Bulan Juli yang haru sebab kepergian dua sastrawan yang karyanya sudah tak dapat diragukan lagi. Sepuluh hari setelah kepergian Eyang Sapardi (19 Juli 2020) ditanggal 29 Juli 2020, kamaren sastrawan Ajip Rosidi menghembuskan nafas terakhirnya.
Eyang Sapardi yang terkenal dengan puisinya Hujan di Bulan Juni, menyisakan hujan tangis kepergian bagi banyak orang di bulan Juli. Karya dan namanya menjadi abadi, karena Yang Fana Adalah Waktu, kata Eyang. Beberapa puisi tidak hanya beraliran romance, beberapa puisi pergerakan dan perlawanan pernah Eyang tuliskan, salah satunya yang berjudul Dongeng Marsinah.
Sastrawan yang juga pergi di bulan Juli adalah, Ajip Rosidi. Mulai menyukai dunia sastra sejak Sekolah Dasar, banyak karyanya yang dimuat disurat kabar. Banyak penghargaan dalam dan luar negeri diperoleh selama masa hidupnya. Selain menjadi seorang sastrawan, Ajip juga merupakan Budayawan, yang pada tahun 2001 bersama budayawan Sunda lainnya membuat Ensiklopedia Kebudayaan Sunda.
Mengenang Sapardi dan Ajip Rosidi Melalui Puisi
Puisi Eyang Sapardi
“Aku Ingin”
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Pada Suatu Hari Nanti
Pada suatu hari nanti,
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini,
kau tak akan kurelakan sendiri.
Pada suatu hari nanti,
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini.
Kau akan tetap kusiasati,
pada suatu hari nanti,
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela-sela huruf sajak ini,
kau tak akan letih-letihnya kucari.
Sajak Sajak Kecil Tentang Cinta
mencintai angin
harus menjadi siut
mencintai air
harus menjadi ricik
mencintai gunung
harus menjadi terjal
mencintai api
harus menjadi jilat
mencintai cakrawala
harus menebas jarak
mencintai-Mu
harus menjelma aku
Puisi-Puisi Ajip Rosidi
Lagu Kerinduan
Wajahmu antara batang kelapa langsing
Menebar senyum dan matamu menjadikan daku burung piaraan
Semua hanya bayangan kerinduan: kau yang nun entah di mana
Mengikuti setiap langkahku, biarpun ke mana
Kujalani kelengangan hari
Sepanjang pagar bayangan: wajahmu menanti
Langkah kuhentikan dan kulihat
Hanya senyummu memenuhi jagat
Ingat Aku Dalam Doamu
Ingat aku dalam do’amu: di depan makam Ibrahim
akan dikabulkan Yang Maha Rahim
Hidupku di dunia ini, di alam akhir nanti
Lindungi dengan rahmat, limpahi dengan kurnia Gusti
Ingat aku dalam do’amu: di depan makam Ibrahim
di dalam solatmu, dalam sadarmu, dalam mimpimu
Setiap tarikan nafasku, pun waktu menghembuskannya
Jadilah berkah, semata limpahan rido Illahi
Ya Robbi!
Biarkan kasih-Mu mengalir abadi
Ingat aku dalam do’a-Mu
Ingat aku dalam firman-Mu
Ingat aku dalam diam-Mu
Ingat aku
Ingat Amin
Dukaku yang Risau
Berjalan, berjalan selagi di diri duka
Bernapas lega menemu perempuan
Kami berpandangan: lantas tahu
Segalanya tinggal masa kenangan
Kami berjalan memutar danau
Namun kutahu: dukaku yang risau
Takkan mendapatkan pelabuhan aman
Kecuali dalam pelukan penghabisan
Kupandang matanya:
Tak kukenal siapa pun juga
Didindingi kabut samar
Selamat jalan menuju Sang Pemilik kata kata Yang Abadi Eyang Sapardi dan Pak Ajip Rosidi
*Puisi mengutip dari gramedia(.com) dan inews(.id)







