Kegiatan Ngabuburead Puisi: Membacakan Puisi Tiongkok Klasik & Terjemahannya yang diselenggarakan oleh Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kota Serang di kawasan Masjid Pecinan Tinggi Banten menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat sipil mampu menghadirkan ruang dialog budaya yang hangat dan inklusif.
Menggabungkan tradisi membaca puisi klasik Tiongkok dengan suasana Ramadhan tak hanya memperkaya literasi budaya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana keberagaman dapat dirayakan melalui kegiatan yang sederhana namun bermakna.
Kegiatan ini juga membawa pesan penting, sebagai upaya mempererat hubungan kebudayaan antara Kota Serang dan Hangzhou sebagai kota yang memiliki kerja sama Sister City. Namun di sinilah muncul pertanyaan kritis, sejauh mana Pemerintah Kota Serang benar-benar menghidupkan kerja sama tersebut?
Kerja sama sister city seharusnya bukan sekadar formalitas diplomasi atau agenda seremonial belaka. Bukan pula sekadar pertemuan-pertemuan simbolik yang bersifat seperti “arisan”, hadir sesekali tanpa arah program yang jelas.
Sister city pada dasarnya ialah komitmen strategis antar kota untuk saling belajar, bertukar pengalaman, serta membangun kolaborasi nyata di berbagai bidang; mulai dari pendidikan, kebudayaan, pariwisata, hingga ekonomi dan teknologi.

Hangzhou sendiri bukan kota biasa. Kota ini dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan dan inovasi di Tiongkok, bahkan menjadi rumah bagi perusahaan teknologi besar dunia. Kerja sama dengan kota seperti Hangzhou sebenarnya membuka peluang besar bagi Kota Serang untuk memperluas jaringan internasionalnya.
Program pertukaran pelajar, kolaborasi festival budaya, promosi pariwisata bersama, hingga kerja sama ekonomi kreatif bisa menjadi langkah konkret yang membawa manfaat langsung bagi masyarakat.
Sayangnya, hingga kini perkembangan kerja sama Serang–Hangzhou belum menunjukkan progres yang signifikan. Belum terlihat adanya program berkelanjutan yang benar-benar menghidupkan hubungan kedua kota tersebut. Justru kegiatan yang menghidupi kerjasama tersebut diinisiasi oleh komunitas masyarakat.
Padahal diplomasi budaya sering kali justru lahir dari inisiatif masyarakat. Pemerintah seharusnya hadir untuk memperkuat, memfasilitasi, dan mengembangkan inisiatif tersebut menjadi program yang lebih besar dan berdampak luas. Tanpa peran aktif pemerintah, kerja sama sister city berpotensi berhenti sebagai dokumen kerja sama yang indah di atas kertas, tetapi minim implementasi.
Karena itu, Pemerintah Kota Serang perlu melihat kegiatan seperti Ngabuburead Puisi ini sebagai sinyal penting. Antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa potensi hubungan budaya antara Serang dan Hangzhou sebenarnya ada dan hidup. Yang dibutuhkan adalah visi yang lebih jelas, strategi yang terarah, dan keberanian untuk menjadikan kerja sama internasional sebagai bagian dari pembangunan kota.
Sister city bukan sekadar simbol, bukan pula sekadar agenda pertemuan. Ia adalah jembatan kerja sama yang seharusnya menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat. Jika dikelola dengan serius, hubungan Serang–Hangzhou dapat menjadi pintu bagi pertukaran pengetahuan, penguatan identitas budaya, serta peluang ekonomi baru bagi Kota Serang.
Pada akhirnya, kegiatan sederhana yang digagas masyarakat ini justru mengingatkan kita pada esensi sesungguhnya dari sister city: membangun kedekatan antar budaya dan membuka ruang kolaborasi lintas bangsa. Kini pertanyaannya sederhana—apakah Pemerintah Kota Serang siap melangkah lebih jauh, atau membiarkan kerja sama ini berjalan seperti arisan yang hanya ramai sesaat lalu kembali sunyi?







