Gus Dur pernah nyeletuk kalau di Kementerian Agama (Kemenag) seperti pasar semua ada, kecuali agama. Satiran itu dilontarkan Gus Dur saat Orde Baru. Meski demikian, kondisi keberagamaan kita juga penting untuk direfleksikan ulang.
Perlukah kita membincang agama? Bukankah agama itu sudah final dan tidak perlu diperbincangkan lagi? Bukankah agama itu tinggal dijalankan aja, ngapain juga didiskusikan?
Membincang agama di negeri ini seakan menjadi hal yang aneh, terlebih mengkritisinya. Bagi sebagian atau bahkan hampir keseluruhan penduduk Indonesia menganggap agama adalah suatu yang agung dan menilai bahwa agama adalah sebuah kehormatan. Terlebih pula agama itu terformula dalam sebuah sistem negara.
Kembali pada ungkapan Gus Dur di awal tentang agama, pasar, dan kemenag. Apa yang keliru dari kemenag kala itu, sehingga Gus Dur menyeloroh seperti itu. Selebihnya, seberapa penting kemenag itu sendiri?
Kita ketahui bersama bahwa Gus Dur adalah sosok ulama yang membawa angin segar tentang pemahaman keagamaan kita, terlebih islam. Bagi Gus Dur yang telah memboyong banyak pemikiran islam progresif, transformatif, kiri, dan pembebasan ke Indonesia itu menganggap bahwa bukan hanya sekedar menyembah Tuhan, tapi tentang kemanusiaan. Gus Dur mengajak umat beragama berpikir dewasa tentang agama itu sendiri.
Kemenag merupakah lembaga negara yang berdiri pasca kemerdekaan, salah satu inisiatornya adalah ayahnya Gus Dur, KH. Wahid Hasyim. Pendirian Kemenag sendiri merupakan sebuah konsekuensi dari penghapusan tujuh kata piagam Jakarta yang berbunyi, “Ketuhanan Dengan Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluk-pemeluknya.”
Penghapusan tujuh kata dari Piagam Jakarta itulah awal revolusi kemerdekaan beragama di negeri ini, menurut saya. Setelah kemenag berdiri dan dipimpin oleh Haji Mohammad Rasjidi. Pada pidato pertamanya, Rasjidi menegaskan bahwa berdirinya Kementerian Agama adalah untuk memelihara dan menjamin kepentingan agama serta pemeluk-pemeluknya.
Capaian yang luar biasa memang. Lalu orde baru mengolengkan kapal yang bernama kemenag ini, dengan mempolitisir dan mengacak-acak agama sebagai alat kekuasaan. Baru saja lahir dan mencoba merangkak, kemenag akhirnya hilang kendali.
Tibalah reformasi, pasca reformasi Gus Dur kembali menambal kebocoran kapal itu dengan sistem yang dirancangnya. Meski tidak mulus, tapi gagasan Gus Dur masih relevan hingga hari ini.
Kemenag juga kerap kali digoncang maslah korupsi, terhitung dua Menag terjerat pidana korupsi. Ini korupsi di tubuh agama loh. Oleh sebab itu, omongan Gus Dur terbilang jitu, di dalam kemenag yang gak ada, adalah agama.
Lalu, mengaca kepemimpinan kemenag hari ini yang dipimpin Gus Yaqut. Kemenag serasa menemukan auranya kembali. Gagasan agama sebagai inspirasi bukan lagi aspirasi perlahan dilakoni.
Semua umat beragama menggantungkan nasibnya di kemenag. Kemenag bukan lagi milik islam, tapi milik semua umat beragama. Yang tidak beragama bagaimana? Ya tetap warga Indonesia.
Karena agama dideklarasikan sebagai sumber inspirasi maka tantangannya sejauh mana inspirasi kemenag hari ini. Sudahkah agama menjadi jalan hidup semua umat? Dan yang paling sering dilupakan sudahkah rumah ibadah itu ramah buat semua kalangan; anak, difabel, perempuan, dan kelompok rentan lainnya. Selain itu, mengapa pula masih ada pelarangan pendirian rumah ibadah. Akhir kata, selamat ulang tahun kemenag, semoga tetap menginspirasi.






