Setiap hari. Hampir saja aku selalu diajak ke jalur mainstream yang penuh tikungan, tanpa jejak. Sering kali berujung pada kekecewaan akut. Hampir bersamaan pula sebuah pertanyaan yang tak henti-hentinya mendobrak isi hati, buat apa terus menerus mengikuti arus utama? Dalam hal ini, media menjadi corong yang paling efektif untuk merekrut jutaan penikmaknya.

Padahal aku juga ingin menggelindingkan sesuatu yang masih sangat dianggap asing di negeri yang kapital yang nggak kapital amat dan disebut sosialis yang rupanya masih sekedar bunyi ringkas. Seperti ketukan pintu. Keras awalnya, berakhir setelahnya.

Yang ingin aku menangkan, sebenarnya bukan hanya aku–berharap pula bisa menjadi arus utama–dan sudah sering aku gelindingkan adalah menulis dan membaca. Ya, menulis dan membaca. Berkaryalah intinya.

Syukur-syukur kalau nantinya bisa jadi mainstream pula dari timur hingga ke barat perbatasan negeri maritim ini. Nggak kebayang jika status di dinding facebook tidak hanya harga cabai atau telur, bagi pedagang di pasar. Tidak hanya ribut strategi politik macam apa pula, bagi birokrasi di gedung apapun. Atau juga keluh kesah peluh bagi tukang becak, sopir angkot, bahkan sopir truk lintas provinsi.

Yang ada kemudian adalah kenapa Andrea Hirata bisa menginspirasi orang-orang desa untuk pergi ke Paris. Mengisi kekosongan dunia sastra, atau sengaja dipinggirkan. Setelah sebelumnya hadir Ayat-ayat Cinta yang ‘memalaikatkan’ sosok Fahri menggelindingkan diri dari novel ke layar lebar. Habiburrahman seolah jadi HAMKA di awal pembukaan era millenium.

Baik. Kiranya buku ‘Guruku Orang-orang Pesantren’, perlu dibuka lagi. Dibaca lebih detail kemudian. Di sana ada satu adegan seorang pedagang. Sambil menantikan pelanggan atau konsumen baru, ia menyibukkan diri dengan membaca kitab kuning. Karangan memang. Tapi siapa nyana kalau itu menjadi sumber inspirasi?

Seorang teman wartawan yang belum genap setengah dekade melakoni tugas jurnalisnya, bilang: Bob Dylan, musisi dan penulis lagu meraih nobel sastra. Lalu kamu masih berpikir sastra itu hanya novel? Yaya itu kesalahanmu. Menggelitik sekali status dia pada dinding facebook-nya.

Mungkin ia berharap ingin jadi musisi atau penulis lagu. Tak ingin pula jika hanya novel yang didewakan sebagai ukuran sastra. Tapi ia telah selesai dengan buku kumpulan esainya, dan terus sibuk dengan kata dan bahasa jurnalistik untuk koran lokalnya, sebagai redaktur.

Jauh dari tempat ia bekerja. Seorang pedagang kaki lima. Tak peduli angin malam menampar wajahnya. Ia tetap tenang membaca koran. Tak ikut sumpah serapahan dan serampangan di medsos untuk menghujat orang-orang di Ibu Kota. Seperti berisyarat: membangun negeri bukan dengan berkomentar, tapi tunjukkan dengan karya!

Sayang. Seribu kali sayang, seperti lagu fatwa pujangga, kemanakah risalah kualamatkan?

Roihan Rikza (pegiat literasi pesantren dan kebudayaan)

Kepanjen, 15 Oktober 2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here