Seperti biasa, setiap hari saya selalu menyempatkan mampir ke kedai kopi Kang Sholeh. Duduk menikmati kopi hitam dan memandangi kantor walikota. Kadang saya mampir setelah mengajar dari kampus. tapi juga tidak jarang, saya justru mampir saat berangkat ke kampus. bahkan lebih sering lagi, saya justru datang dengan mentraktir kopi mahasiswa yang meminta bimbingan skripsi.

“bimbingannya di kedai kopi kang Sholeh saja,” saya membalas seorang mahasiswa yang meminta ijin bimbingan skripsi. Kebanyakan mahasiswa itu memang kesulitan menemui saya di kampus. Sebab aktivitas saya setelah mengajar selalu ke kedai kopi kang Sholeh. Karena dari kedai kopi itu, saya bisa melihat kenangan masa muda saya di depan kantor walikota.

Belum sampai kopi hitam yang saya pesan datang. Saya dikagetkan dengan teriakan-teriakan anak muda yang berkumpul di depan kantor walikota. Bendera-bendera mereka bentangkan lebar-lebar. Kepala diikat dengan kain merah putih. Tidak lupa mereka menyigsingkan lengan baju sebagai tanda melawan.

“Sepagi ini, mereka sudah berkumpul kang,” saya mencoba mengawali obrolan dengan kang Sholeh.

“Iya mas dosen, kemarin ada yang bilang mereka akan melakukan aksi peringatan Hari Sumpah Pemuda”

“Seperti mas dosen dulu, yang meneriakkan perjuangan kelestarian lingkungan juga nilai kemanusiaan, dan sekarang mereka melanjutkan perjuangan itu mas”

“Saya jadi rindu kawan-kawan saya kang, mereka sekarang sudah kembali ke tanah kelahirannya masing-masing. Kita dulu sangat dekat dan punya satu visi yang kuat untuk berjuang bersama. Kita mampu bersatu dengan semangat muda yang membara. Jadi, semisal saya ke wilayah Indonesia bagian timur atau di ujung barat misalnya, pasti ada saja yang bisa saya temui kang. Hampir semua kawan saya masih merawat sumpah yang menyatukan semangat kita dulu kang. Mereka membentuk banyak komunitas-komunitas yang dilandasi dengan rasa cinta pada bangsa ini kang.”

“Seperti mas dosen tentunya, yang selalu melawan sistem pendidikan yang semakin mahal ini. Makanya saya juga tidak heran kalau mas dosen lebih seneng berdiskusi dengan mahasiswanya di kedai kopi ini. Hehe…..”

“Iya kang, biar mereka tidak terkurung di ruang-ruang kelas aja. Kalau di sini kan siapa pun bisa masuk. Jadi, wawasan yang didapat juga lebih banyak. Termasuk saya ini kang, yang selalu menanti ilmu-ilmu baru dari kang Sholeh.”

“Ahh… mas dosen bisa aja” sambil melempari saya serbet dengan senyum bersahajanya, kang Sholeh kembali fokus membuatkan kopi pelanggannya yang baru datang. Sedangkan saya kembali lagi mengamati anak-anak muda yang sedang berkumpul di depan kantor walikota.

Sesekali saya melihat jam tangan, untuk memastikan tidak terlambat masuk kelas hari ini. Meskipun sebenarnya saya jauh menikmati suasana pagi yang penuh gelora ini. Melihat anak-anak muda berkumpul, dengan kesadaran penuh, untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat.

“Pak, saya ijin tidak masuk hari ini” sebuah pesan singkat masuk tanpa salam namun terasa sangat sopan.

“Kenapa?”

“Saya mau ikut aksi di depan kantor walikota pak”

Tanpa memintanya untuk menjelaskan lebih detail alasannya tidak masuk kuliah. Saya malah menyuruhnya untuk segera berangkat. Sebab kawan-kawannya telah berkumpul sejak tadi pagi. Bahkan lebih pagi dari saya yang mampir di kedai kopi milik kang Sholeh.

“Jangan lupa ajak teman-temanmu sekelas, biar mereka juga tahu, ilmu dan kepekaan rasa juga bisa didapatkan dengan turun ke jalan. Hari ini kuliah dengan saya, libur !!!.”

 

Abdul Muhaimin, lahir di Nganjuk (Kota Angin)

Sarjana Biologi UIN Malang

Saat ini sedang fokus menghimpun kisah di Blog pribadinya serupakatakita.blogspot.com.

Saat ini tidak menetap di suatu tempat. Sebab selain berpindah-pindah warung kopi, juga berpindah-pindah kota untuk menghimpun inspirasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here