“Saya akan menulis dan terus menulis, hingga saya tak mampu lagi menulis” – Mahbub Junaidi-

Saya tidak mengenal Mahbub Junaidi secara langsung, saya mengenalnya lewat tulisan-tulisannya. Tulisan Mahbub telah memberikan gambaran akan dirinya yang tegas, lugas dan cerdas dalam setiap pemikirannya, yang ia tuangkan dalam tulisan.  Tulisan atau terjemahannya pun menunjukkan bahwa Mahbub memiliki selera sastra atau humor yang tinggi.

Terlepas dari kepiawaiannya dalam mengatur roda organisasi, Mahbub adalah penulis. Ia menulis opini, cerpen atau terjemahan – tidak jarang masuk di media cetak, sekelas tempo atau kompas. Sebagai penulis, Mahbub memutuskan untuk terus menulis hingga tidak mampu lagi menulis.

Menulis adalah kerja keabadian. Kalau kata Pram, kenapa aku menyayangimu melebihi siapapun, karena kamu menulis.  Menulis menurut Pram adalah kerja keabadian.

Nama Mahbub abadi, karena ia menulis.  Bayangkan saja jika Mahbub tidak menulis; misal ia hanya berorganisasi atau berpolitik, pandai berbicara dari forum ke forum, sering mencekoki juniornya dengan cerita nabi-nabi atau gemar membuat kegiatan. Mungkin nama Mahbub hanya dikenal sebagai pendongeng tokoh fiktif bagi juniornya, atau parahnya, ia hanya dikenal sebagai Event Organizer – bukan seorang pemikir atau penulis, yang menuangkannya dalam secarik kertas.

Saya tidak lagi bisa membayangkan apa yang terjadi jika Mahbub masih hidup dan ngopi di Oase Cafe & Literacy. Ia pasti akan membawa laptop, memanfaatkan wifi Oase sesekali, selain itu yang terpenting adalah ia akan menghabiskan buku bacaan di rak Oase. Jika ada kegiatan diskusi sekalipun, pasti ia akan mengikutinya. Selanjutnya, ia tangkap memori atau catatan penting, lalu ia ketik di laptopnya.

Mahbub tidak akan berhenti di situ. Ia akan mengkritik kebijakan pemerintah melalui tulisannya yang jenaka nan menohok. Jika ia tinggal di Malang, pastilah kebijakan pemerintah kota Malang yang tidak membawa masalahah akan dihajar olehnya, seperti banyaknya taman yang dibuat tanpa memperhatikan Ruang Terbuka Hijau (RTH)  atau yang paling sepele, kebijakan sholat wajib berjamaah tepat waktu –  yang akhirnya membawanya ke penyidikan KPK. Hal semacam itu sudah dilakukan Mahbub sejak zaman otoritarianisme ala Soeharto,  hingga 1972, hingga membawanya meringkuk di penjara selama dua tahun, tanpa peradilan.

Selain itu, Mahbub memiliki jiwa jurnalis. Jiwa penyampai informasi ke rakyat, yang harus dipertanggungjawabkan. Kalau menurut Gus Nuril dalam suatu wawancara dengan media lain, ia berkata bahwa sesungguhnya wartawan atau jurnalis adalah pewaris nabi, seorang wartawan harus menyampaikan informasi /kabar secara jujur dan benar, seorang wartawan harus menyampaikan kebenaran itu, agar rakyat tidak tersimpangsiurkan dengan berita bohong.

Warisan itu membawanya terpilih sebagai ketua umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), 1965-1970. Dalam bayang-bayang kekuasaan militer itulah Mahbub memimpin PWI. Pastilah begitu besar tekanan kala itu, apalagi saat keluarnya supersemar 1966. Mahbub berhasil beradaptasi di era itu.

Mahbub seorang penulis dan jurnalis yang paham politik. Maksud saya, ia memiliki wawasan politik yang luas dan demokratis. Mahbub pernah berkata bahwa; demokrasi itu bisa dibunuh di dalam lembaga demokrasi oleh para demokrat dengan cara-cara yang demokratis. Tentu itu ungkapan Mahbub yang sangat satir dan berani di era itu.

Oleh karena itu, bukan hal aneh jika Mahbub mampu menulis dengan menggelitik tirani serta menerjemahkan novel.  Selera sastranya pun tinggi. Terbukti dari karyanya yang berjudul Dari Hari Ke Hari,  novel yang menang dalam sayembara mengarang novel/roman yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta, 1974. Novel itu menceritakan tentang dirinya, keluarganya dan situasi politik saat 1946, dengan latar Solo-Yogyakarta, di mana terpusat pula di Yogyakarta, sebagai ibukota kala itu. Mahbub menggambarkan dirinya sebagai orang pertama, diusia 13 tahun. Ia menggambarkan dirinya yang banyak tanya dan mengkritisi setiap apa yang ia lihat, di kereta, sekolah, rumah atau lainnya. Mereka terpaksa pindah ke Solo, karena pekerjaan ayahnya,  sebagai seorang Menteri Agama,

Selain novel populer itu, terhimpun kolom-kolom Mahbub. Ada di antaranya Politik Tingkat Tinggi Kampus, Humor Jurnalistik, Kolom Demi Kolom dan Asal Usul.  Serta masih banyak lagi yang tercecer di koran atau majalah lain. Memang layak ia disebut kolumnis, ketimbang novelis.

Ada hal yang lebih menakjubkan selain itu, adalah buku terjemahannya. Buku yang ia terjemahkan bukan buku sembarangan. Ada dua buku yang ia terjemahkan di penjara, buku 100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah karya Michael H Hart dan The Road to Ramadhan karya Mohamed Heikal. Selain itu ada yang diterjemahkan di luar penjara, Cakar-Cakar Irving karya Art Buchwald.

Jika ditelaah, novel yang diterjemahkan Mahbub bukan novel sembarangan.  Novel-novel itu dari penulis populer dunia. Michael H Hart, ia guru besar astronomi dan fisika di Universitas Maryland Amerika Serikat, pernah bekerja di NASA, ia menulis buku 100 Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah,  di mana Nabi Muhammad diurutan pertama. Berikutnya, Mohamed Hassanein Heikal- penulis buku The Road to Ramadhan (terjemahan: Di Kaki Langit Gurun Sinai), ia adalah wartawan Egyptian Gazette, sebagai wartawan kriminal dan perang, ia telah mengikuti banyak perang, di antaranya Perang Padang Pasir dan Perang Saudara di Yunani. Karir Heikal di dunia jurnalistik tidak diragukan, ia menjadi pimred di “Akher Sa’a”  1949 dan redaktur “Al Akhbar” dan “Al Akhram” 1950 dan 1957. Selain sebagai wartawan, Heikal juga mendalami ilmu ekonomi dan hukum.

Selanjutnya adalah Arthur (Art)  Buchwald, orang berkewarganegaraan Amerika. Penulis Irving’s Delight yang diterjemahkan Mahbub menjadi Cakar-Cakar Irving. Art Buchwald adalah humoris asal Amerika, selain itu ia adalah jurnalis dan kolumnis di Washington Post. Art Buchwald berhasil menceritakan kucing bernama Irving yang membuat geger jagat New York.

Uraian di atas, membuat penulis yakin bahwa Mahbub adalah penulis yang cerdas dan memiliki selera sastra yang tinggi. Kolom Mahbub tidak jarang membuat Soeharto kelabakan. Kolom Mahbub juga tidak jarang untuk mengkritik temannya di pemerintahan.

Mahbub memiliki pribadi yang tegas dan berani. Ia tegas dalam bertindak begitu pula ia juga berani menuliskan apapun yang dinilainya benar. Karena, kebenaran di atas segalanya.

Mahbub menyukai karya sastra yang tidak asal-asalan, sastra yang ia terjemahkan dari penulis yang serupa dengannya. Serupa dalam artian kalau tidak secara profesi, ya tuturnya yang humoris.  Seperti halnya Heikal dan Art Buchwald yang keduanya adalah seorang wartawan.  Art juga seorang humoris yang memiliki kepedulian sosial, seperti dalam Irving’s Delight.

Saya yakin, jika Mahbub  masih hidup, ia akan menerjemahkan banyak karya sastra luar. Banyak menulis di mojok.co, tirto.id. atau di gubuktulis.com. Selain itu tentunya ia menulis di koran nasional sekaliber tempo, kompas, jawa pos, atau media indonesia. Mahbub akan selalu abadi, karena ia menulis.

Semoga pemikiran Mahbub bisa diteruskan oleh generasi Millenial saat ini dan akan datang.

Malang, 1 Oktober 2017
**Tulisan ini dipersembahkan dalam rangka Haul ke-22 H. Mahbub Junaidi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here