Judul               : Edelweiss di Bulan Juli

Penulis             : Yenik Wahyuningsih

Penerbit           : Ellunar

Tahun              : Juli, 2019

Tebal               : x + 90 hlm, 14,8 cm x 21 cm

ISBN               : 978-623-204-166-0

Harga              : 36.000

 

Puisi, kehadirannya tidak pernah bisa diduga. Kadang diksi-diksi yang padat dengan muatan makna itu muncul secara tiba-tiba. Tidak peduli seseorang dalam kondisi sedang bahagia ataupun sedang sedih. Bahkan, setiap kata yang tercipta pun seolah hadir tanpa mampu dikendalikan. Akhirnya puisi yang hadir pun bermacam-macam bentuknya. Mulai yang rumit dipahami, sampai yang tampil gamblang dalam penyampaian maknanya.

Sudah sewajaarnya jika sebuah puisi hadir dalam bentuk yang singkat, padat. Ibarat seorang bercerita, puisi akan tampil dengan inti sari dari cerita yang dibawakan tersebut. Dan wujudnya pun lain, ia akan tampil elegan dan loncat-loncat. Susuanannya tidak selalu sistematis. Sehingga seorang pun kadang dipaksa untuk menjadikan dirinya peka terhadap makna di balik diksi-diksi tersebut.

Kepekaan dalam menulis puisi maupun membaca puisi adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Sebab realita kehidupan yang dijalani sehari-hari pun tidak luput dari suasana puitis. Ragam peristiwa pun menampakkan ragam peluang untuk dikenang bahkan diabadikan. Itulah yang dilakukan oleh Yenik dalam kumpulan puisinya ini. Tidak ingin larut dalam kesedihan, akhirnya ia berusaha mengabadikan tiap lekukan momen yang ia hinggapi dengan beragam kenangan tersebut, dengan menulis puisi.

Kumpulan puisi Yenik Wahyuningsih (Ellunar, 2019) adalah sebuah kumpulan sajak tentang keabadian. Seperti mimpi, ragam peristiwa itu datang tanpa permisi. Pergi pun tanpa permisi. Tak ingin hanya lewat begitu saja dan tenggelam dalam kesedihan sepeninggal ibu tercintanya. Yenik memilih menulis puisi yang dipersembahkan khusus untuk ibunda tercinta. Yang tepat pada saat diterbitkan kumpulan puisi ini, tepat satu tahun ia terpisah ruang, jarak dan waktu dengan ibunya.

Kumpulan puisi yang ditulis oleh Yenik ini terdiri dari delapan bagian. Secara keseluruhan kumpulan puisi ini terdiri dari 90 judul puisi yang ditulis oleh Yenik. Setiap bagian itu tertulis sajak-sajak Yenik untuk menggambarkan sebuah kondisi yang ia alami maupun yang ia angankan. Tak cukup itu, sajak-sajak yang hadir pun tampil nyata dengan gambaran apik tentang kondisi ataupun suasana yang sedang dialaminya.

Bagian pertama dari Edelweiss di Bulan Juli ini berbicara tentang awal mula rasa rindu itu hadir dan menjadi pilihan dalam hidupnya. Puisinya yang berjudul “Menjaga Rindu di Bulan Juli” halaman 1, menggambarkan bagaimana seorang tidak ada pilihan lain selain pasrah dengan ketentuanNYA. Dan ibu sebagai orang yang sangat ia sayangi pun suatu saat akan hadir sebagai sosok yang kita rindukan. Sebab kehadirannya tidak lagi bersama, melainkan sudah kembali dari asalnya, dipanggila karena lebih disayangi olehNYA.

Masih tentang rasa kehilangannya. Dalam bagian kedua kumpulan puisinya ini, Yenik menggambarkannya dalam sajak yang berjudul “Hal yang Paling Sederhana Adalah Pulang” Halaman 14. Pun demikian, tidak hanya tentang rasa kehilangannya yang mendalam. Dalam bagian-bagian selanjutnya, Yenik menggambarkan kenangan-kenangan tentang kebersamaannya dengan ibunda tercinta.

Seperti gambaran dalam puisinya yang berjudul “Dua Puluh Satu” halaman 17, isinya terkait kenangannya kala bulan Ramadhan. Sayang, beribu sayang ia pada kami, Aku yang merasa, mengingat dalam Ramadhan, Tulis bait tak karuan, Untuk kami, darimu yang terkasih.

Kerindunan dan kenangan pun ternyata memberikan dampak pada cara pandang seorang Yenik dalam menjalani hari-hari. Ia pun menuliskan banyak angan bahkan refleksi dari setiap peristwa yang ia alami. Termasuk banyak hal yang bersinggungan erat dalam kesehariannya. Baik soal sosial, bahkan lingkungan hidup pun ikut bersinggungan mewarnai puisi-puisinya.

Salah satunya adalah puisi yang berjudul “Perempuan, Laki-laki, dan Plastik” halaman 76. Secara apik Yenik menggambarkan betapa kita saat ini begitu lekat dan cenderung tidak bisa jauh dari yang namanya plastik. Di balik ketergantungan yang sangat akut itu, Yenik pun tidak lupa menggambarkan, bahwa kebanyakan dari kita sudah mengetahui permasalahan yang timbul dari plastik itu sendiri.

Begitulah seorang Yenik pada bagian awal menggambarkan kesedihannya. Ternyata pada bagian-bagian berikut dalam puisi ini Yenik menggambarkan banyak nilai-nilai dari kehidupan yang ia petik dari peritiwa ke peristiwa.

Akhirnya Yenik menutup kumpulan puisinya ini dengan judul “ Menyambut Juli” halaman 90. Begitulah kiranya seorang tidak boleh serta merta memandang sebuah kejadian menjadikannya berhenti. Terutama berhenti dan lupa atas kuasaNYA. Sebab dalam hidup, kuasaNYA adalah sebuah hal yang pasti. Entah datang dalam bentuk apa pun itu. termasuk dalam bait puisinya dalam penutup ini. Yenik menggambarkannya dengan apik dalam sebuah bait “Tapi, mengapa tiba-tiba ada pelangi.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here