Asmaraloka

0
136

Judul Buku: Asmaraloka

Penulis: Usman Arrumy

Penerbit: Divapress

Tebal: 92 halaman

ISBN: 978-623-293-079-7

Tahun Terbit: 2020

 

“Puisi sebagai Salah Satu Bentuk Manifestasi Kehidupan dan Cinta”

Seorang penyair kelahiran Demak bernama Usman Arrumy sukses melahirkan karya kembali berjudul Asmaraloka. Buku tersebut memuat puisi-puisi penyair yang mayoritas bertema cinta. Secara tak langsung, kelahiran buku puisi tersebut juga menggambarkan keadaan dunia penyair yang sedang dilanda dahsyatnya cinta. Dengan ciri khas puisinya, penulis mampu memikat para pembaca dengan kuat dan tenggelam sedalam keindahan permainan diksinya.

Seorang penyair yang berlatar belakang santri, mencoba membuktikan bahwa dalam hal asmara pun santri tidak ketinggalan jauh. Bisa jadi telah menyalip mereka yang hanya sekedar menunaikan cinta dengan maksud menuntaskan kesepiaannya. Lebih dari itu, ini merupakan sebuah ilham bukan lagi kebetulan yang menjadikan ajang pembuktian sebagai santri yang tidak hanya lihai dalam hal mengkaji kitab kuning tetapi juga pandai mengkaji dunia asmara ke dalam bentuk puisi. Pencapaian yang tidak biasa dan perlu diapresiasi.

Membaca puisi karya Usman Arrumy seperti hendak membawa kita pada suasana yang benar-benar nyata, bahwa keindahan yang terlahir dalam puisi bukan semata-mata hasil persetubuhan penyair dengan kata, melainkan benar adanya. Pembaca juga akan dituntun pada cinta pandangan pertama yang indahnya bukan main, seperti juga menghayati puisi Usman Arrumy. Dan yang paling mutlak dalam buku tersebut mengisyaratkan betapa cinta tak pernah baik-baik saja, selalu berputar layaknya roda dan yang mengayuh ialah puisi sebagai salah satu bentuk representasi paling suci dalam membahasakan cinta.

Menilik setiap jengkal dalam kumpulan puisi ini terbilang selalu mengangkat sesuatu yang semula biasa-biasa saja dan itu semua menjadi luar biasa ketika kita nikmati dalam puisi karya Usman Arrumy. Ia selalu bisa menempatkan puisinya menjadi rumah di mana orang-orang bisa berinteraksi langsung dengan dunia cinta melalui ciptaan Tuhan yang berada di sekitar kita tanpa mengaburkan makna cinta itu sendiri, seperti dalam puisinya yang berjudul Asal Mula:

Memandang langit

Aku ingat pada keluasan hatimu

Memandang laut

Aku ingat akan kedalaman pelukmu

Memandang kembang

Aku ingat alangkah mekar senyummu

Memandang hutan

Aku ingat betapa rindang cintamu

Memandang hujan

Aku ingat betapa kuyup rindumu

Memandang dirimu

Aku ingat bahwa kehidupan masih ada

Bagi sebagian orang, langit tetaplah langit dengan keluasannya dan kebiruannya. Laut hanyalah laut dengan ombak yang pasang surut. Kembang tak lain hanya bunga yang bisa layu kapan saja. Hutan akan selalu hutan yang penuh dengan pepohonan dan hewan-hewan buas. Hujan datang sebagai hujan menyegarkan penduduk bumi. Dirimu yang mungkin diartikan sebagai kekasih ya tetaplah kekasih, tak lebih dari kodratnya sebagai manusia yang kapan pun bisa berubah dan menghilang.

Tetapi dalam kumpulan puisi Usman Arrumy ini, ia hendak membuktian atau menyuarakan bahwa apa pun yang berada di dekat kita (yang mampu ditangkap oleh indra) merupakan sabda cinta, semua berdasarkan cinta. Singkatnya dalam buku berjudul Asmaraloka, penulis berhasil menjadikan majas metafora (menghidupkan benda mati) bermain dan bermakna secara luas tanpa menghilangkan makna keduanya (antara puisi dan cinta). Sehingga antara pembaca, puisi dan cinta telah hidup dengan damai dalam satu tempat yakni di dalam puisi-puisi Usman Arrumy. Menurut Aristoteles dalam bukunya Seni Puitika, puisi lebih benar daripada sejarah, sebab sejarah hanya mengulas sebagian sementara puisi mencakup semesta. Apa yang dikatakan Aristoteles tentang dunia puisi telah tertuang dalam buku Asmaraloka karya Usman Arrumy ini.

Disisi lain, buku ini  secara tak langsung ingin membenarkan apa yang pernah diungkapkan oleh sastrawan tanah air Alm. Bapak Sapardi Djoko Damono atau yang kerap disapa Pak Sapardi, bahwa ketika penyair menulis puisi jangan sampai emosi seorang penyair mengacaukan atau ikut campur ke dalam suasana puisi, sehingga dapat membuat puisi tidak lagi enak ketika dibaca maupun dihayati. Sederhananya, jika keadaan penyair sedang sedih atau marah, maka tenangkanlah diri dahulu, barulah puisi bisa dibuat dengan tenang. Istilah lainnya ialah jangan sampai penyair meniadakan kesucian puisi. Dengan begitu puisi akan tetap memiliki paduan indah. Dan itu semua telah menyatu dalam kumpulan puisi-puisi Asmaraloka, penyair menuntaskan itu semua yang mengakibatkan puisi-puisinya tetap terjaga kepaduannya.

Mendalami buku kumpulan puisi ini, seperti ada sesuatu yang tak biasa ditemukan yakni membaca tidak dengan sekali duduk. Iya, mendalami puisi-puisi karya Usman Arrumy akan membuat kita selalu dibuat kagum dan serasa dispesialkan. Penyair berhasil memadukan hal-hal sederhana dan memberi sihir yang secara tak langsung membuat pembaca tergia-gila meski sudah dibaca beberapa kali, semacam ada kedekatan dan selalu ingin di dekat kita, kita pun demikian. Jika dalam kutipan puisi Pak Sapardi yang fana adalah waktu kita abadi maka untuk puisi-puisi dalam buku Asmaraloka ini yang fana adalah waktu di dekatmu aku abadi, seakan sajak-sajak Usman Arrumy mempunyai gubuk tersendiri yang hanya dikhususkan bagi pembaca dan puisi dengan dihidangkan menu-menu cinta yang tak ada habisnya, di sanalah keduanya abadi.

Lebih dalam lagi, karya ini juga bisa dijadikan cermin tentang hakikat hidup dan cinta. Buku ini berusaha memberi stimulus atau dorongan tentang apa itu hidup dan apa itu cinta, seperti yang tertulis dalam kutipan puisinya berjudul Semacam Aforisma:

Siapapun yang bernyawa

akan mengalami mati,

siapapun yang bercinta

akan mengalami sepi.

Kutipan itu hendak menyadarkan kita bahwa segala yang hidup atau bernyawa akan mengalami kematian, maka dari itulah kita mestinya lebih memperbaiki lagi selama masih bisa merasakan aroma hidup sebelum kematian datang menjemput. Bagaimana ketika pandemi yang saat ini enggan untuk pergi, akan lebih baik mempersiapkan diri yang mungkin bisa saja menjadi lantaran kematian kita. Meskipun datangnya kematian tidak menunggu apa pun, tetapi kutipan puisi di atas telah mengingatkan kita. Segala yang ada akan lenyap kapan saja.

Begitu pun cinta, suatu saat ia akan tiada sekali pun yang menjalaninya tanpa mau tahu. Perpisahan tetap menjadi musuh nyata, entah itu perpisahan sebab kematian atau perpisahan yang memang dikehendaki oleh salah satunya (yang menjalani cinta). Artinya, persiapkan apa saja sebelum menempuh cinta dan setelah cinta itu pergi dari kebahagiaan hidup kita.

 

Beberapa kutipan yang berada dalam buku ini, seperti cuplikan dalam puisi yang berjudul Kidung Kekasih:

Langit tak cukup luas

Untuk menerjemahkan kasihmu

Laut tak cukup dalam

Untuk mengukur rindumu

Bunga-bunga tak cukup elok

Untuk menjelaskan senyummu

Cuplikan di atas benar-benar mendeklarasikan betapa cinta begitu luas yang tak mudah untuk dipahami dengan sekali saja tetapi selalu menyuguhkan peristiwa di luar prasangka. Tak cukup rasanya bila segala yang berhubungan dengan cinta hanya sebatas kesimpulan itu-itu saja. Di nukilan puisi tersebut, penyair sedang mengantarkan kita pada kasih yang sesungguhnya, pada rindu yang sesungguhnya dan pada senyum yang sesungguhnya. Bagaimana ketika langit, laut dan bunga dijadikan sebagai dalang untuk mengusut siapa mereka semua (kasihmu,rindumu, dan senyummu) yang masih saja tak kuasa memecahkan secara tuntas. Kiranya, cuplikan puisi di atas memantapkan bahwa cinta sendirilah yang hanya mampu menggali secara mendalam.

Kehadiran buku Asmaraloka ini akan menjadi telaah mendalam mengenai hidup dan cinta. Semuanya bisa kita petik dari puisi-puisi yang tercantum di dalamnya sebagai uswah atau pemahaman tentang bagaimana cara menjalani keduanya (hidup dan cinta) dengan baik. Pada akhirnya, penyair telah berhasil menafsirkan cinta dan hidup secara komprehensif dengan nuansa sederhana dan memikat. Sehingga mampu membawa kita menyelam dengan syahdu sampai titik dasar penghayatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here