Tim Pengabdian UM Gelar Revitalisasi dan Inovasi Batik Motif Nawasena Berbasis Inklusi di Kawasan Penataran
Blitar, 15 November 2025 — Tim Pengabdian Universitas Negeri Malang (UM) bersama PKK Desa Penataran menyelenggarakan rangkaian pelatihan bertema “Revitalisasi Jejak Sejarah Kediri–Singasari melalui Pengembangan Produk Batik Nawasena Berbasis Inklusi”. Pelatihan berlangsung selama dua hari, 14–15 November 2025, dengan melibatkan anggota PKK dan penyandang disabilitas sebagai bentuk penguatan pemberdayaan masyarakat berbasis inklusi.
Kegiatan dibuka oleh Camat Nglegok, Agus Muntalip Setiawan, S.S., yang menekankan pentingnya pelestarian budaya lokal melalui ekonomi kreatif yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Tim Pengabdian UM dipimpin oleh Mifdal Zusron Alfaqi, S.Pd., M.Sc., dengan anggota pelaksana Muhammad Mujtaba, S.Pd., M.AP. dan Abdul Raha Prasetyo, S.Pd., M.Pd.. Program ini turut melibatkan mahasiswa yaitu Laksamana Prammana Agung, Falsafah Nur Aini, dan Lailatus Sariroh.
“Desa Penataran memiliki kekayaan sejarah yang luar biasa. Pelatihan ini bukan hanya melestarikan budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi ibu-ibu PKK dan teman-teman difabel,” ujar Camat Nglegok.
Pada 14 November 2025, kegiatan dimulai dengan sosialisasi mengenai urgensi pelestarian relief Candi Penataran, pemahaman inklusi difabel, serta peluang ekonomi melalui pengembangan produk Batik Nawasena. Tim UM menjelaskan bahwa inovasi batik ini mengusung motif relief Ramayana, Kresnayana, Sri Tanjung, fabel Kerbau dan Buaya, serta motif pelestarian hewan dalam bentuk medalion. Motif-motif ini tidak hanya bernilai estetis tetapi juga memperkuat pesan edukasi budaya dan keberlanjutan ekologis.
Kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi membatik oleh Bapak Pras. Peserta memperoleh pengalaman langsung dalam teknik mencanting, pengolahan malam, teknik pewarnaan, serta eksplorasi motif khas Kediri–Singasari. Antusiasme terlihat dari partisipasi aktif anggota PKK dan peserta difabel yang didampingi langsung oleh fasilitator dan mahasiswa.
Pada 15 November 2025, kegiatan fokus pada pengambilan foto produk hasil demonstrasi. Dokumentasi ini menjadi bagian dari strategi digital marketing Batik Nawasena, yang akan digunakan untuk katalog online, media sosial, dan marketplace desa.
Produk yang diabadikan meliputi kain batik bermotif relief, potongan kerja batik peserta, hingga desain eksperimental yang dikembangkan selama sesi membatik. Tim UM membantu penataan produk, pencahayaan, dan proses pemotretan agar hasilnya siap dipublikasikan.
Ketua PKK Penataran mengapresiasi manfaat kegiatan ini, khususnya terkait peningkatan pemahaman pentingnya dokumentasi berkualitas untuk meningkatkan nilai jual produk di pasar digital.
Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya membangun desa wisata budaya inklusif yang menggabungkan aspek sejarah, kreativitas, dan pemberdayaan sosial. Batik Nawasena dikembangkan tidak hanya sebagai produk lembaran kain, tetapi juga diarahkan pada pembuatan produk turunan seperti suvenir, aksesori, dan fashion item yang siap memasuki pasar digital.
Ketua Tim Pengabdian UM menegaskan bahwa kegiatan ini adalah langkah awal menuju program lanjutan berupa desain motif digital, strategi pemasaran, dan penguatan branding batik Nawasena.
“Kami berharap PKK Penataran dapat menjadi model desa wisata budaya inklusif yang memadukan kreativitas, sejarah, dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.
Terselenggaranya kegiatan ini, PKK Penataran semakin siap memperkuat posisi Batik Nawasena sebagai produk unggulan desa. Melalui publikasi yang berkelanjutan di berbagai media sosial dan platform digital, diharapkan branding batik lokal semakin dikenal luas, meningkatkan kepercayaan pasar, serta membuka jejaring pemasaran yang lebih besar. Terimakasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi.
#BatikNawasena
#DesaPenataran
#UMMengabdi
#PengabdianMasyarakatUM
#InklusiUntukSemua
#BatikInklusif
#RevitalisasiBudaya
#PelestarianSejarah
#CandiPenataran
#EkonomiKreatifDesa








