Kebijakan lockdown yang telah berlangsung kurang lebih 3 bulan telah banyak memberikan dampak dalam kehidupan masyarakat. Meski angka penyeberan Covid-19 belum mampu ditekan namun kebutuhan akan ekonomi, sosial dan kebutuhan utama lainnya harus tetap terpenuhi bagi masyarakat. Itulah salah satu alasan pemerintah mulai melonggarkan aturan lockdown dan menyusun susunan kehidupan baru berupa New Normal.

Menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmita, New Normal mengajurkan kita untuk hidup berdampingan dengan Covid-19 dengan tatanan kehidupan baru. Pemberlakuan hal ini mulai bulan Juli ini menjadi harapun bagi masyarakat dan pemerintah untuk mengurangi berbagai dampak negatif dari pandemi dan memulihkan status ekonomi.

Namun tak dapat dipungkiri bahwa hal inipun mengundang banyak tantangan baru khususnya dalam dunia pendidikan, yang telah banyak mengalami perubahan dan menjadi isu yang hangat diperbincangkan. Tak kalah penting dengan kesehatan masalah pendidikan yang menjadi tonggak utama perubahan nasib bangsa ini juga harus segera menemui titik temu untuk siap menuju pendidikan 4.0.

Mahasiswa sebagai insan akademis dengan pemikiran yang kritis dan inovatif dianggap sebagai pembawa perubahan besar dalam dunia masyarakat. Kemampuan mahasiswa disertai disiplin ilmu yang dimiliki harus mampu membawa berbagai perubahan khususnya di masa new Normal ini. Sebagai kaum intelektual juga milenial mahasiswa yang memang disiapkan untuk terjun di masyarakat praktiknya akan lebih mudah dilakukan jika di mulai dari saat ini.

Peran mahasiswa sebagi agen dari perubahan, sosial dan kontrol kini perlu kembai dikuatkan dan ditingkatan. Meski kaum milenial saat ini sering dianggap alay namun tak dapat dipungkiri bahwa kesadaran mahasiswa juga cukup tinggi terlihat dari keaktifan mahasiwa dalam bidang politik, pendidikan maupun ekonomi melalui kegiatan pemerintah maupun organisasi yang ada.

Masalah pendidikan masih menjadi prioritas pemerintah hingga saat ini, terutama kini yang sistem pembelajaran “dipaksa” untuk online. tanpa persiapan yang matang tentu saja masih banyak kesalahan dan ketidakefektifan dalam pembelajaran sehingga banyak pendidik dan peserta pendidik yang mengalami kendala dalam pembelajaran.

Berbagai tantangan tersebut tentu semakin memojokkan kita untuk segera mencari solusi, termasuk pada mahasiswa. Karena tentu saja itu bukan hanya tugas dari pemerintah namun juga para peserta didik, orang tua dan mahasiswa sebagai calon penerus bangsa ini. Berbagai komponen tersebut harus bersinergi untuk mampu mewujudkan pendidikan yang berkualitas bagi bangsa ini.

Tahun ajaran baru yang telah ditetapkan 13 Juli 2020 oleh Kemendikbud menekankan bahwa kegiatan pembelajaran akan tetap berlangsung ditengan meningkatnya kasus pandemi. Namun bukan berarti hal itu mengahruskan siswa belajar disekolah, melainkan tetap belajar daring pada daerah zona merah dan kuning dan tatap muka pada daerah zona hijau.

Tantangan yang hadir dalam dunia pendidikan saat ini berupa kelemahan pada dunia teknologi pada kebanyakan orang tua yang masih Gaptek serta belum mampu menjadi guru bagi anak, kuota pada keluarga terdampak, juga ponsel yang masih menjadi barang mewah pada beberapa kalangan, sinyal yang sulit dicari di daerah pedalaman, kemalasan anak mencari dan mempelajari materi lebih mendalam melalui dirinya sendiri dan kurangnya bersosialisasi.

Salah satu upaya yang dapat diterapkan dari mahasiswa ataupun komponen lain adalah dengan belajar, berbagi dan berkontribusi. Belajar dalam hal ini dapat diartikan dengan mendalami peran ilmu sebanyak-banyaknya untuk sampai di titik kepahaman yang tinggi. Entah dalam bidang teknologi seperti yang saat ini dibutuhkan atau yang lain. Dengan mendalami setiap disiplin ilmu dari mahasiswa maka akan terbentuk mahasiswa yang memiliki intelektual untuk mampu berperan langsung dalam masyarakat dan menyelesaikan masalah yang terjadi.

Berbagi merupakan salah satu kegiatan menyampaikan atau memberi sesuatu yang kita miliki pada orang lain. Dengan menguatkan peran ini pada mahasiswa akan membentuk kepekaan sosial dan kepedulian yang tinggi pada sekitar. Sehingga dengan disiplin imu yang telah dimiliki akan mampu ditularkan kembali pada masyarakat. Misalnya bisa berupa belajar dengan beberapa guru yang masih kesulitan mengendalikan media online untuk kegiatan mengajar, mengadakan les untuk anak-anak untuk membantu mereka memahami materi yang didapatkan secara daring.

Berkontribusi adalah bagian terbaik dari peran mahasiswa karena dari sini telah terbentuk jiwa sosial yang tinggi dan mahasiswa akan mengerahkan seluruh tenaga dan pikiran serta ilmunya untuk mengabdi pada masyarakat. Kontribusi ini dapat berupa program dari beberapa penyelesaian masalah yang dialami masyarakat dan akan berusaha pula tetap berlanjut sampai seterusnya. Hal ini tentu pulalah akan menghasilkan perubahan yang signifikan pada masyarakat.

Kekuatan mahasiswa didukung dengan fasilitas dari pemerintah juga sambutan baik masyarakat diharapkan akan mampu memberikan perubahan yang lebih baik dalam dunia pendidikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here