Tahap usia anak memang sangat perlu perhatian intensif dari orang tua. Batasan usia anak menurut UU yang berlaku di Indonesia adalah di bawah 18 tahun,  namun kaitannya di sini akan lebih kita bahas untuk usia sebelum remaja yakni di bawah 12 tahun. Selain untuk menemani waktu belajar dan tumbuh kembangnya, menemani anak untuk bermain adalah hal yang sangat penting. Di era milenial seperti saat ini anak sangat kehilangan dunianya.

Seperti kita tahu anak memang salah satu peniru terbaik, juga penyerap paling handal hal-hal disekitarnya. Saat ini menjadi usia emas untuk menerapkan berbagai hal baik terutama tentang agama, karena itu akan menjadi pondasi dan kekuatan yang akan mereka pegang hingga dewasa.

Sayangnya, banyak hal yang seharusnya mereka dapatkan tapi tidak terpenuhi. Mirisnya hal ini tak cukup diperhatikan berbagai pihak termasuk orang tua dan bahkan dianggap biasa. Anak yang bermain game online, youtube menjadi pemandangan sehari-hari yang biasa kita lihat bahkan di usia balita.

Kebutuhan akan teknologi saat ini memang tak bisa dipisahkan dalam kehidupan kita termasuk anak-anak, namun kita harus mampu menjadi orang tua cerdas untuk anak dengan mampu mengenalkan mereka pada teknologi namun sama sekali tidak merenggut dunianya.

Saat ini peran orang tua, khusunya ibu hampir 60  persen digantikan oleh gadget, anak lebih sering belajar dengan bantuan gadget dan bermainpun asyik dengan ponselnya. Sangat jarang kita temui anak bermain sepak bola, engkle, gobak sodor, dakon, petak umpet ataupun permainan lainnya yang dilakukan bersama-sama sehingga hal tersebut menjadi pemandangan yang sangat mahal untuk dapat kita saksikan kembali, bahkan di desa-desa.

Menurunnya berbagai kebiaaan bermain anak tidak lain karena mereka sudah mengenal gadget dan lebih suka memainkannya daripada bermain secara langsung dengan teman-temannya. Kurangnya larangan tegas dari orang tua juga menjadi faktor pendukungnya.

Memang tidak bisa dipungkiri jika saat ini orang tua, juga seorang Ibu banyak sebagai wanita carir. Hal ini membuat mereka tak banyak memiliki waktu untuk bermain dengan anaknya. Padahal saya sangat yakin jika anak sebenarnya juga tidak nyaman bermain berlama-lama di depan layar ponselnya, naluri mereka sebenarnya akan lebih senang jika diajak bermain bersama ibu, saudara, atau keluarga lain dengan mainan sesuai usia mereka.

Kesibukan orang tua yang pada akhirnya memberikan ponsel pada anak untuk bermain agar mereka tidak merengek atau menganggu pekerjaannya akhirnya yang membuat mereka nyaman dengan ponselnya, padahal mereka hanya melampiaskan itu karena tidak punya teman untuk bermain.

Akibatnya, konsumsi mereka pun apa yang tidak sesuai dengan usia mereka. Lagu-lagu cinta, adegan dewasa, iklan yang tidak mendidik, dan hal lainnya yang tak seharusnya mereka lahap.

Saya mengalaminya sendiri, ketika seorang keponakan saya berusia 8 tahun yang tinggal di kota besar, waktunya selain dihabiskan di sekolah untuk belajar, ikut bimbingan belajar, dan mengaji. Keseharian di waktu luangnya hanya terpaku pada game online dan melihat youtube. Ibunya memang menemani waktu belajarnya namun tidak untuk waktu bermainnya, padahal ini menjadi paket komplit untuk memberikan pemahaman anak pada dunianya.

Wajar saja, jika ketika ada saya di sana ia selalu mengajak saya bermain setelah ia pulang mengaji atau sebelum belajar. Pastilah setiap anak dengan keadaan yang sama akan mampu untuk mengurangi kebiasaannya dengan gadget, jika ia mempunyai teman untuk bermain.

Menyisihkan waktu bermain dengan anak mungkin terlihat sebagai hal yang sepele tapi banyak sekali manfaat yang akan diperoleh untuk sang anak juga orang tua, selain menjadi lebih dekat dan meningkatkan ikatan emosional dengan anak, bermain juga dapat meningkatkan motorik pada anak juga mengasah keterampilannya untuk mampu berkontak serta berkreasi dengan benda-benda di sekitar, apalagi jika hal ini dilakukan di luar ruangan.

Untuk tetap dapat memberikan hak anak yaitu bermain dan tetap pada dunia mereka sehingga masa kecil yang tak akan terulang akan menjadi hal yang sangat berarti juga bahagia untuk mereka. Terlebih ketika di rumah saja saat ini yang memberikan kita banyak waktu untuk bersama anak.

Dengan tidak memberikan gadget selain untuk belajar pada anak maka anak akan tetap mencari ide untuk bermain sesuai kesukaan mereka. Seperti seorang tetangga saya yang berusia 7 tahun datang dengan membawa crayon dan buku lalu mengajak saya untuk lomba mewarnai.

Selain mewarnai kita juga belajar bagaimana menggambar sesuatu, karena buku yang dibawanya masih kosong. Sehingga saya yang menggambarkan sesuatu dahulu lalu kita mewarnai bersama, dan selanjutnya ia yang menggambar kemudian kita kembali mewarnai bersama.

Sebagai orang dewasa bisa dikatakan pekerjaan itu membuang waktu dan tidak bermanfaat. Namun saya mencoba meluangkan waktu, meninggalkan rutinitas ataupun tugas yang akan saya lakukan untuk menemaninya bermain. Karena saya tahu itu sangat penting untuknya, dan hal itupun membuatnya senang.

Menjaga anak dengan bermain sesuai usia mereka akan membentuk karakter mereka secara perlahan, seperti kedisiplinan dengan selalu membersihkan mainan setelah bermain, berbagi mainan dengan teman, jujur saat bermain, serta mengembangkan daya tahan tubuh anak dengan baik. Mereka akan mampumemahami dunianya, berfikir sesuai usia mereka dan pembahasan merekapun akan berkutat sesuai usia mereka yang terkait permainan, film kartun  lagu anak serta materi belajar usia mereka. Sehingga fikiran mereka tetap jernih dan tidak terkontaminasi dengan dunia oranng dewasa.

Meski sulit memisahkan dua dunia tersebut namun pembiasaan yang baik akan mampu menerapkannya, seperti sayapun jika bersama anak-anak suka menanyakan tentang permainan apa yang mereka sukai, cita-cita mereka, film kartun apa yang mereka sukai dan meminta mereka untuk menceritakannya. Bertanya tentang mainan yang paling menarik, juga mengajari lagu-lagu anak, hal yang saat ini bisa dikatakan hampir punah.

Berbagai hal tersebut dapat menjaga dunia anak, mengenalkannya pada gadget namun tetap dengan bijak dan tak mengurangi dunia mereka sedikitpun. Membiarkan anak tidak terpenjara dalam dunia digital, dan tetap hidup dengan cerita dan dunianya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here