Telaah Teori Negara: Upaya Kritis Memahami Relasi Kuasa

0
235

Buku : Teori Negara (Negara, Kekuasaan dan Ideologi)

Pengarang : Arief Budiman

Tebal Halaman: 132

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : 1996

Bagi kalian yang penasaran bagaimana negara ini berada ditangan Bapak Jokowi dengan jajaran para kabinetnya, bagaimana bentuk kekuasaannya beroperasi dan ideologi apa yang menjadi basisnya dalam mengoptimalkan peranannya. Saya merekomendasikan buku singkat karya Mas Arief Budiman tentang Teori Negara (Negara, Kekuasaan dan Ideologi).

Buku simpel ini pembahasannya sangat mudah dipahami, sehingga menggugah banyak perdebatan sengit di dalamnya. Terlebih dalam membaca buku ini, kita diajak bercengkerama dalam membahas realita yang penuh pertentangan.

Ibarat dalam pengadilan ilmu pengetahuan, dimana objektivitas dan idealisme kita sedang diuji ketika dihadapkan dengan realita bernama Negara, Kekuasaan dan Ideologi. Tentunya karena kita menjadi bagian daripada sistem negara itu sendiri.

Sebelum jauh melangkah mengarungi gagasan beliau, ada baiknya menggugah kesadaran kita dengan beberapa pertanyaan.

Misalnya, mengapa sih negara selalu benar dalam melakukan tindak kekerasan terhadap rakyatnya? terseok-seok ketika menghadapi para koruptor kelas kakap? Dan penggusuran lahan rakyat yang terjadi dimana-mana?

Semuanya seolah menjadi kewajiban negara dalam bertindak semena-mena terhadap rakyatnya, sesuai kehendaknya, yang tanpa tau dosa menuruti keinginan para penguasanya.

Memang benar, seperti apa yang dikatakan oleh Thomas Hobbes, Bahwa Negara adalah satu-satunya lembaga masyarakat yang mempunyai keabsahan untuk menindas, semena-mena, dan bahkan membunuh rakyatnya (Hlm.7).

Jadi, tidak heran jika ada tindakan-tindakan kekerasan terhadap warganya seperti menghilangkan aktivis tanpa jejak (Munir, Marsinah dan lainnya) dengan berkedok pada stabilitas dan keamanan negara.

Di sisi lain, Negara juga menjalankan roda kekuasaannya tidak serta-merta berjalan apa adanya, namun ada sebuah perangkat yang bernama Ideologi, sebagai sarana kekuasaan untuk beroperasi lebih mudah dan diterima oleh kalangan Masyarakat.

Ini yang kemudian di ungkapkan oleh penulis, dengan mencoba mendudukkan pemikiran Antonio Gramsci tentang teori Hegemoni (Hlm. 72).

Dengan Teori Hegemoni Antonio Gramsci inilah, kita akan melihat kekuasaan berjalan melalui sarana ideologi, yang sering dinarasikan oleh penguasa sebagai senjata untuk memenuhi kepentingannya. Contoh: ideologi yang paling gencar dan ampuh di jalankan adalah ideologi kapitalisme, dengan ideologinya Pasar bebas (Hlm.74).

Adanya pasar bebas inilah, kita akan di tuntut untuk bersaing, tanpa keraguan sedikit pun untuk menjatuhkan satu sama lainnya, bahkan kalau perlu mengusirnya dalam arena pasar bebas.

Lantas bagaimana dengan Negara kita, Indonesia? Yang telah masuk kategori dunia ketiga, dunia yang mana terbirit-birit keluar dari negara berkembang menuju ke negara maju.

Segala upaya di kerahkan, seperti pembangunan infrastruktur digencarkan, para rentenir pengusaha kapital menggusur lahan rakyat untuk mendirikan perusahaan, dan sebagainya. Kalian bisa koreksi dan menganalisis sendiri tentang perjalanan Indonesia sejak merdeka sampai sekarang.

Menariknya lagi, dalam menyampaikan gagasannya Arief Budiman sangat objektif dan berani, di tengah gelombang arus kekuasaan yang sedikit misterius. Seperti oase di tengah tanah gersang, yang tak pernah lapuk oleh ketakutan pada penguasa.

Dengan kehadiran bukunya ini, beliau memberikan pesan moral pada kita, sebagai bagian daripada sistem negara.
Sikap kritis pada kekuasaan, kritis pada kebijakan, dan kritis pada tindakan pemerintah harus kita pelihara, dan kita harus hati-hati membedakan apa yang dilakukan dan dikatakan oleh Negara.
Dari apa yang dilakukan, kita akan mampu mengetahui substansi daripada sebuah sifat negara tersebut. Dan yang di katakan kita akan jeli memahami, ideologi apa yang di jalankan melalui kekuasaan hegemoni-nya.

Penulis: Saraedi (Sarjana SL 3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here