Bertahun-tahun, sejak menyadari bahwa dunia maya semakin bertumbuh-kembang. Aku sangat menikmatinya, bahkan rasanya sangat mustahil melepaskan diri dari cengkraman informasi-informasi yang termuat di dalamnya. Sebuah zaman di mana hidup begitu terpengaruh dan tergantung pada keagungan Big data. Ada sedikit peristiwa – termuat, ada peristiwa lagi – terunggah lagi, ada peristiwa yang lain – tersalurkan juga, seakan potret dan sejarah kejadian dari yang sangat penting hingga tidak sangat dibutuhkan semuanya terdigitalisasi. Ada yang murni mengabarkan berita demi kebermanfaatan, namun ada juga yang sengaja memotong, memoles, dan membentuk sedemikian rupa suatu berita demi kepentingan diri sendiri atau kepentingan kubunya – artinya lebih memanfaatkan situasi demi miringnya ‘kepentingan’ bukan memberi sebanyak-banyaknya manfaat dan kebaikan. Maka benarlah kata orang bahwa “tidak ada yang lebih penting daripada suatu kepentingan bagi penganut rasisme dan fanatisme buta”.
Itulah sebabnya mengapa akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan metode tabayyun guna membuktikan kebenaran informasi. Artinya, tidak semua berita yang kendati pun viral menurut banyak orang dan banyak yang membenarkannya, kalau ditimbang dan dirasa tidak benar setelah diamati dan teliti, aku tak akan lebih lanjut ikut-ikutan ngepoin beritanya. Setidaknya jika ada keinginan, aku meminimalisirnya dengan menekan kemauan yang tidak berguna itu. Biasanya aku berbisik pada diri sendiri “Untuk apa? Toh beritanya sangat tidak bermanfaat.”
Terbukti, sampai hari ini metode tersebut sangatlah mujarab untuk membendung uapan lava yang mendidih dalam kepala yang dulu sewaktu-waktu sering meledak saat ada berita yang aku baca dan berhasil menyinggung perasaan. padahal belakangan ku tahu bahwa berita itu hanyalah ‘kepentingan’ yang menyelundupkan banyak kebohongan.
Lagi, jika ingat pada pendapat Carlos Maria Dominguez dalam novelnya Rumah Kertas (2002, diterjemahkan ke Indonesia 2016), ia berkata [Manakala nenek melihatku membaca di tempat tidur, beliau selalu berkata, “sudah, buku itu berbahaya, tahu!” selama bertahun-tahun aku menyangka itu cuma karena nenek tak berpendidikan belaka, tapi waktu membuktikan, betapa arifnya nenekku yang orang Jerman itu]. [hlm.2].
Aku kira, dengan segala hormat kepada beliau, Penulisnya. Dengan berbagai masalah yang darurat hari ini, kita bisa mengadopsi penyataannya lalu dikreasikan ulang agar relevan dengan maraknya informasi invalid di dunia maya, misalnya, [….manakala nenek melihatku membaca berita di media online, beliau selalu berkata, “sudah, dunia maya itu berbahaya, tahu!” selama bertahun-tahun aku menyangka itu cuma karena nenek tak berpendidikan belaka, tapi waktu membuktikan, betapa arifnya nenekku yang orang Jerman itu]. Ya, memang arif, karena aku sendiri telah membuktikannya bertahun-tahun, saat mengingat-ingat bermacam berita yang sempat membuatku resah dan kecewa.
Pada titik kekecewaan itulah, aku kemudian berkesimpulan bahwa tabayyun adalah cara yang tepat untuk memfilter bejibunnya berita. Bahwa apa yang dianggap benar bisa salah di sisi lain, dan sebaliknya. Maka bekal terakhir adalah mengajak pikiran untuk selalu berpikir jernih. Seperti kata Ernest Hemingway dalam novel The Old Man and The Sea-nya, saat Santigo menghadapi ikan yang sangat tangguh dan besar, sampai-sampai dirinya kelelahan dan pikirannya kacau-balau. Santigo berkata pada dirinya sendiri dengan suara lirih yang hampir tak didengar, “Ayo kepalaku, kau harus bisa berpikir jernih”…..”Kau harus berpikir jernih.” [hlm.118].






