Corona,
Kau sengaja datang
Tanpa undangan
Tanpa tanda-tanda
Membawa kegaduhan,
Kematian,
Melenyapkanku.
Di manakah. Dimanakah. Di mana kah?
Diriku saat ini?
Hilang.
Inilah situasi di mana aku tak lagi menjadi Aku.
Aku dan aku yang lain tak lagi menjadi kita.
Ketika gema doa tak dapat lagi ku dengar.
Ketika laju angin tak mampu ku tahan.
Begitu kiranya detak jantung melambat.
Seakan memaksa ku berhenti.
Sebut saja Irama.
Daun kering jatuh dan terhempas.
Keinginannya kah?
Tentu saja bukan.
Dia mencintai rantingnya, tanpa henti!
Untuk itu daun akan selalu datang,
walau tahu akan terlepas lagi.
Kini Aku jadi Daun yg kering.
Bukan lagi.
Aku kering.
Membusuk-hilang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here