Hubungan paling penting dalam hidup ini adalah hubungan dengan diri sendiri. Anda boleh saja berhubungan sedemikian erat dengan manusia, flora dan fauna, satwa dan tetumbuhan, bahkan Tuhan. Akan tetapi, hubungan itu tidak akan berjalin-jemalin sebelum Anda memperbaiki hubungan dengan diri Anda sendiri. Jika demikian, bukan tugas orang lain untuk menyinta dan menghormati Anda, tapi tugas Anda sendiri.

Memercayai diri sendiri sama sulitnya dengan meyakini orang lain. Oleh itu, perlu “seni” untuk melakukannya. Apabila masih banyak bangsa manusia yang tertipu diri sendiri, berarti mereka gagal untuk menghindarkan diri perangkap nafsu—diperbudak diri sendiri. Nah, meloloskan diri dari perangkap nafsu dan jebakan libido juga ada seninya, yakni seni bertasawuf. Poin ini akan kita bahas pada sesi yang lain.

Rendahnya sikap percaya diri atau bahkan menyelingkuhi kedirian adalah penyakit hampir semua orang yang sedang berproses untuk maju, dan biasanya perlu menapaki jalan terjal berliku untuk menyembuhkan. Kenapa? Jika kepada diri sendiri pun tak percaya, bagaimana tehadap yang lain? Lantas, bisakah membuktikan bahwa percaya diri sendiri begitu mudah? Tentu bisa!

Apakah Anda pernah sakit kepala, sakit perut, pilek, sakit gigi, nyeri lambung, nyeri sendi, radang tenggorokan, maag yang melilit-lilit, sakit pinggang dan sulit tidur? Kemudian, apa tindakan Anda? Nyaris selalu minum obat oral (melalui mulut), bukan?

Demikian memang, kadar kemampuan manusia sebatas minum obat, selanjutnya manusia hanya bisa percaya dan pasrah 100% pada sistem metabolisme dalam tubuh untuk bekerja menyalurkan saripati obat oral itu menuju sasaran sakit yang diderita. Pernahkah Anda bertanya: kecerdasan macam apakah yang dimiliki oleh jantung, sehingga ia—seumur hidup Anda—memompa darah 6000 quart (5600 liter) setiap hari ke seluruh tubuh, lalu menyalurkan obat menuju pusat rasa sakit? Mengapa darah tidak pernah salah sasaran menyalurkan obat sakit perut ke kepala dan obat sakit gigi ke pinggang, misalnya? Mengapa Anda tidak pernah curiga bahwa bisa saja sistem dalam tubuh itu justru akan mencelakai Anda karena sebagian mengalami malfungsi dan gagal beroperasi?

Anda masih belum yakin pada sistem super hebat dalam diri, baik jasmani maupun rohani? Kita uji sekali lagi!

Jika Anda naik pesawat terbang Jakarta-Havana, hampir bisa dipastikan Anda tidak kenal dengan pilot, co-pilot, pramugari, awak kabin, dan bahkan para porter. Tak hanya itu, Anda bahkan tidak kenal dengan para insinyur perancang pesawat, sistem keamanan bandara, landasan pacu, para teknisi, pemilik maskapai dan seluruh petugas yang terlibat dalam penerbangan Jakarta-Havana tersebut. Namun demikian, hanya dengan pasrah dan nurut (taklid) 100% pada meraka, sampailah Anda di Havana dengan selamat dan menikmati keindahan pantainya bersama gadis-gadis latin nan molek, minimal berswafoto dengan para pelancong berlanskap ombak.

Memang, kecelakaan pesawat terbang acap kali terjadi, namun faktanya para pengguna jasa maskapai semakin meningkat. Itu artinya, angka orang-orang yang “bertaklid” pada ilmuwan (para perancang, insinyur dan arsitek) penerbangan terus meningkat pula jumlahnya. Pendek kata, seni bertaklid dan memercayai sudah menjadi kebutuhan, bahkan bagi masyarakat paling modern dan rasional sekalipun.

Logika sederhana inilah yang menjadi landasan bagi para Ulama Nusantara untuk membangun “institusi taklid” dalam bentuk tradisi dan menjaga kearifan serta lokal jenius, misalnya: yasinan adalah lembaga untuk menjaga surat Yasin bagi masyarakat awam, kerana mereka sangat berat mengkhatamkan 30 juz Al-Qur’an, begitu pula tahlilan, istighosah, selamatan, peringatan Maulid Nabi, Isro’ Mi’roj, majlis zikir dan salawat, bahkan tarekat. Mengapa? Imam Syarafuddin Yahya an-Nawawi (penulis kitab Riyadhus Shalihin 2 jilid, Majmu’ syarah Muhadzdzab 24 jilid, syarah Muslim 9 jilid, At-Tibyan, dll) dengan rendah hati masih taklid dan bermazhab kepada Imam asy-Syafi’i, bagaimana dengan kita dan mereka-mereka yang sok anti mazhab?

Prinsip ini juga berlaku manakala Anda ingin melakukan perjalanan mengunakan jasa kereta api, bus, kapal laut, dan moda transportasi umum lainnya. Tanpa terkecuali jika Anda hendak melakukan perjalanan lintas kehidupan, yakni dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat, Anda tidak bisa untuk tidak bertaklid atau “ma’muman” kepada para Mujtahid dan para Imam. Pertanyaannya: apakah iman harus selalu mendahului ilmu—I believe so that I may understand, credo ut intelligam?

Tidak ada iman yang lahir tanpa pengetahuan, meski pengetahuan kadang tak cukup diri untuk menembus dinding-dinding iman. Iman yang tidak dikonfrontasi dengan pengetahuan adalah iman yang keropos dan rapuh. Alih-alih saling mencederai, iman adalah ilmu itu sendiri, meski ilmu tidak mutlak berimplikasi pada iman. Oleh karena itu, hubungan dengan diri sendiri: hubungan manusia dengan ilmu, iman, dan moralnya harus tuntas sebelum ia berhubungan dengan yang lain. Dengan kata lain, selalu ada meta-relasi dalam sebuah relasi.

Manakala Anda menggunakan jasa pesawat terbang untuk perjalanan Anda, misalnya, sudah barang tentu Anda akan memilih maskapai terpercaya, memesan tiket dari agen penjualan terpercaya, memilih jadwal dan kelas penerbangan sesuai (1) pengetahuan dan (2) kesiapan bekal Anda. Lantas, apabila dana tidak cukup, sebaiknya ganti moda transportasi. Jangan lupa, iman juga harus realistis, kalau Anda tidak punya jari, tidak usah berambisi dan apalagi berdoa untuk memakai cincin. Doa pun harus rasional, misalnya: bisakah Anda berdoa pada Tuhan—karena dikejar-kejar hutang dan dililit persoalan—untuk dijadikan semut, kayu dan batu? Tentu Tuhan akan tertawa sembari bilang, “oh, come on, wake up, Buddy! Hidup tak seburuk yang kau kira.”

O ya, ngomong-ngomong, besok kurban apa, Gan? Nggak bosen kurban perasaan mulu? Hallo…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here