Ketika Hanya Bahagia Yang Kita Punya

0
219

Resensi Buku
Judul : Hidup Begitu Indah Dan Hanya Itu Yang Kita Punya
Penulis : Dea Anugrah
Tahun : 2019
Penerbit : Mojok
ISBN : 978-602-1318-81-2
Jumlah Halaman : 179 Halaman

Ketika Hanya Bahagia Yang Kita Punya

Karya Dea Anugrah yang berjudul Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya seolah merefleksikan kehidupan manusia yang sibuk dengan rutinitas dan ambisi yang tak berujung. Hingga lupa bagaimana cara menikmati hidup itu sendiri, menikmati kebahagiaan meski terlihat sederhana namun menjadi hal mewah bagi mereka yang terjebak rutinitas dan ambisi. Dalam kumpulan tulisan-tulisannya, penulis mencoba menangkap setiap peristiwa yang ia alami dalam memoar-memoar cerita di buku itu.
Beberapa cerita yang ditulis dalam buku itu antara lain terbenam dalam waktu yang hilang, efek proust, 55 tahun kemudian, tua seperti Clint Eastwood, kaum bergajul sedunia, bersatulah !, di mana ada penulis di situ ada cemooh, kebebasan dan keberanian, orang buta berpandangan jauh, pertemuan dengan Melquiades, kesedihan yang menguatkan, di sinilah api berkobar, Vita Brevis, Facebook Longa, bersantai di komering, kabar burung dari Pasundan, ada apa dengan pisang?, kisah sedih, perang, dan musuh yang diciptakan, para pembunuh anak-anak, Biliton Maatchappij dalam pusaran sejarah, mengutuk dan merayakan masturbasi, pembenaran, dan hidup begitu indah dan hanya itu yang kita punya adalah realitas kehidupan sehar-hari yang mungkin kita lakukan atau kita temui.

Sebagai penulis, Dea menulis dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami oleh pembaca. Alur setiap cerita yang ditulis seolah membawa pembaca untuk merefleksikan kehidupan mereka sehari-hari. Beberapa cerita juga mengangkat tentang peristiwa sejarah yang mungkin tidak pernah diketahui oleh pembaca karena tidak pernah tertulis dalam buku-buku sejarah yang ada. seperti cerita Billiton Maatschappij dalam pusaran sejarah yang menceritakan bagaimana kehidupan masyarakat Pulau Bangka di era kolonial Hindia Belanda dan juga aktivitas pertambangan timah di pulau itu yang berdampak pada kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Pulau Bangka. Serta kondisi pertambangan timah di Pulau Bangka saat ini direkam dengan baik dalam cerita tersebut. Membawa pembaca menyusuri cerita sejarah di masa lalu hingga merasakan bagaimana kehidupan masyarakat disana, saat membaca cerita itu.

Selain cerita tentang Biliton Maatchappij dalam pusaran sejarah masih ada cerita lainnya. Seperti melakukan studi sejarah sebelum menuliskan setiap ceritanya. Peristiwa-peristiwa terekam dengan epic dalam cerita orang buta berpandangan jauh tentang kehidupan tokoh dalam cerita tersebut yang hidup sebagai seorang serdadu VOC yang mengalami pergolakan batin luar biasa akibat melihat sistem kolonialisme bekerja menindas masyarakat di Ambon. Juga dua cerita lainnya pertemuan dengan Melquiades yang menceritakan prahara konflik 65 dan kisah sedih, perang dan musuh yang diciptakan dalam kecamuk konflik antara Palestina dengan Israel. Semua diceritakan secara detail oleh penulis sehingga secara tidak sadar pembaca juga belajar sejarah melalui membaca cerita-cerita itu. Selebihnya adalah pengalaman menulis yang menemui realitas kehidupan masyarakat yang ada di sekitarnya.

Buku ini cocok bagi pembaca yang ingin menikmati cerita pendek dengan bahasa sederhana dan lugas. Serta pembaca yang sedang mencari dan menikmati cerita pendek yang berangkat dari realitas sosial dan jamak ditemui disekitar kita. Buku ini juga cocok sebagai referensi bagi mereka yang mencoba untuk menulis cerita pendek dengan berangkat dari pengalaman-pengalaman hidup yang telah dilalui.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here