Sesuai dengan Surat Keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959 pemerintah telah menetapkan 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional. Penetapan tanggal 2 Mei sebagai hari pendidikan nasional tidak terlepas dengan sosok yang sangat berjasa dalam gerakan pendidikan di indonesia pada masa kolonial hingga saat ini.
Tanggal 2 Mei merupakan kelahiran R. M. Suwardi Suryaningrat atau biasa kita kenal dengan Ki Hadjar Dewantara. Beliau merupakan tokoh pendidikan nasional yang bergerak pada masa kolonial dan ajarannya masih berkembang hingga generasi hari ini. Atas jasa beliaulah dalam gerakan pendidikan sehingga hari lahirnya ditetapkan sebagai hari pendidikan nasional.
Gerakan Pendidikan Masa Kolonial
Di masa kolonial akses terhadap pendidikan hanya mampu dinikmati oleh golongan tertentu, hal ini dilakukan untuk tetap menjaga kekuasaan kolonial tidak mendapat perlawanan dari masyarakat pribumi. Adapun beberapa pribumi memperoleh akses pendidikan oleh kolonial hanya digunakan sebagai tenaga tambahan untuk menindas pribumi lainnya.
Pada zaman kolonial seorang yang memperoleh akses pendidikan cenderung wataknya berpihak terhadap pemerintah kolonial dan beranggapan bahwa pribumi adalah masyarakat yang primitif tidak berkembang. Meskipun demikian ada beberapa tokoh-tokoh pribumi yang menggunakan akses pendidikan sebagai simpul perlawanan dalam memerdekakan masyarakat dari jajahan kolonial.
Jika kita menyusuri novel serial tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, ada beberapa tokoh baik itu pribumi dari golongan ningrat maupun golongan biasa yaitu Mingke, Marco, Sandiman, RA Kartini merupakan sosok pribumi yang berjuang untuk membebaskan masyarakat dari jajahan kolonial. Mereka dengan akses pendidikan Eropa pada saat itu dipergunakan untuk menentang kembali kolonial atas kewenangannya dalam menjajah masyarakat hinda.
Gerakan perlawanan yang dilakukan oleh Ki Hajar dewantara dalam pendidikan merupakan gerakan yang tidak berbeda jauh dengan apa yang digambarkan Pram dalam serial buku tetralogi pulau burunya. Ki Hadjar Dewantara mempelopori untuk melakukan pembentukan lembaga pendidikan sebagai ruang belajar dan penyadaran pada pribumi yang terlepas dari kekuasaan dan kepentingan belanda.
Apa yang dilakukan Ki Hadjar Dewantara ini kemudian berkembang sampai pada semboyan yang hingga kini masih digunakan sebagai pedoman dalam pendidikan yaikni ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani.
Pendidikan : Mendidik dan Mengajar
Secara sederhana pendidikan merupakan usaha sadar dalam mengembangkan diri seseorang untuk menjadi lebih baik. Pendidikan memiliki peran penting dalam menciptakan seorang menjadi merdeka, baik dalam pikiran dan gerakan nya.
Selain kiprahnya dalam gerakan pendidikan kita juga perlu untuk memahami apa yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara dalam konsep pendidikannya. Pendidikan tidak akan terlepas dengan mendidik dan mengajar, kedua hal ini akan sangat berkaitan dalam upaya mengembangkan potensi seorang anak untuk sesuai dengan kodratnya.
Mendidikan lebih diutamakan dalam hal memberikan contoh langsung kepada seorang anak untuk memberikan pemahaman langsung sedangkan mengajar merupakan proses transfer pengetahuan dalam dilakukan dalam bentuk pembelajaran. Jika mengacu pada gagasan ing ngarso sung tulodo (di depan memberikan contoh) ini merupakan konsep mendidik yang dilakukan denga memberikan contoh yang baik kepada anak-anak. Gagasan ing madyo mangun karso (di tengah mendampingi) ini merupakan konsep bentuk pengajaran sekaligus pendampingan kepada seorang anak, sebab sejatinya pendidikan adalah pendampingan bagi seorang anak untuk mencapai apa yang sesuai dengan kodratnya.
Kemudian yang terakhir konsep tut wuri handayani (di belakang memberikan dorongan/motivasi) ini merupakan bentuk support dan motivasi atas upaya sadar yang telah dilakukan oleh seorang anak dalam berkembang mencapai kodratnya.
Jika melihat konsep yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara maka keutuhan semboyan ditas menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Semoga di hari pendidikan nasional 2024 ini yang bertajuk bergerak bersama, lanjutkan merdeka belajar bukan hanya tema belaka, akan tetapi benar mewujudkan anak-anak indonesia yang merdeka sesuai dengan kodratnya masing-masing.
Penulis: Amin Syamsudin Pure
(Aktivis Anti-Korupsi)






