Sang Kiai dan Negeri Pertiwi

0
129

Indonesia adalah negeri dengan banyak sejarah, 17 Agustus 2020 ini adalah tahun ke-75 negeri merdeka. Bicara tentang merdeka memang terdengar bahagia, ya bagaimana tidak, setiap memasuki bulan Agustus saja di daerah penulis ramai dengan antusias masyarakat yang memasang bendera merah putih di sepanjang jalan, mengecat paving gang dengan warna merah putih, menghias jalanan, mengadakan beraneka macam lomba, dan lain sebagainya. Tentunya antusias tersebut dilatar belakangi perjuangan memerdekakan bangsa Indonesia bukan? Dan kali ini penulis akan sedikit mengulas tentang salah satu film yang menceritakan perjuangan ulama dan santri yang sangat berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Mungkin film ini sudah sangat terkenal di kalangan anak pesantren.

Sang Kiai
Sang Kiai, film yang dirilis pada tanggal 30 Mei 2013 ini merupakan film yang disutradarai oleh Rako Prijanto dan juga sudah mendapat berbagai penghargaan, permulaan film ini menceritakan tentang Tebuireng di tahun 1942, ketika dulu pendaftaran seorang santri untuk nyantri di tebuireng dengan hasil bumi. Dan ada seorang pribumi belum memiliki hasil pribumi tapi sangat menginginkan anaknya nyantri di Tebuireng, dan sempat ditolak oleh santri yang bertugas mencatat santri-santri baru, tapi yai Hasyim pun tetap menerima anak pribumi tersebut dengan dawuh “waAllahu khoiru rozikin, Allah itu sebaik-baiknya pemberi rizki, pak anak bapak diterima nyantri disini” seketika bapak pribumi mencium tangan yai Hasyim dengan berucap “maturnuwun Hadratusyaikh”.

Kedatangan Jepang
Dalam film ini juga menceritakan kedatangan Jepang yang menyebut dirinya sebagai saudara tua Indonesia dan disambut bahagia oleh masyarakat Indonesia. Namun tiga bulan setelah kedatangan Jepang, terjadi pelarangan pengibaran sang saka merah putih dan pengumandangkan lagu Indonesia Raya. Dan mulai memperdengarkan Kimigayu dan pengibaran bendera Jepang serta sekaligus memerintahkan rakyat Indonesia untuk seikere, menyembah dewa matahari. Tapi hal tersebut tidak menggoyahkan yai Hasyim, karena menurut yai apapun yang menyangkut persoalan akidah tidak bisa diganggu gugat, hal tersebut mengakibatkan yai Hasyim ditangkap pasukan Jepang karena disebut penghasut rakyat untuk tidak melakukan seikere.

Putra yai Hasyim, KH Wahid Hasyim dengan KH Wahab Hasbullah Tambak Beras melakukan diplomasi dengan Jepang agar yai Hasyim bisa dibebaskan. Para santri pun ikut demo menyuarakan agar yai Hasyim dibebaskan. Namun hasilnya nihil, bahkan yai Hasyim tetap disiksa dan dipukuli jari-jarinya menggunakan palu.

Perjuangan Kemerdekaan
KH Wahid Hasyim dan KH Wahab Hasbullah melakukan pertemuan kembali dengan pihak Jepang yang menghasilkan beberapa hal, perubahan strategi politik dengan berpura-pura bekerja sama dengan pemerintah Jepang, memanfaatkan fasilitas Jepang untuk persiapan kemerdekaan, dan dibentuk panitia pembelaan untuk ulama-ulama NU yang ditangkap Jepang. Kemudian Sumubhu dan Masyumi diputuskan menjadi satu dibawah satu kepemimpinan dengan yai Hasyim sebagai pihak yang diminta Jepang untuk memimpin, yai Hasyim pun menerima dengan pemikiran akan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari dalam dan dengan harapan dapat mengambil kebijakan yang tidak merugikan rakyat.

Jepang membacakan janji kemerdekaan Indonesia, karena kedudukannya semakin goyah dan membutuhkan dukungan penuh dari rakyat Indonesia. Pihak Jepang pun meminta agar para santri belajar militer dan membantu Jepang dalam perang. Yai Hasyim membolehkan jika santri dilatih militer dengan syarat sebatas menjaga pertahanan dalam negeri dan membentuk barisan sendiri, barisan Hisbullah.
14 Agustus 1945, Jepang menyerah dengan sekutu, Bangsa Indonesia memanfaatkannya dengan memerdekakan diri yang mana dalam film ini digambarkan dengan penyerangan rakyat Indonesia dan suara naskah proklamasi Bung Karno.
Saat itu yai hasyim pun berkata kepada KH Wahid Hasyim “kita tidak boleh membiarkan kafir mengambil alih negeri kita kembali, motif agama adalah yang paling tepat untuk digunakan saat ini lalu motif nasionalisme”, dan ditambah oleh KH Wahid Hasyim bahwa agama dan nasionalisme bukanlah dua kutup yang bersebrangan, nasionalisme adalah bagian dari agama. Hingga suatu ketika pasukan sekutu mendarat di Indonesia, dan ada pesan dari Bung Karno untuk yai Hasyim terkait apa hukum membela tanah air, bukan membela Allah, atau membela islam, lalu tercetuskanlah fatwa Jihad hukum membela tanah air dan melawan penjajah adalah fardlu ain.

Bung Tomo
Bung Tomo pun mendapat pesan dari yai Hasyim untuk mengawali dan mengakhiri pidatonya dengan menyebut nama Allah. Pidato tersebut menyeru arek-arek Suroboyo untuk tetap melawan penjajah Inggris yang meminta Indonesia melakukan genjatan senjata dan menyerah. Tanggal 10 Nopember pun diperingati sebagai Hari Pahlwan karena petempuran besar terjadi di Surabaya dengan pekikan teriakan Takbir dari Bung Tomo, arek-arek Suroboyo berhasil mempertahankan tanah kelahirannya dari rongrongan Inggris atau Sekutu.

Sang Kiai dan Usaha Mempertahankan Kemerdekaan
Yai Hasyim pun sempat meminta putranya yai Yusuf Hasyim untuk mengajari yai menembak dengan harapan lebih baik mati melawan atau membunuh satu dua Belanda karna waktu itu dikabarkan Belanda segera datang, daripada harus di tawan Belanda, yang setelahnya yai menemui utusan Jendral Sudirman yang meminta petuah yai terkait sepak terjang Belanda. Memikirkan hal tersebut membuat yai berpikir keras hingga tak sadarkan diri dan meninggalkan bangsa untuk selamanya pada 1947 ditengah perjuangan bangsa mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Akhir dari film ini adalah narasi dimana Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada tanggal 27 September 1949.

Menurut sudut pandang penulis, film ini sangatlah menumbuhkan jiwa nasionalisme dan jika di era sekarang mungkin mampu memberikan motivasi pemuda pemudi untuk mengharumkan nama negeri melihat begitu beratnya perjuangan dalam memperjuangkan dan memepertahankan kemerdekaan Indonesia, atau menumbuhkan jiwa semarak kemerdekaan untuk menghormati perjuangan para pahlawan, dan penulis rasa setiap detail dari film ini mengandung pesan moral kebaikan, seperti halnya dalam dialog antar tokoh, perilaku antar tokoh, pun narasi yang kadang tertuliskan di pojok kiri film yang membantu penonton memahami lebih terkait peristiwa sejarah. Sebenarnya untuk menulis ulasan terkait film ini akan sangat panjang karena banyaknya hal penting dalam film ini, namun hanya penulis ulas beberapa bagian saja. Semoga bermanfaat dan semakin menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here