21 April sebagai hari sakral reingkarnasi sosok kartini, yang raganya dihampiri oleh kematian, namun semangatnya kekal abadi. sejarah yang menyebutkan bahwa ibu pena ini menutup di usia muda pada umur 25 Tahun tepat pada 17 September 1904.
Penyebab kematian pahlawan emansipasi perempuan ini pun masih menjadi polemik, ada literatur yang menyebutkan bahwa RA Kartini meninggal karena dibunuh oleh kolonel Hindia-Belanda, bahkan ada literatur lain yang menjelaskan bahwa RA. Kartini meninggal karena penanganan yang kurang tepat pada perempuan pasca melahirkan, karena RA. Kartini meninggal 5 hari pasca melahirkan anak tunggalnya.
Apa yang dapat diwarisi dari seorang RA Kartini ? Pertanyaan seperti ini hanya akan menghadirkan pertanyaan baru bagi kita semua, bagi perempuan Indonesia. Sudahkah siapkah kalian memikul beratnya beban seorang pejuang emansipasi perempuan layaknya RA. Kartini ?
Siapkah Rahim kalian selama 9 bulan mengandung penerus bangsa yang arif dan bijaksana ?
Siapkah kalian menjadi perempuan yang haus akan ilmu, yang akan seorang ibu tanamkan saat perempuan didaulat menjadi madrasatul ulaa bagi putera-puteri nya ?
Siapkah kalian mengabdi pada peran ibu, istri dan anak perempuan yang membanggakan kedua orang tua nya ?
Siapkah kalian menjadi perempuan yang berdikari ?
Siapkah kalian menanamkan semangat adil juang membela hak seluruh perempuan yang sampai saat ini hak nya masih dirampas, kebebasannya dibatasi, posisinya di nomor duakan ?
Siapkah kalian menjadi garda terdepan menolak segala bentuk diskriminasi perempuan ?
Siapkah kalian hidup dengan semangat juang RA.Kartini ?
Jawab dengan lantang, Kita Perempuan, Kita siap meneruskan perjuangan RA.Kartini
Raganya tiada, namun semangatnya semakin membara. Semangat juang RA Kartini untuk mensetarakan keadilan tak pernah padam meskipun hela nafasnya sudah berpuluh tahun terhenti. Teringat pada salah satu narasi juang RA Kartini demi memantik semangat para perempuan Indonesia untuk bangkit dan berjuang membangun peradaban bangsa melalui kecerdasan, peran strategis dalam mengambil kebijakan, bahkan salah satu pesan yang disampaikan RA.Kartini
“Dalam perjalanan, berbagai hal yang saya lihat dan dengar semakin menguatkan saya bahwa kecerdasan otak bukan segalanya. Kita harus memiliki kecerdasan lain yang lebih tinggi, yang saling mendukung dan mengantarkan orang kearah yang dituju”
sepenggal narasi ini menggambarkan bahwa seorang kartini tidak hanya mengandalkan kejernihan pikiran saja, karena itu tidak akan cukup untuk berjuang, namun kebijaksanaan hati seorang perempuan akan memupuk martabat luhur bangsa.
Seseorang yang bertekad membangun pemikiran revolusioner setiap perempuan berarti seorang ahli waris yang ditunjuk oleh semangat juang kartini yang tak pernah padam. Jika situasi dan kondisi hari ini tidak memungkinkan untuk perempuan hidup nyaman dan aman, maka ahli waris Karitini yang harusnya meneruskan semangat juang ibu revolusioner bangsa RA.Kartini, tiada lain adalah seluruh perempuan Indonesia yang menempa jati dirinya dengan semangat keadilan sosial dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Ketidakadilan sosial sebagai wujud diskriminasi peran sosial harus ditolak dengan tegas oleh seluruh perempuan pribumi, perempuan-perempuan tangguh di Indonesia.
“Anak perempuan yang pikirannya telah dicerdaskan serta pandangannya telah diperluas tidak akan sanggup hidup dalam dunia nenek moyangnya” kutipan singkat dari RA. Kartini menggambarkan bahwa dunia nenek moyang sebagai realitas kelam bagi perempuan, tidak semua warisan nenek moyang itu buruk, namun ada realitas dimasa itu karena terpengaruh oleh sentiment penjajah mengakibatkan perempuan tidak mendapatkan kesempatan untuk belajar, perempuan masih terkurung dalam tradisi yang mengkerdilkan peran sosial perempuan, bahkan perempuan di objektifikasi, di marjinalkan bahkan mengalami subordinasi.
Namun yang perlu diingat itu realitas kelam yang dulu terjadi. Semenjak RA.Kartini hidup mengabdikan diri sebagai pejuang emansipasi perempuan, maka realitas kelam itu hilang. RA. Kartini memperjuangkan Pendidikan melalui literasi baik kepenulisan maupun tradisi membaca, Kumpulan Surat-Surat Kartini menjadi bukti bahwa perjuangannya abadi melalui Pena Juang nya. inilah sejatinya warisan dari RA. Kartini untuk seluruh Perempuan Pribumi, Perempuan Indonesia.
Semangat Juang Membara, Ibarat Kobaran Api. Takkan Redup Walau Ajal Menghampiri, Tak Kan Mati Walau Raga Tak Bernyawa Lagi, Perempuan Revolusioner sebagai Anak, Ibu dan Istri Yang Menanamkan Nilai Adil Dan Merdeka Sampai Akhir Hayatnya.




