Dewasa ini, perkembangan kemajuan teknologi  di Indonesia mengakibatkan perubahan pola hidup  dalam masyarakat. Salah satunya terjadi pada mahasiswa, saat ini minat baca buku mahasiswa mulai menurun. Mereka lebih suka membaca informasi di media massa dibandingkan dari media cetak. Mereka lebih sering menggali informasi melalui gawai pribadinya. Akibatnya, perpustakaan di kampus pun menjadi sepi pengunjung. Sekarang ini, budaya literasi, seperti membaca, menulis dan berbicara adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan mahasiswa. Seringkali kita mendengar bahwa mahasiswa adalah Agent Of Change. Berbagai ruang membaca  dan menulis sudah dijawab oleh zaman dengan sederet media sosial yang ada. Facebook, Twitter, Instagram, serta media online lainnya yang memberikan ruang bebas untuk kita budayakan budaya literasi.

Salah satu komununitas di kota Malang yang bernama Gubuktulis, mengadakan Kegiatan Sekolah Literasi terhadap pemuda di era milenial. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai Universitas di Kota Malang dan Sekitarnya. Mahasiswa yang tergabung dalam kegiatan ini tentunya dari berbagai daerah yang berbeda. Kegiatan ini dilaksanakan di Perpustakaan Anak Bangsa yang bertepatan di desa  Sekarpuro Kecamatan Jabung Kabupaten Malang. Komunitas tersebut berharap agar kegiatan ini dapat memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa milenial dan dapat menekankan bahwa kebhinekaan itu bisa terjadi dalam keberagaman.

Adanya sekolah literasi, mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan berliterasi dengan baik. Literasi tidak hanya membaca. Ada ranah lain yang berhubungan dengan literasi, yakni menulis dan berargumentasi. Menulis menjadi hal penting bagi mahasiswa. Tugas dan kewajiban dari mahasiswa. Makalah,esai,resume, dan juga tugas akhir (skripsi). Semua hal itu tentu membutuhkan keahlian dan kepandaian dalam menulis. Menulis tidak hanya menorehkan kata-kata ke dalam sebuah media. Namun, ada hal yang kebih kompleks dari itu. Butuh proses berpikir dan sistematika dalam menulis suatu hal. Banyak orang pandai dan memiliki banyak pengetahuan saat ini. Namun, semua itu akan sia-sia bila ia tidak menulis. mahasiswa juga saling bertukar pendapat, karena di kegiatan tersebut terdapat berbagai mahasiswa dari berbagai daerah. Tentunya mereka saling berdiskusi dan berkolaborasi. Hal ini dapat di kaitkan dengan Pluralisme. Mengapa dengan Pluralisme?Iya, karena akhir-akhir ini semangat keberagaman dan perbedaan dikalangan pemuda mulai luntur. Hal itu dibuktikan dengan beredarnya berita tentang mahasiswa yang terlibat dalam isu Pluralisme. Selain itu, di bidang Pendidikan tidak ada kebijakan yang mendukung kebhinnekaragaman bangsa Indonesia.

Hal ini membuat saya memiliki pendapat bahwa dengan adanya diskusi dan kemauan untuk saling mengenal serta memahami bisa menghindarkan sebuah konflik dan meningkatkan keharmonisan antarmahasiswa. Berdialog diperlukan untuk meluruskan kesalahpahaman dan menciptakan saling pengertian. Perlu ada tindakan nyata untuk mewujudkan keindahan kerukunan dalam kondisi yang beragam. Kita harus melihat perbedaan bukan untuk memecah, tetapi mempersatukan. Mahasiswa harus melihat perbedaan dengan lebih dahulu mencari tahu tentang perbedaan itu, lalu mengenalnya dengan baik. Dengan mengenal dan merasa menjadi bagian dari perbedaan itu, mahasiswa dapat melakukan apa saja yang mendukung pluralisme sebagai alat pemersatu bangsa. Mahasiswa dapat menulis opini di banyak media, mahasiswa dapat membuat forum-forum diskusi kecil dan pada akhirnya mahasiswa bukan lagi orang yang enggan membantu orang lain jika mereka berbeda.

Secara umum, di Indonesia  belum terlalu masalah dengan pluralisme. Namun, tren-nya mencemaskan karena toleransi berkurang. Hal ini terutama terlihat dari kalangan menengah di negeri ini yang bersikap pasif ,diam,dan membiarkan masalah berlangsung. Kalangan yang intoleran tidak bertambah jumlahnya. Mereka tetap kecil, tetapi konsisten hidup dan dapat memengaruhi mereka yang toleran. Lebih parah lagi. Pemerintah membiarkan kondisi ini berlangsung. Pemerintah tidak punya kebijakan yang afirmatif mengenai pluralisme. Malah pemerintah cenderung ke satu golongan tertentu. Seharusnya pemerintah lebih menegakkan lagi kebijakan mengenai pluralisme. Karena pluralisme merupakan wujud dari nilai-nilai Pancasila, utamanya adalah sila ke-3, yaitu Persatuan Indonesia. Maka dari itu, baik pemerintah, mahasiswa dan seluruh warga Negara Kesatuan Republik Indonesia,Kita semua adalah pilar-pilar penopang keberagaman yang sudah seharusnya menyadari dan menumbuhkan sikap saling menghargai antar sesama. Perbedaan akan menjadi lebih indah bila disikapi dengan benar, keberagaman akan membahagiakan semua orang bila dipahami dengan baik. Saatnya mahasiswa berbaur dalam keberagaman, menjaga pluralisme bangsa kita.

 

Penulis: Winda Aulia Dwiyanti

Mahasiswi Fisika UIN Malang, Sarjana Sekolah Literasi 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here