Dalam kehidupan ini tidak terlepas dengan yang namanya cinta, baik cinta terhadap sesama, cinta terhadap alam, serta cinta terhadap Tuhannya. Dan secara umum, cinta itu selalu melekat pada keindahan dan keindahan itu identik dengan penglihatan kita dalam memandang. Ketika kita mengitari keindahan alam, katakanlah pegunungan yang sejuk dan indah itu, coba kita lakukan semacam refleksi atau perenungan terhadap apa yang telah kita lihat seraya berkata “Jika kau sekadar memandang panorama alam tanpa memikirkan siapa yang menciptakan. Maka, ketahuilah yang kau pandang tidak lah lebih indah daripada yang menciptakan”. Setelah kita melakukan perenungan, jadi apa sebenarnya cinta itu, apa definisi final dari cinta itu. Lebih lanjut, baiknya kita mulai dari yang fundamental terlebih dahulu. Perihal definisi, semua bisa didefinisikan kecuali cinta, karena cinta itu sumber dari semua definisi. Jadi enersi utama yang menghidupkan kita itu namanya cinta. Karena itu definisi yang melindungi definisi yang lain. Semua definisi basisnya adalah cinta. Kesimpulannya, cinta adalah satu-satunya enersi yang membuat dunia ini berputar. Jadi, kalau kita melakukan rekonstruksi atau telaah secara mendalam, pada intinya cinta tidak dapat didefinisikan.
Kendati, banyaknya interpretasi definitif yang beredar seputar cinta, itu hak masing-masing individu untuk menginterpretasikannya, tidak ada yang keliru dengan interpretasi itu. Misal seorang filosof mengatakan bahwa cinta adalah sakit jiwa yang membahayakan. Itu merupakan interpretasi biasa. Persoalannya sekarang yang perlu kita selami adalah bagaimana penggunaan atas dasar cinta itu, dan bukan atas kata-kata. Hal ini lah yang menarik serta menjadi inti dari tulisan ini. Dalam pandangan cendekiawan, khususnya cendekia Muslim seorang sufisme, yaitu, Jalaluddin Rumi. Cendekia tersebut dikenal dengan upaya kecintaannya untuk menggapai Tuhannya (teologis).
Jalaluddin Rumi adalah seorang sufi besar sepanjang zaman yang telah membaktikan lebih dari separuh hidupnya untuk mencari kebenaran-kebenaran terdalam dari ajaran agama. Rumi merupakan satu pribadi dari sedikit pribadi di bumi ini yang memiliki kesadaran universal dan telah mewarnai kehidupan serta peradaban manusia dengan kemuliaan cinta. Kemudian pertanyaan tajamnya ialah, lantas apa relevansinya pemikiran Rumi bagi sekarang, khususnya bagi kita sebagai pembaca dan yang menikmati pemikiran Rumi? Abdul Hadi W.M melalui artikel berjudul “Pesan Profetik Matsnawi Karya Agung Jalaluddin Rumi” mengemukakan jawaban yang meskipun sudah disampaikan beberapa tahun silam kiranya masih cukup relevan untuk dijadikan sebagai jawaban dari pertanyaan di atas. Dalam artikel tersebut, Abdul Hadi mengutip pandangan Muhammad Iqbal dalam sajak “Kepada Matahari Yang Menerangi Dunia” yang secara khusus ditujukan kepada Rumi, di mana Iqbal menyebut Rumi sebagai Raushan Damir, yaitu orang yang memiliki penglihatan rohani yang tajam sehingga mampu membaca rahasia hati dunia dan peristiwa-peristiwa kemanusiaan yang tersembunyi. Pikiran-pikiran Rumi yang profetik (mengandung pesan kenabian) memiliki tenaga pembebasan dan pencerahan, terutama bagi mereka yang bersedia meresapi ajaran Rumi secara radikal.
Ada lima pikiran Rumi yang diajukan dalam agenda pengupayaannya demi mencapai esensialitas, Pertama; Menurut Iqbal, Rumi mengajarkan bahwa masyarakat tidak dapat didorong manjadi aktif tanpa apa yang disebut sukr dan junon, yaitu keadaan jiwa dan pikiran (state of mind) yang diliputi rasa mabuk kepayang dan antusiasme ketuhanan. Sebagai keadaan jiwa dan pikiran yang menguasai diri seseorang, keduanya timbul dari dorongan cinta yang kuat sehingga seseorang menjadi berani menggapai sebuah cita-cita walaupun harus menempuh berbagai kesukaran serta menuntut pengorbanan diri. Kedua; Pada zaman modern ini begitu banyak orang yang lupa bahwa jiwa dan rohani sebenarnya lebih penting dari benda-benda. Dalam konteks tersebut, Rumi mengajarkan bahwa pikiran tidak bermanfaat jika tidak didasari oleh spiritualitas. Ketiga; Rumi senantiasa mengingatkan bahwa masyarakat yang sedang mengalami krisis multidimensi perlu mempelajari kembali nilai-nilai kerohanian dari agama, bukan sekadar mempelajari bentuk formal peribadatannya, aspek legalistik formal, dan bentuk doa-doanya. Keempat; Rumi mengatakan bahwa jika manusia telah berhenti menjadi makhluk kerohanian dan cenderung menjadi makhluk kebendaan, maka ia akan mudah dilanda nihilisme dan keputusasaan yang hebat. Kelima; Agar manusia selamat maka tujuan hidupnya harus ditegakkan di atas keabadian atau nilai-nilai yang abadi, dan bukan di atas kesementaraan atau nilai-nilai yang bersifat sementara. Segala yang bersifat sementara, seperti halnya tubuh jasmani, mudah lapuk, begitu pula dengan materialisme, hedonisme material, konsumerisme, relativisme budaya, oportunisme dan seterusya.
Tidakkah dari ke-lima pikiran cemerlang Rumi itu dasarnya adalah cinta, yaitu Rumi sedang menagih seseorang untuk senantiasa berada pada jalan pecinta. Bukankah Tuhan telah menganugerahi kepada kita semua, yaitu dengan memfasilitasi akal dan jiwa, akal sebagai kegiatan berpikir membedakan yang baik dan yang buruk, serta jiwa ditugaskan untuk melakukan aktivitas perenungan, yaitu perenungan terhadap sang pencipta. Dalam pikiran Rumi yang lain misalnya, ia pernah mengatakan Sufisme adalah “seorang laki-laki maupun perempuan yang telah patah hati terhadap dunia”. Jika kita artikulasikan secara filosofis, tentu suatu keadaan patah hati itu tidak dinobatkan terhadap sakit kepada seseorang, melainkan ia tidak lagi memperdulikan keindahan dunia, kemegahan dunia, dan kemewahan dunia beserta isinya. Dalam tanda kutip bukan tidak perduli terhadap dunianya, melainkan ia menggunakan dunia itu sekadarnya saja, dan menjadikan dunia itu sebagai alat untuk menuju kehidupan selanjutnya, sebab kehidupan di dunia ini hanya sementara dan tidak kekal, sungguh kehidupan dunia itu hanyalah panggung sandiwara dan penuh tipu daya.
Mari kita hayati Syair berikut, salah satu bentuk luapan cinta spiritual Jalaluddin Rumi yang begitu mendalam:
Aku mati sebagai mineral, dan menjelma sebagai tumbuhan, aku mati sebagai tumbuhan, dan lahir kembali sebagai binatang, aku mati sebagai binatang dan kini manusia, kenapa aku harus takut? maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.
Sekali lagi, aku masih harus mati sebagai manusia, dan lahir di alam para malaikat, bahkan setelah menjelma sebagai malaikat, aku masih harus mati lagi, karena, kecuali Tuhan, tidak ada sesuatu yang kekal abadi.
Setelah kelahiranku sebagai malaikat, aku masih akan menjelma lagi, dalam bentuk yang tak kupahami, ahh, biarkan diriku lenyap, memasuki kekosongan, kesunyataan, karena hanya dalam kesunyataan itu, terdengar nyanyian mulia, kepadanya, kita semua akan kembali.
Sekarang, pertanyaan pembaharuannya adalah mampukah kita sebagai regenerasi milenial untuk mengagendakan ulang enersi cinta sebagaimana mestinya, layaknya cendekia di atas. Sepanjang pengembaraan penulis dalam menganalisa terkait konsep cinta generasi milenial yaitu, berbanding terbalik, artinya generasi milenial masih belum cukup mampu atau enggan menerjemahkan ulang cinta spiritualitas yang telah diejawantahkan oleh para cendekia sebelumnya. Padahal konsep cinta sebetulnya adalah konsep cinta spiritual yaitu pengembaraan hamba terhadap Tuhannya. Bukan pengembaraan cinta terhadap sesama (manusia). Secara antropologi memang manusia dasarnya adalah ambisi, keinginan. Biasanya ketika sedang berambisi membuat manusia lupa akan segala hal dan ketika menginginkan sesuatu biasanya pula keinginannya banyak (beraneka ragam). Dua hal animo itu akar permasalahannya adalah terlalu cinta pada dunia, sifat keduniawian inilah yang membuat kita terhalang dan tidak bisa mencapai yang esensial.
Bagi milenial konsep cinta adalah kepada sesama yaitu laki-laki mencintai perempuan begitu sebaliknya secara paradoks. Sang lelaki rela bertatih-tatih demi yang dicintainya, begitu berlaku hal yang sama bagi si perempuan. Milenial rela bangun pagi-pagi petang hanya demi menjemput kekasih di stasiun sana, milenial pun rela kehujanan, memakaikan jas hujannya demi kekasih agar kekasih tidak kehujanan dan kedinginan, sang milenial rela mengerjakan makalah kekasih tanpa diminta, padahal makalah sendirinya belum dikerjakan. Kita rela berkorban demi kekasih, asal kekasih bahagia adalah merupakan kebahagiaan kita jua. Ini adalah bagian dari porosnya cinta, tidak ada yang salah dengan konsep cinta milenial hanya saja penempatannya yang tidak tepat. Maka, dari sini berlaku lah hukum kebalikan, yang dulu pernah disebut oleh Filsuf Alan Watts, sang filsuf tersebut berkata “Hasrat untuk mengejar semakin banyak pengalaman positif sesungguhnya adalah sebuah pengalaman negatif. Sebaliknya, secara paradoksal, penerimaan seseorang terhadap pengalaman negatif justru merupakan sebuah pengalaman positif”. Lebih sederhana, Menginginkan pengalaman positif adalah sebuah pengalaman negatif, menerima pengalaman negatif adalah sebuah pengalaman positif. Sebab, perjalanan kehidupan ini dasarnya adalah empirisme yaitu atas dasar pengalaman. Andai saja milenial mau membalikkan keadaan perlakuan atas sang kekasih tadi. Maka, milenial besar kemungkinan bisa menjadi sufi. Sebab syarat mutlak agar menjadi sufi adalah mencintai selain Tuhan.
Jadi dapat dikonklusikan, mau dibawa kepada ketaatan atau pengingkaran, serta tinggalkan atau bawa ia dalam kebaikan. Sebab jika kau mengingkari, maka kekasihmu inilah yang menjadi penghalang untuk menggapai hakikat cinta, karena engkau tidak mampu mengendalikannya. Namun apabila engkau menaatinya, maka engkau pergi bersama kekasih menuju sang kekasih.







