Eksistensi Baduk Dalam Filosofi Rumah Jawa

0
278

Masih ingatkah dengan tiga kebutuhan pokok manusia yang telah dirumuskan oleh para leluhur dalam konsep Sandang, Pangan dan Papan. Tiga konsep yang secara jelas tidak hanya menjelaskan kebutuhan sebagai makhluk hidup, namun juga melambangkan kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial dan berakal.

Mungkin sebagian dari kita sudah familiar dengan sebuah retorika arab “Al-insanu hayawanun nathiq”. Sebuah retorika umum dalam ilmu Balaghoh untuk menggambarkan manusia. Dalam pernyataan Balaghoh, manusia (Insan) termasuk  salah satu makhluk hidup, tumbuhan dan hewan (hayawan), yang menghiasi dunia ini bersama dengan makhluk mati. Seperti halnya hewan, manusia membutuhkan makanan (Pangan) untuk mempertahankan hidupnya dan tempat berteduh (Papan) untuk melindungi diri dari lingkungan ekstrem. Namun, disamping itu Tuhan memberikan manusia sebuah keistimewaan lebih bernama akal untuk dapat berfikir secara rasional (natiqun) yang menjadikan manusia berada satu tingkat diatas makhluk lainnya. Dengan akal inilah manusia kemudian menciptakan sebuah pakaian (Sandang) untuk melindungi “kehormatan” mereka sebagai makhluk yang berakal.

Tidak seperti hewan, sifat nathiq yang dimiliki oleh manusia memungkinkan dirinya untuk menyempurnakan tiga kebutuhan pokok yang diperlukannya, tidak hanya sebatas kebutuhan lahiriyah, namun juga kebutuhan batiniah. Berbagai macam penyempurnaan yang telah dilakukan oleh manusia dalam memenuhi kebutuhan pokok. Pada akhirnya penyempurnaan itu terus berkembang hingga mencapai taraf terciptanya sebuah ilmu.

Sebagai contoh, ketika hewan lainnya makan secara langsung, manusia mengembangkan kebutuhan pangannya dengan memasaknya sehingga terlahirlah istilah memasak. Begitu juga dengan tempat berlindung, disaat hewan lainnya hanya memerlukan sarang atau memasuki lubang untuk melindungi diri, manusia mengembangkan tempat berlindungnya sampai tercipta sebuah rumah.

Kandungan filosofis dalam tradisi

Tidak berhenti sampai titik itu, kemampuan nathiq manusia mampu menambahkan unsur-unsur filosofis dari apa yang dikembangkannya. Khususnya orang jawa. Sebagai contoh kue “apem” pada tujuh hari peringatan kematian seseorang yang diambil dari bahasa arab afwan (maaf), ataupun “kupat” yang biasa digunakan orang pada saat tujuh hari pasca hari raya lebaran, merupakan akronim dari dua kata jawa ngaku dan lepat (mengakui kesalahan).

Tidak hanya makanan, papan/tempat tinggal pun tidak terlepas dari pemaknaan filosofis dalam pembangunannya. Namun dalam konteks papan, tata letak dan bentuk sebuah bangunan menjadi komponen utama yang disasar untuk disisipi unsur filosofis di dalamnya. Pemusatan perhatian pada bagian tumah yang tergolong dalam hal-hal vital menjadi fokus utama dalam penyisipan unsur filosofis dalam pembuatan rancang bangun sebuah rumah. Hal-hal yang sering nampak pada desain rumah zaman dahulu seperti tata letak dari kamar mandi dan sumur yang berjauhan dapat diartikan sebagai sebuah upaya untuk menjaga kualitas air yang notabennya merupakan unsur utama dalam pemenuhan kebutuhan hidup.

Selain itu tata letak kamar mandi dan sumur, dewasa ini kita sering melupakan hal-hal kecil seperti keberadaan baduk atau sebuah pagar kecil setinggi paha yang berada di teras rumah yang sering digunakan sebagai tempat berkumpul. Sedikit berbeda dengan kamar mandi dan sumur, baduk tidak termasuk dalam komponen vital yang patut untuk diperhatikan lebih, sehingga orang-orang cenderung mengabaikan keberadaannya dalam membangun sebuah rumah. Dalam pemaknaannya, letak baduk yang berada di teras rumah menjadikannya sebagai fasilitas pendukung sebuah rumah untuk memenuhi kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial. Baduk sering difungsikan sebagai sebuah tempat berkumpulnya tetangga yang ingin berkunjung ke rumah hanya untuk sebatas bersenda gurau sembari menikmati semilir rayuan angin. Pada akhirnya fungsi baduk sendiri dapat memperluas fungsi rumaha tidak sebatas tempat berkumpul keluarga, melainkan sebagai tempat aktivitas sosial yang diperuntukkan tuan rumah untuk tetangganya.

Berbeda dengan ruang tamu yang berada didalam rumah, baduk lebih fleksibel penggunaannya karena tidak diperuntukan untuk menjamu tamu secara “formal”. Keunggulan lain yang dimiliki  oleh baduk yaitu dalam hal  menyesuaikan diri dengan beberapa situasi yang mengharuskan seorang tuan rumah menerima tamu sebatas diluar. Seperti ketika ada tamu perempuan atau disaat ruang tamu masih digunakan untuk keperluan lain. Dengan kata lain bukan berarti fungsi dari ruang tamu tergeser dalam sebuah rumah, melainkan hal ini menunjukkan diperlukannya second place atau secondary option dalam sebuah rumah yang berfungsi untuk menyesuaikan diri dalam menjamu tamu tanpa mengganggu aktifitas kegiatan didalam rumah.

Refleksi zaman modern

Syahdan, dewasa ini sangat disayangkan, tidak seperti makanan eksistensinya masih terawat, keberadaan baduk dalam sebuah rumah mulai tergeser dengan bentuk-bentuk rumah modern yang hanya memiliki teras. Fungsi-fungsi sederhana semacam ini yang tersebar diseluruh rumah sering kita lupakan ketika sedang membangun rumah. Sehingga secara perlahan kita mulai kahilangan kakhususan untuk menggambarkan identitas diri kita sebagai seorang manusia Nusantara.

Alhasil, dikala para bangsa lain sedang sibuk meneliti dan mengembangkan kebudayaan mereka keseluruh dunia, kita lebih memilih budaya-budaya baru dan mulai mengesampingkan ke-ciri khas-an kita sendiri sebagai manusia merdeka.

* Penulis: Moh. Za’im Sholihul Abror

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here