“Sekarang banyak kampus mengadakan seminar internasional ya?”, Tanya seorang mahasiswa.

“Iyalah, kan syarat kelulusan harus punya karya ilmiah”, jawab salah satu temannya.

“Selain itu, kan dapat banyak uang juga”, komentar temannya yang lain.

“Loh, yang benar untuk uang atau karya?”.

***

Kutipan percakapan di atas saya dapatkan dari teman-teman mahasiswa disalah satu Perguruan Tinggi kota besar Indonesia dan mungkin saja juga terjadi di beberapa perguruan tinggi lain. Tenang saja, itu hanya kemungkinan bukan kepastian. Bukankah tidak ada yang dapat dipastikan di dunia ini? Kebijakan bias saja diganti, padahal baru saja diresmikan beberapa jam yang lalu. Itu bukanlah sebuah kesalahan juga, toh pergantian mendadak terkadang juga harus dilakukan.

Mendung tidak selalu penanda hujan, piring tidak selalu penanda makan (kemarahan istri juga bias berwujud piring; yang dipecah), dan beberapa analogi yang lain. Inti dari kutipan percakapan di atas adalah dua sisi koin dari seminar internasional. Sisi pertama menganggap seminar internasional adalah jalan alternative untuk mempermudah publikasi karya ilmiah sebagai syarat kelulusan mahasiswa dan sisi lainnya yang menganggap seminar internasional adalah ajang pencarian dana abad ini.

Hal ini sebenarnya merupakan lanjutan dari edaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi pada tahun 2012 yang mengharuskan calon sarjana, magister, dan doctor untuk menerbitkan karya ilmiah sebagai syarat kelulusan dijenjangnya masing-masing. Edaran tersebut mungkin mengagetkan beberapa PTN dan PTS di seluruh Indonesia, karena menerbitkan karya ilmiah dijurnal tidak seperti menempelkan selebaran pencarian kucing hilang di tiang-tiang listrik atau dinding-dinding rumah.

Hingga tahun 2019, beberapa Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta memiliki standardisasi yang lebih tinggi dari edaran Dirjen Dikti. Misalnya, syarat kelulusan jenjang magister adalah publikasi jurnal nasional terakdreditasi atau prosiding seminar internasional dan syarat kelulusan jenjang doctor adalah publikasi jurnal internasiona lbereputasi diutamakan yang terindeks Scopus.

Hal tersebut yang memicu penjamuran kegiatan seminar atau konferensi internasional di mana-mana.  Sayangnya, Penjamuran tidak sepenuhnya bias dimakan. Beberapa penjamuran yang terjadi justru beracun. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya

1) Publikasi yang digantung dan tentu saja menyakiti hatipeserta seminar (hubungan yang digantung saja menyesakkan),

2) Pembengkakan biaya publikasi yang diketahui setelah acara seminar selesai, atau

3) Pembicara yang dihadirkan bukan pakar dari luar Indonesia, tetapi orang luar Indonesia yang sedang belajar di Indonesia. Faktor ketiga ini memberikan kesan kamuflase pada kata ‘internasional’, bahkan sebagian orang menyebut ini adalah seminar internasional abal-abal.

Sekalilagi perlu saya tegaskan, racun jamur tersebut tidak terjadi pada semua jamur. Ada beberapa seminar internasional yang benar-benar mewadahi peserta seminar untuk mempublikasikan karya ilmiahnya. Saya masih menaruh harapan besar terhadap dunia Pendidikan Ibu Pertiwi. Saya ingin menganggapnya adalah sebuah kesalahan yang dilakukan bukan untuk diulangi, tetapi untuk diperbaiki.

Sayangnya (lagi-lagi saya harus menyebut kata ini), beberapa netizen menganggap seminar internasional hanya akal-akalan kegiatan untuk meraup keuntungan pribadi. Hal ini dilandasi oleh biaya yang dikeluarkan untuk mengikuti kegiatan sebagai pemakalah/presenter berkisar antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah, sedangkan fasilitas yang dijanjikan terkesan dibentuk seperti obat nyamuk (terlaluberputar-putar).

Satu diantara keluhan netizen yang maha benar adalah biaya cetak prosiding yang di atas standar dan kelayakan prosiding cetak yang berbanding terbalik. Prosiding cetak yang diterima sebesar buku ensiklopedi dunia, sedangkan kekuatan cover dari prosiding cetak yang seperti cover buku tulis untuk siswa Sekolah Dasar yang bergambar Lionel Messi menendang botol minuman soda.

Jika sudah seperti ini, benarkah Seminar Internasional adalah wadah publikasi? Atau panggung pencari komisi? Atau dua-duanyabetul? Hanya rumput bergoyang yang tahu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here