“Dari titik api matahari pagi
Kan kutangkap semangat menyala nyala
Bakar badanku bakarlah jiwaku
Biar matang merdeka (1985)”

Begitulah bunyi lirik dari soundtrack film buruh yang disaksikan bersama kawan-kawan aktivis di Malang (22/07). Sebuah film yang disutradarai oleh Dian Septi Trisnanti selaku Sekjen Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) cukup lugas menggambarkan kehidupan para buruh perempuan dalam menjalankan amanahnya. Melalui film dokumenter tersebut mencoba diuraikan kisah-kisah miris yang merenggut hak-hak perempuan dibalik kerja, lembur dan upah. Kejahatan terhadap buruh perempuan mulai diperbincangkan seiring banyaknya kasus-kasus pelecehan seksual di lingkungan kerja.

“Angka Menjadi Suara” begitulah Mbak Dian melabeli film yang digarap sejak 2016 silam. Pembuatan film ini semula diinisiasi oleh Perempuan Mahardhika dan di dukung oleh FBLP dengan tema Melawan Kekerasan Seksual. Mengambil latar kejadian di pabrik Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung, secara natural sambung-menyambung lidah mulai mengungkap kejadian yang dialami buruh perempuan. Menilik isi film tersebut pelecehan terjadi mulai dari ‘siul’an, colak-colek, meraba, memeluk, mencium bahkan terjadi kehamilan bagi korban. Ketidaknyamanan bekerja karena diperlakukan kurang manusiawi membuat sebagian buruh jengkel namun sebagian lebih memilih bungkam lantaran tak ingin memperpanjang masalah. Hingga selama ini kasus-kasus itu masih terbungkus rapi dalam topeng kesejahteraan buruh. Namun nyatanya hal semacam itu masih buram seperti kejahatan terselubung.

Melalui forum-forum diskusi dan serikat buruh, keluhan dan suara mulai dikumpulkan. Bertindak tegas dan berani melawan mencoba dilakukan para aktivis buruh perempuan demi menyuarakan hak dan mendapatkan keadilan. Tindakan berani melawan pelecehan seksual mulai dikampanyekan di lingkup pabrik. Dengan semangat yang menyala-nyala para aktivis mulai turun ke jalan membagikan selebaran, berorasi, memasang plang atau rambu stop pelecehan seksual. Tak ketinggalan pula pengaduan bersama pihak terkait pun gencar dilakukan demi mendapatkan perlindungan dan jaminan hak bekerja dengan aman dan terlindungi. Laju pergerakan semakin pesat hingga berdirinya posko pengaduan meskipun bertempat di pos satpam.

Menurut Mbak Dian, hingga hari ini evaluasi kasus pelecehan masih dilakukan. Harapan besar para aktivis buruh perempuan untuk mengajak seluruh perempuan menyadari bahwa dirinya berharga dan tindakan pelecehan seksual harus dilawan.

“Kami bekerja dan digaji karena jasa, bukan lantas tubuh kami juga dinikmati seperti barang yang sewaktu-waktu dipakai lalu dibuang begitu saja,” tutur aktivis yang akrab kami sapa Mbak Dian.

Seusai pemutaran film, temu kami berlanjut dengan diskusi hangat. Isu-isu terkait perburuhan mulai dibahas satu per satu. Ternyata kasus-kasus yang terjadi pada buruh cukup mencengangkan. Meskipun sudah didengung-dengungkan perlawanan terhadap pelecehan seksual masih banyak pula buruh perempuan yang memilih bertindak apatis atau faktor lain yang memang menghendaki agar ia tetap bekerja. Rasa takut bersuara demi kedudukan dan bahkan sebenarnya ingin melawan tapi ‘pasrah’ karena sebagai tulang punggung keluarga yang menjadikan buruh perempuan tidak berdaya. Sisi lain yang menjadi kendala adalah sulitnya koordinasi buruh antar pabrik sehingga menjadikan sekat kekosongan barisan perlawanan. Ketidakadilan yang dirasakan buruh perempuan tidak hanya dari pelecehan seksual. Terkait mesin yang rusak dan target yang tinggi dijadikan kambing hitam perusahaan untuk mengulur jam kerja tanpa gaji. Pabrik berdalih bahwa target tidak sesuai maka pemoloran jam kerja adalah bentuk hukuman. Cerita perampasan hak juga terdengar dengan pelarangan hamil bagi buruh perempuan. Tidak serta merta ‘dilarang’ namun para buruh dibagikan kondom dan pil KB. Aturan yang berlaku bila ada karyawan yang hamil maka akan mendapatkan cuti 3 bulan dengan gaji utuh. Sehingga perusahaan akan menekan angka kehamilan agar produktivitasnya tetap tinggi. Selain itu sistem home base worker menjadi muka dua perusahaan. Iming-iming jika perempuan bekerja di rumah akan tetap bisa merawat anak justru menjadi sistem licik untuk meniadakan jaminan kesehatan dan jaminan lingkungan kerja yang nyaman. Namun dengan semangat juang yang tinggi para aktivis buruh akan tetap berjuang hingga mendapatkan haknya.

“Angka Menjadi Suara” dinilai menjadi metode efektif untuk membongkar kasus-kasus sunyi dan upaya menyuarakan hak-hak buruh perempuan. Sebuah aksi menulis surat kepada Presiden Jokowi mengakhiri silaturahmi sekaligus sambung jiwa melawan ketidakadilan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here