Bincang santai sore ini, Rabu tanggal 21 Juni 2022 dihadiri oleh para penggerak GARUDA Malang dan juga para lulusan Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) 2023 yang diadakan pada bulan puasa kemarin.

Kongkow bersama, yang dikemas dalam wadah Tadarus Gu Dur ini awalnya memang direncanakan pada bulan Puasa kemarin, bersamaan dengan pelaksanaan KPG. Namun karena beberapa hal dan pertimbangan, agenda Tadarus Gus Dur ini baru bisa direalisasikan hari ini.

Harapannya, agenda hari ini merupakan yang pertama, dan akan terus berlanjut dengan tadarus berikutnya.

Dalam agenda Tadarus ini, kita akan mendiskusikan karya tulis Gus Dur yang pernah dimuat di berbagai media. Sehingga melalui tulisan-tulisan Gus Dur tersebut harapannya kita bisa pro aktif untuk menelaah dengan berbagai perspektif. Sehingga nantinya melalui agenda Tadarus ini kita bisa belajar lebih dalam tentang sosok Gus Dur.

*

Pada agenda pembuka, atau Tadarus Gus Dur yang pertama ini. Kita mengangkat satu tulisan Gus Dur yang pernah terbit di Tabloid Bola tahun 1991, dengan judul “Belajar dari Sepak bola Eropa dan Amerika.”

Para peserta Tadarus mencoba mengamati dunia persepakbolaan ini, mulai dari Indonesia hingga dunia dengan berbagai tafsir dan analisis. Bagaimana sepak bola bisa di analisa berbagai perspektif. Dari filosofinya, seni, budaya hingga pada perannya dalam struktur masyarakat.

Kecintaan Gus Dur menonton sepakbola dimulai sejak ia kecil hingga beliau menuntut ilmu di Mesir. Gusdur memiliki kesibukan melancong ke perpustakaan dan berdiskusi, selain itu Gus Dur juga mengamati perkembangan Sepakbola dunia. Terkhusus perkembangan sepakbola di Eropa dan Amerika.

 

Pada saat itu pengetahuan Gus Dur tentang sepakbola terhitung sangat luas, karena informasi pada saat itu sangat terbatas. Hal ini menjadikan pertimbangan Gus Dur dalam menganalisis sepakbola.

Gus Dur adalah salah satu presiden, ulama, tokoh bangsa, dan ternyata beliau juga menjadi pengamat sepak bola.

Setelah puas melakukan analisa pada puluhan pertandingan, tahapan “bersepakbola” selanjutnya, Gus Dur hadir menjadi presiden Indonesia. Gus Dur menggunakan berbagai filosofi sepak bola dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang presiden.

Memang, tugas seorang presiden sendiri ada kemiripannya dengan seorang pelatih. Misalnya saja dalam memilih “pemain” yang tepat untuk kabinetnya.

Di awal-awal tahun 2000-an, Gus Dur menunjukkan hal ini dengan kebijakan re-shuffle kabinetnya yang terkenal. Di awal masa kepemimpinannya, Gus Dur sendiri memang lebih memilih untuk menomorsatukan “kompromi” dan “balas budi” dalam memasang susunan awal kabinetnya. Bahkan, saking kuatnya tarik-ulur antara berbagai pihak, draft starting line-up Kabinet Persatuan Nasional pernah berganti hingga 11 kali.

Dalam agenda Tadarus yang dipantik oleh Jefry, ia juga mengungkapkan bahwa dalam tatanan seni, sepakbola menurut pandangan Gus Dur menjadi pertunjukan tersendiri. Hal ini dapat dilihat perkembangan sepakbola di Amerika Latin, yang melahirkan bintang hebat seperti Maradona, Pele. Kesenian tersebut dapat dilihat dari Ciri khas tersendiri “gocekan Samba”. Hal ini menjadikan suatu ciri khas kusus yang dimiliki.

Beralih ke Eropa, bahwa mereka juga memiliki strategi khusus yaitu “Catenacio”, srategi bertahan terstruktur. ” Bahwa Gus Dur memiliki strategi, cara tersendiri untuk menghadapi setiap persoalan.”

Sepakbola juga menjadi ladang persatuan, dari mulai tatanan akar rumput. Anak-anak gang kecil, remaja dan dewasa sangat mencintai sepakbola. Tiang gawang yang dibuat dari sandal, batubata. Pemain juga sekaligus wasit, waktu pertandingan selesai dapat di akhiri dengan adzan magrib. Melihat hal tersebut menunjukan bahwa sepakbola termasuk bagian pemersatu bangsa.

Terbukti bahwa setiap analisa Gus Dur selalu memberikan substansi nilai untuk melihat segala sesuatu. Itulah Gus Dur. bagi para penggerak Gusdurian Malang bagaimana mengaplikasikan sebuah realitas menjadi sebuah kerangka substantif.

 

Selain dengan sedikit paparan dari Jefry selaku pemantik pada agenda Tadarus Gus Dur ini. Diskusi juga mengalir dengan hangat, mulai dari pandangan adanya ilmu Hikmah yang dikaitkan dengan sepak bola. Bahkan ada juga peserta Tadarus yang justru melihat tulisan Gus Dur ini dari sisi pentingnya membangun kemampuan literasi anak muda. Khususnya kemampuan menulis.

Akhirnya, agenda Tadarus ini ditutup dengan rasa bahagia. Karena dengan agenda Tadarus ini sekaligus menjadi ajang untuk silaturahmi dan tukar gagasan antar penggerak GARUDA Malang.

Sampai bertemu di Tadarus berikutnya.😊

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here