Zaman berhala – berhala baru pola pemikiran manusia yang mudah terbawa opini pasar bebas terutama jamaah layar sosmed sehingga apa yang mereka liat mereka akan mudah mempercayainya. Fanatisme yang memebabi buta melahirkan kedunguan baru.  Walhasil pada besarnya konflik keagamaan yang sebenarnya dilakukan oleh orang yang tidak ber agama tapi mengaku ber agama. menjadi pukulan berat pada manusia pemegang tauhid bil ghaib (samawi). Yang menang manusia yang membawa berhala berupa duniawi serta globalisasi material. Yang terbangun paradigma, dogma, doktrin yang hanya asumsi2 manusia yang ber agama. Perbedaan pada perkembangan terkini diluar jangkauan manusia sekolah dan akademisi.

Berbeda dengan pandangan dasar orang – orang seusia, yang lahir tahun 1950-1970, yang sejak dini sudah disuapi dogma dan doktrin bhw Agama adalah ajaran yang menanamkan Tauhid,  Akhlaq,  Kebaikan, Kedermawanan,  Kebijaksanaan,  dan Keselamatan. Lewat cerita,  dongeng, si’iran,  hafalan, lagu kita kenal malaikat,  jin, setan, lblis, yang ghaib sebagai keniscayaan. Orang yang baik akan masuk surga. Orang yang jahat akan masuk neraka.  Hampir tidak ada yang mempersoalkan dogma dan doktrin agama itu selain golongan sekuler yang memang tidak percaya Agama.

Telah tertanam dalam benak kita, bhw orang-orang tidak beragama, Ateis, Marxist, PKl,  dll orang yg tidak bertuhan adalah Kafirin Ahli neraka. Tidak ada kebaikan yg dilakukan oleh orang-orang kafir.

Saat kini, anak-anak Millenial, tidak dengar dogma dan doktrin lewat cerita, dongeng, si’iran, hafalan, lagu, dll, melainkan langsung menonton TV,  video, film, media sosial yang merupakan fakta riil dari kenyataan yang dihadapinya. Itu sebab, tidak perlu heran ketika mereka memaknai agama sesuai pemaknaan dan pemahaman yang mereka persepsikan.

Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan kemanusiaan adalah orang-orang kafir tidak beragama?  Siapa orang-orang yg membunuh orang yg berlainan agama, orang kafirkah?

Bom bunuh diri yang diledakkan di kafe,  restoran, hotel, bahkan di tempat ibadah, apakah dilakukan kaum kafir tidak beragama?

Siapakah orang-orang intolerans, ekstrim,  ganas,  yang dengan arogan menuduh orang lain kafir, munafik, musyrik, murtad? Siapakah orang bodoh yang menganggap orang lain yang berbeda pendapat sebagai orang sesat?  Siapa yang sepanjang waktu pamer kehebatan dan kebenaran diri dengan meneriakkan takbir ? Siapa yang suka mengkafirkan dan menghalalkan darah orang lain? Siapa yg membuat kekisruhan dan perpecahan atas nama agama?

Fakta Riil, menurut simpulan anak-2 Millenial yang langsung terakses dengan data, semua adalah orang beragama. Orang-orang kafir tak beragama di Australia,  Eropa,  Amerika terkenal ramah dan suka membela orang yang terdzalimi. Mereka sopan dan menghargai orang lain. Tapi lihat dan saksikan, “Apa yg dilakukan orang-orang beragama yang mengklaim kaum beriman?”

Simpulan sederhana anak-anak Millenial,  orang beragama tidak menjadi baik, malah menjadi tidak baik. Agama hanya menjadi unsur pemecah-belah, permusuhan,  kebencian, dan kebinasaan. Orang beragama menjadi benar bagi dirinya sendiri, sebaliknya jadi bencana bagi yang lain.”

Akibat pandangan Millenial ini, fenomena agnosticme (tidak mengakui ber agama) menggelombang cukup kuat di kalangan generasi Millenial dan gen seusai millenial. Wallhua’llam

Ilmi Najib

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here