Jika kita menengok kembali cita-cita seorang pendiri bangsa ini bernama Ki Hadjar Dewantara ketika maka kita akan bisa menyimpulkan bahwa yang namanya sekolah adalah sebuah jembatan indah yang akan mewujudkan cita-cita kita yang selama ini kita kejar yaitu lepas dari genggaman imprealisme.

Pada 3 Juli 1922, Ki Hadjar Dewantara memiliki pandangan jika kita ingin merubah nasib bangsa ini adalah lewat sekolah, cita-cita itu akhirnya direalisasikan beliau dengan mendirikan sebuah tempat belajar bernama Taman Siswa. Identitas bangsa Indonesia akan dibangun dari sana, di sinilah ide sebuah frase yang menjadi identitas Taman Siswa masa itu Ing ngarso tulada, Ing madya mangun karsa, Tut Wuri Handayani. Sebuah frase indah yang seakan-akan menjelaskan bahwa sekolah bagi bangsa Indonesia adalah kebebasan untuk menentukan nasib kita sendiri.

Setelah lebih dari 90 tahun, apakah ini terwujud atau malah menguap menjadi sebuah mimpi? Sebuah harapan terus digenjot untuk merubah nasib bangsa lewat pendidikan, ini ditanamkan dalam otak kita semua. Dari film hingga banyak karya sastra menuliskan persoalan ini.

Di abad melenial yang sedang berjalan ini, kehidupan seakan-akan tidak pernah luput dari desakan modernitas untuk merubah sistem kehidupan kita menjadi serba instan, cepat, konsumtif dan penuh dengan pencitraan. Termasuk sekolah, kita tidak dapat memungkiri bahwa sekolah saat ini menjadi sebuah komoditas yang cukup menggiurkan.

Di hampir semua iklan perumahan elit, selalu menampilkan diri bahwa posisi properti mereka sangatlah dekat dengan sekolah-sekolah unggulan. Jika tidak ada sekolah unggulan di sana maka mereka akan membuat sebuah sekolah yang terkoneksi dengan properti mereka. Inilah salah satu potret bahwa sekolah sudah menjadi barang jualan yang bisa menarik orang untuk membeli sesuatu.

Ketimpangan di mana-mana baik sekolah negeri ataupun swasta sudah jelas di depan mata kita, dari segi apapun seperti mutu pendidikan, sistem pengajaran bahkan fasilitas jelas sekali perbedaannya. Antara sekolah “unggulan” dengan yang “non-unggulan”, akan terlihat sekali jomplangnya urusan sekolah di negeri kita ini.

Persoalan pun selalu muncul di setiap saat, dari masalah pembebasan lahan sekolah yang bermasalah, buku pelajaran yang tidak senonoh, persoalan Full Day atau tidak hingga akses ke sekolah yang sulit sudah menjadi pemandangan biasa. Namun ini hanyalah sebuah persoalan yang timbul dari efek inti dari persoalan sekolah ini, yaitu keidakbecusan mereka yang mengurusi soal sekolah dan pendidikan kita baik itu pemerintah ataupun swasta.

Ada sebuah film dari India yang sangat bagus memotret persoalan sekolah di tanah India, berjudul Hindi Medium. Film ini menceritakan sepasang suami istri bernama Raj dan Mitho yang akan menyekolahkan anaknya di sekolah elit di Mumbai. Raj dan Mitho adalah pasangan suami istri yang mendiami salah satu daerah kumuh di India, namun mereka secara ekonomi sudah mulai mapan dan menjadi kelas menengah dari masyarakat India.

Permasalahan kemudian muncul bagi Raj dan Mitho saat mereka mau menyekolahkan anak mereka, sebab dalam kehidupan yang mapan maka akan sangat memalukan jika menyekolahkan anak mereka di lingkungan kumuh di mana sekolah negeri berada. Keputusan yang mereka ambil adalah menyekolahkan anak mereka di sekolah swasta yang elit.

Raj dan Mitho yang berlatar belakang kelas bawah, maka penguasaan bahasa Inggris dan etiket pergaulan sangatlah dipandang “rendah”. Inilah yang menyebabkan mereka harus meminta “pertolongan” jasa konsultan untuk para orang tua yang kesulitan menghadapi syarat-syarat dari sekolah-sekolah elit tersebut. Film ini mengambarkan bahwa kehidupan sekolah sebagai barang jualan dan bisnis yang menggiurkan.

Di Indonesia, pengelolaan swasta yang dibebaskan dan diserahkan ke pemodal yang memiliki sekolah-sekolah elit sehingga dengan alasan pembangunan dan fasilitas yang digunakan maka mereka menetapkan “harga” sekolah mereka menjadi mahal dan sulit dijangkau oleh masyarakat kita kebanyakan yang hidup di kelas menengah ke bawah.

Jean Baudrillard (1929-2007), seorang sosiolog politik Prancis ketika menggambarkan realitas semu. Bagi Jean Baudrilllard dalam bukunya Simulacra and Simulation, manusia abad kontemporer hidup dalam dunia simulacra (gambar atau citra). Dalam kehidupan modern ini, sekolah pun tak luput dari soal “gambar” dan “citra”. Sekolah menjadi gaya hidup dan menaikkan lingkaran pergaulan, sehingga sekolah ala taman siswa rancangan Ki Hadjar Dewantara semakin jauh dari harapan.

Dalam kehidupan post-modern sekarang ini, di mana memandang konsumsi sebagai sebuah sistem diferensiasi baik itu nilai, status simbol maupun prestise sosial. Di sinilah kita seharusnya sadar dengan makin tingginya “harga” sebuah pendidikan dan diperparah dengan adanya cara kita memandang sekolah hanya sebagai gambar dan citra, bahwa dunia pendidikan kita sudah sekarat dan perlu pengobatan yang cukup ekstrim juga. Di sini penulis menawarkan kita perlu melirik kembali sistem-sistem sekolah yang lebih manusiawi, seperti yang ditawarkan oleh Ki Hadjar Dewantara yaitu konsep Taman Siswa.

Namun di tengah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang dahsyat saat ini, realitas telah hilang dan kebenaran seringkali kabur. Realitas tidak hanya diceritakan, direpresentasikan, dan disebarluaskan, tetapi kini dapat direkayasa, dibuat dan dicitrakan.Sekolah pun tak luput daripada perseoalan realitas buatan ini yang sudah bercampur-baur, silang sengkarut menandakan datangnya episode baru dinamika sekolah yang cuma menjaditopeng. Simulacra telah mengaburkan dan mengikis perbedaan antara yang nyata dengan yang imajiner, yang benar dengan yang palsu. Sekolah sekarang ini sudah menjadi industri yang sangat menggiurkan semua orang, sehingga dibungkuslah sekolah sebagai tempat untuk mencapai cita-cita, namun sebenarnya tak lebih dari hanya jualan para pemodal yang bermain di sana.

Dengan alasan ingin menambah kualitas pendidikan, para pemilik sekolah semaunya menetapkan harga bagi sesiapa yang mau masuk ke sekolahnya. Bangunan yang megah, fasilitas yang canggih dan modern, guru-guru yang profesional juga kurikulum yang digunakan juga yang terbaru, inilah yang mereka biasanya jual dalam menawarkan sekolah, baik itu dari level sekolah dasar hingga universitas. Jadilah sekolah-sekolah kita tidak lagi bisa dijangkau oleh semua orang, padahal sudah seharusnya sekolah itu bisa dijangkau oleh semua orang karena pendidikan yang layak adalah hak asasi manusia.

Ketika sekolah dipermainkan antara citra, tanda dan konsumerisme, patutkah kita apatis terhadap perubahan dari bangsa ini? Dengan pendidikan yang cuma berjualan citra ini, mungkin kita patut waspada dan mulai melawan ini semua. Jangan sampai Ki Hadjar Dewantara meneteskan air mata saat melihat dunia pendidikan saat ini di Indonesia yang sangat tidak adil terhadap rakyatnya sendiri. Tabik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here