kita hanya berisi persaingan? Konsekuensi logis yang kita hadapi dari persaingan ini adalah parsialnya informasi yang kita serap. Kita bersaing untuk dicap lebih kanan dari kelompok lain, sehingga kita berusaha mengkanan-kanankan pikiran, bacaan dan tindakan sampai melupakan sisi kiri.

Saat kita sudah bersedia mengaku penganut paham bumi bulat, apakah kita telah selesai membaca semua buku yang memberbincangkan bumi datar, sehingga kita punya argumen logis dalam menolak anggapan bumi itu datar?. Jangan-jangan selama ini kita hanya memaki pemeluk bumi datar tapi tak pernah sekalipun tahu argumen mereka. Atau bahkan kita sudah lupa kenapa kita meyakini bahwa bumi itu bulat!, dan hanya berkutat pada “pokoke koe sesat!”. Ini baru sedikit persoalan dengan bentuk bumi, lalu diskusi kita pada hal lain apa kabar? Soal gender, sains terapan, beragama, dan lain-lain, apakah memiliki nasib seperti dialog kita saat membicarakan bentuk bumi yang kaku dan sedikit-sedikit menyalahkan?.

Satu hal yang tak kalah penting dari slogan “Jangan Bakar Buku” adalah slogan “Menolak Berhenti Membaca”.

Prof. Joko Saryono dalam sebuah kesempatan berdiskusi dengan Gubuk Tulis pada tanggal 3 Januari 2018 mengatakan bahwa literasi diri juga melalui tahapan-tahapan. Tahapan paling bawah adalah saat kita membaca buku masih perlu paksaan dan yang paling tinggi adalah saat kita sudah merasa butuh pada kegiatan membaca buku. Sehingga saat kita tarik term ini pada apa yang kita lakukan selama ini, proses belajar di kelas dari SD sampai kuliah ternyata masih dalam tahapan literasi dini, karena kita masih terpaksa membaca, bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa mahasiswa belajar adalah suatu bentuk keterpaksaan, terpaksa membaca agar mendapat nilai “A”. Tujuan sekolah pun sudah berbelok dari menjadi ilmu, mencerahkan jiwa dan nurani menjadi jalan mencari kerja. Sehingga keinginan mencari informasi menjadi sesuatu yang sulit terjadi, karena sejak dalam pikiran, yang tertanam bukan aku mengerti, tapi aku mendapat nilai bagus dan kerja yang mapan.

Kegiatan luar bangku sekolahpun senada, apa tujuan kita membaca buku tema ideologi kiri? Untuk sumber informasi dan bermuara pada gerakan yang dekat dengan masyarakat atau hanya sekedar keren-kerenan dan punya bahan untuk mengolok teman yang bertingkah borjuis?. Apa tujuan kita belajar fundamental agama? Untuk memperbaiki tauhid atau hanya agar dianggap berbeda dengan orang yang memiliki pandangan liberal pada agama dan agar mempunyai argumen untuk menyalahkan teman-teman yang berpikir liberal pada agama?.

Sekali lagi ini bukan soal posisi Indonesia yang minat bacanya hanya 0,001 persen, tapi soal bagaimana kita tidak menutup diri pada informasi. Bagaimana kita bersemangat menuntut ilmu, dan tidak menjatuhkan vonis sesat pada salah satu ilmu sebelum kita tahu, tidak alergi pada sesuatu yang kita benci, dan menjauhkan diri pada argumen-argumen yang tak kita sepakati. Sehingga sadar dan melek mata, hati dan nurani adalah sebuah cita-cita yang patut kita usahakan. Siapapun yang akan membersihkan rumah yang kotor adalah yang sadar bahwa rumah itu kotor. Cara kita mengetahui rumah itu kotor adalah dengan membuka mata dan sadar bahwa rumah sedang kotor. Tidak dari asumsi-asumsi dan perenungan semata.

Lalu saat buku-buku sudah habis terbakar dan manusia tak lagi bergerak mencari dan membaca buku, bagaimana kondisi dialektis kita di masa-masa yang akan datang?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here