Go Moon Young yang berprofesi sebagai seorang penulis buku anak pada drama korea its okay to not be okay dikisahkan mengalami peristiwa traumatik dimasa lalu yang melatarbelakangi dia memiliki gangguan kepribadian antisosial dengan sifatnya yang dingin tanpa empati kepada orang lain. Drama tersebut menegaskan bahwa manusia memang tidak pernah terlepas dari pengalaman masa lalunya. Pengalaman-pengalaman tersebut akan menjadi citra tentang bagaimana kepribadian itu terbentuk.

Hal yang patut diakui adalah bahwasanya kita semua pasti pernah mengalami peristiwa-peristiwa tidak menyenangkan, dimulai dari hal remeh hingga peristiwa pada level berat. Respon seseorang terhadap stimulus nyata merupakan persoalan personal. Dan akan menjadi masalah ketika seseorang mengalami ketegangan dalam merespon stimulus tidak menyenangkan tersebut, sehingga ego yang berfungsi sebagai penyaring antara id dan superego (dalam teori Freud) tidak mampu memberikan pertahan diri (defense mechanism) yang baik sebab daya represinya terbatas, hal tersebut akan membuat rasio mengalami proses belajar “generalisasi” yang terjadi dalam alam bawah sadar.

Proses generalisasi ini akan berjalan dalam kemampuannya mengingat dan mengasosiasikan antara pengalaman dimasa lalu dengan pengalaman nyata saat ini, sehingga kemunculan respon negatif dari asosiasi pengalaman tidak menyenangkan tersebut disebut sebagai peristiwa traumatik. Pengalaman traumatik ini dapat berupa ditinggal orang dicintai dengan cara tidak biasa, kecelakaan, bencana alam, mengalami bullying, kekerasan fisik, seksual dan lain sebagainya. Pengalaman-pengalaman traumatis tersebut memungkinkan seseorang mangalami gangguan-gangguan tertentu yang dimulai dari ketakutan, kecemasan, depresi, panic disorder, phobia, dan gangguan-gangguan lainnya. Oleh karena pengalaman dimasa lalu tidak bisa diubah, maka cara tebaik untuk menyikapi hal traumatik adalah dengan cara berdamai dan menerimanya tanpa penyangkalan (denial). Sebuah proses resiliensi yang panjang dan melelahkan. Tentu saja.

Proses berdamai dan menerima dapat dilakukan dengan cara menerapkan konsep Mindfulness, yakni sebuah langkah untuk menghumanisasi diri sendiri melalui teknik penyadaran penuh akan emosi-emosi yang dirasakan, baik berupa emosi negatif maupun emosi positif. Pada teknik ini kita dituntut untuk mengenali emosi dan menerimanya tanpa sedikitpun melakukan denial terhadap jenis emosi yang dirasakan. Tentu pengaplikasian dalam melakukan mindfulness tidak semudah narasi yang digaungkan sebab kita akan mungkin dihadapkan pada kegagalan dan inkonsistensi yang memicu munculnya rasa frustasi. Untuk itu, dalam prosesnya dibutuhkan ketangguhan diri dalam beradaptasi. Proses adaptasi yang dilakukan tidak mengenal baik dan buruk karena menemukan cara untuk tetap bertahan dan konsisten merupakan proses perjalanan personal. Seperti halnya Si Go Moon Young yang berhasil bertahan dan sembuh dari luka psikologisnya ketika bertemu cinta sejatinya bernama Moon Gang Tae. Pun dengan diri kita yang akan menemukan cara bertahan sesuai versi diri.

Langkah berdamai dan menerima merupakan wujud dari ketidakerdayan dan kerapuhan kita sebagai manusia untuk hal-hal yang tak dapat dikendalikan. Sebuah langkah yang dinilai efektif dalam mengurangi ketegangan, sehingga dalam hal ini kita dapat melakukan pemaknaan kembali atas perasaan irasional yang dirasakan. Dengan berpedoman pada pemikiran eksistensialis yang berpandangan bahwa manusia adalah makhluk yang bebas dan bertanggung jawab. Tentu hal tersebut dapat menjadi oase hati dan pikiran karena dalam kebebasan berkehendak terdapat sikap optimisme bagi manusia untuk kembali eksis (mengada). Perlahan, ketika manusia sudah memiliki sikap optimis dalam mereparasi apa yang rusak dan merawat apa yang perlu dirawat maka ia akan mampu berpikir secara sehat untuk merapikan kembali identitas dirinya secara sadar (human being) serta menemukan nilai dan makna baru dalam kehidupan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here