Judul: Bocah Lelaki yang Menulis Puisi
Penulis: Yukio Mishima
Penerjemah: Nurul Hanafi
Penerbit: EA Books, Yogyakarta
Cetakan: I, September 2016
Tebal: 242 halaman
ISBN: 978-602-1318-39-3

Pada mulanya berawal dari Aristoteles. Filsuf klasik Yunani tersebut, jauh-jauh hari, menyatakan perlunya dibentuk sebuah tatanan moralitas yang mengatur kehidupan manusia. Konsep moral Aristotelian berada dalam lingkup filsafat praktik, yang di dalamnya memuat nilai kebajikan, serta berfungsi sebagai sarana preventif yang menjauhkan manusia dari tindakan-tindakan celaka. Sebuah peradaban yang teratur, dengan sistem moral yang disepakati bersama, akan mendekatkan manusia pada tujuan hakiki hidupnya, yakni meraih kebahagiaan.

Sigmund Freud, tokoh yang disebut sebagai peletak fondasi ilmu psikologi modern di awal abad 20, mengelaborasi pemikiran Aristoteles itu. Lewat konsepsinya mengenai id, ego, dan superego dalam diri manusia, Freud membuktikan bahwa usaha untuk mencapai kebahagiaan bukanlah perkara sederhana.

Id (naluri alamiah manusia) senantiasa bertempur dengan superego (norma dan nilai yang mengikat). Negosiasi antar keduanya menghasilkan ego, yang dalam konteks hubungan manusia dengan lingkup sosial, merupakan penanda tingkatan moral individu.

Permasalahan kerapkali muncul tatkala tatanan nilai dan norma moral, beserta politik dan ideologi yang bertendensi kekuasaan, mengintervensi ruang privat. Pada titik ini, insting pemberontakan acap muncul, sebagai penanda ketidaktundukan atas kekuasaan, serta sebagai ruang pembebas bagi jiwa manusia.

Tema-tema pemberontakan inilah yang tampak sebagai pemikiran utama Yukio Mishima (1925-1970), salah satu cerpenis Jepang yang diakui sangat cemerlang di generasinya, dalam buku kumpulan cerpen Bocah Lelaki yang Menulis Puisi (EA Books, Yogyakarta: 2016). Mishima secara realis menggambarkan perbenturan keduanya –kebebasan jiwa individu dan ikatan moralitas– yang acap menjadikan manusia terjepit pada kondisi tengah-tengah (Cep Subhan K.M, dalam prolog buku).

Dalam cerpen “Sang Pendeta Kuil Shiga dan Kekasihnya” (hal. 45-73), misalnya, dikisahkan bahwa seorang Pendeta Agung harus bergulat keras di dalam dirinya. Ia dihadapkan pada sebuah pilihan, antara jalan hidup seorang pertapa suci yang menolak kesenangan duniawi dan hasrat cintanya pada seorang wanita bangsawan.

Cerpen lain, “Patriotisme” (hal. 159-204), mengisahkan situasi sulit Letnan Shinji Takeyama, yang bergulat antara perintah negara untuk menumpas pemberontakan yang dilakukan oleh korps kesatuannya. Dalam situasi dilematis mengenai kesetiaan terhadap negara dan terhadap persahabatan, ia menjatuhkan pilihan pada suatu keputusan tragik, yang baginya merupakan jalan tengah, tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip kehormatan khas tradisi Jepang.

Sedangkan cerpen “Mutiara” (hal. 23-44), secara parodik menggambarkan pertentangan antara nilai kejujuran dan sifat kemaruk dalam diri manusia. Cerpen ini menceritakan hubungan persahabatan lima nyonya sosialita yang menjadi kompleks akibat saling kecurigaan tatkala sebuah mutiara milik salah seorang di antaranya hilang. Lewat cerpen ini, terlihat bahwa nilai kejujuran dan sifat kemaruk –yang merupakan sifat asali manusia– menjadi tumpang tindih, dan terkesan ironis karena terjadi dalam kelompok masyarakat yang mendaku diri sebagai elit dan berjiwa sosial.

Satu cerpen yang juga menarik ialah “Tiga Juta Yen” (hal. 117-140), yang mengolah tema pertentangan antara nilai tradisional dengan kehidupan kosmopolit. Kesederhanaan dan kebersahajaan yang berusaha dipegang oleh pasangan Kenzo dan Kiyoko harus berbenturan dengan realitas kontemporer mengenai uang dan cinta, yang pada akhirnya menipiskan batasan antara hal-hal sakral dan profan.

Cerpen-cerpen lain dalam buku ini, kurang lebih, memperlihatkan kecenderungan struktur serupa, dengan penggarapan alur peristiwa pada tema pencarian identitas, absurdisme ideologi, dan seksualitas. Seperti tampak pada cerpen “Bocah Lelaki yang Menulis Puisi”, “Telur”, dan “Kain Bendungan”.

Membaca cerpen-cerpen Mishima dalam Bocah Lelaki yang Menulis Puisi, seolah melihat dialog antara jiwa manusia dengan tatanan moralitas yang melingkupinya. Dialog itu sekilas terlihat jenaka dan parodik, tetapi acapkali juga ironis dan tragik. Sastra, dalam hal ini, tampak sebagai ruang pemberontakan yang berusaha mengobrak-abrik serta mendefinisi ulang sistem moral yang telah mapan. Mengutip pendapat novelis Okky Madasari: memberikan suara bagi jiwa-jiwa mereka yang terdiam.

***

*Mahasiswa Ilmu Budaya. Mencintai buku-buku dan dunia cerita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here